
Sesuai permintaan Theo, Kris pun mengantarnya ke rumah sakit. Hanya saja hasil dari pemeriksaan tidak ada yang aneh dengan kesehatan Theo, dokter mengatakan kalau Theo normal-normal saja. Jantungnya tidak bermasalah.
Theo yang merasa tidak demikian tentulah tidak puas dengan jawaban dokter. Tapi apa mau dikata, ketika orang dewasa sudah berbicara maka tertutup mulut remaja yang kadang ditatap sebelah mata, terlebih lagi dokter yang didatanginya ini adalah sepupu dari Kris.
"Kamu tunggulah di mobil, Daddy mau bicara sama Arman," ujar Kris ketika sudah ada di ambang pintu.
Theo pun dengan lesu mengangguk, kakinya melangkah gontai menurut parkiran. Tidak habis pikir dia kenapa dibilang tidak apa-apa sedang dirinya sering mengalami insomnia, keringat dingin dan jantung berdebar. Dan gejala itu semakin parah semenjak tadi pagi.
"Nggak terasa dia udah sebesar itu," ujar Arman yang direspon Kris dengan anggukan. Mereka sama-sama menatap punggung Theo yang menjauh.
"Bahkan tingginya saja sudah hampir menyamaiku," balas Kris.
"Aku yakin itu hanya karena dia gugup, nggak lama lagi ujian kan? Soalnya hasil pengecekan tidak ada yang salah," terang Arman lagi
"Ya aku juga mikirnya begitu, selama ini aku ngasih dia makanan yang sehat. Di rumah juga nggak ada rokok. Aku juga selalu mewanti-wanti dia agar nggak merokok dan aku yakin dia gak melanggar. Anak itu sehat, mustahil dia mengidap penyakit jantung."
"Apa mungkin dia sedang jatuh cinta?" celetuk Arman yang buat Kris menatapnya serius.
"Jatuh Cinta?" ulang Kris lalu kembali menatap punggung Theo yang akhirnya hilang ditelan belokan.
Arman mengiakan dengan anggukan, lalu bersandar di dinding. "Iya, aku curiga begitu. Mungkin dia gak sadar. Apa kamu tau cewek yang dekat sama dia?"
Kris menggeleng perlahan. "Theo jatuh cinta? Hey, mustahil," balasnya sembari melibaskan tangan.
"Gak ada yang mustahil, Kris. Kamu pernah muda, pernah jatuh cinta. Lalu kenapa anakmu gak boleh?"
"Dia terlalu muda," kilah Kris lagi.
"Soal hati gak ada yang bisa ngatur termasuk orang yang punya hati itu sendiri. The power of love."
Kris berdecak malas. "Aku gak percaya. Dia gak pernah macam-macam. Gak pernah ke mana-mana. Paling main basket dan nongkrong sama teman-temannya. Sekali pun aku gak pernah melihat ada yang aneh, Man. Jadi jangan asal ngomong,"
"Ee cie ... yang gak lama lagi jadi mertua."
"Arman!"
Arman yang sudah puas menggoda Kris pun menghentikan tawa, lalu menatap Kris yang cemberut.
"Lalu gimana dengan kamu?" tanya Arman lagi
"Aku?" Kris menunjuk diri sendiri. "Kenapa denganku?"
"Kapan kamu akan move on?"
Kris terdiam.
"Kris, lupakan Marwa dan jatuh cinta lagi. Kamu tahu sendiri, jatuh cinta itu buat kita bersemangat lagi."
__ADS_1
Kris menunduk lesu lalu menatap sekitar yang hanya dilewati beberapa perawat saja.
"Apa kamu masih belum bisa move on?" tanya Arman lagi. "Apa gak ada yang bisa buat kamu move on?"
Ada, Kris ingin menjawab ada. Dia menyadari sesuatu sejak bertemu Fiona. Sejak gadis konyol itu mengatakan menyukainya dan terang-terangan ingin mengejar cintanya. Sejak saat itu dia pusing setengah mati, tapi tidak dipungkiri karena gadis itu juga Kris merasakan perlahan mulai melupakan Marwa. Perlahan rasa sakitnya ditinggal Marwa mereda.
Kris tatap lamat Arman dan tetap memutuskan diam, dan diamnya itu memantik emosi Arman. Arman tekan pundak Kris, geram. "Apa benar-benar gak ada satu pun perempuan selama tujuh tahun ini yang pernah buat kamu jatuh cinta lagi? Apa kamu nggak pernah sekalipun merasa jantungmu berdebar?"
Pernah, Kris ingin jawab pernah. Saat itu saat Fiona datang dan menciumnya tiba-tiba. Saat itulah Kris merasakan detak jantungnya tak seirama setelah sekian lama. Hanya saja ....
"Jika ada kejar, Kris. Kejar dia, jangan sampai kamu nyesal."
Kris tersenyum ironi, lalu melepaskan tangan Arman dari pundaknya. 'Kamu ini ngomong apa sih? Arman aku masih muda. Lagian aku harus menjaga Theo."
Alasan klasik memang, tapi itulah kalimat ajaib yang dia harap bisa membungkam Arman. Sepupunya itu memang cerewet dan apesnya setiap yang dia katakan adalah kebenaran.
"Jangan siksa diri sendiri, Kris. Lagian Theo udah besar. Dia bisa ngurus dirinya sendiri. Saat dia kuliah nanti coba kamu carilah istri. Lamar perempuan yang kamu suka."
Kris tersenyum kecut, bagaimana bisa dia memperistri Fiona. Itu mustahil, tidak masuk akal. Fiona memang membuat jantungnya berdebar, Fiona juga banyak menyita perhatian dan pikirannya hingga kadang melupakan Marwa. Namun, bukan berarti cinta, bukan?
"Sudahlah aku pulang. Kamu juga pulang. Maaf karena udah nyita waktu kamu. Kris langsung pergi, dia tinggalkan Arman yang memang seharusnya sudah pulang sejak tadi, tapi karena mereka sepupu maka Arman menunggu.
Setelah menebus resep vitamin dan suplemen untuk Theo, Kris pun berjalan menyusuri koridor. Di depan dia melihat ada laki-laki muda bersetelan rapi tengah meratap di kursi tunggu IGD. Kris yang penasaran mengamati saja dari kejauhan dan mendengarkan dua orang perawat yang juga memperhatikan lelaki yang menangis itu.
"Kasihan ya masih muda tapi harus kehilangan calon istri. Aku dengar dia dan tunangannya ini seharusnya melangsungkan pernikahan bulan lalu, tapi karena terlalu sibuk dengan pekerjaan dia minta waktu. Dan sekarang calon istrinya meninggal kecelakaan."
Kedua perawat itu geleng-geleng kepala.
***
Sepanjang perjalanan Kris diam saja, begitu juga Theo yang asyik dengan isi kepala. Theo terus kepikiran dengan omongan Arman, jika jantungnya sehat lalu kenapa berdebar hebat?
Setibanya di rumah Kris langsung menyuruh Theo masuk.
"Memangnya Daddy mau ke mana?" tanya Theo setelah melepas sabuk pengaman.
"Mau ke tempat temen. Kamu masuk. Istirahat."
Theo mengangguk. "Tapi Daddy jangan lama, ya. Jam tujuh nanti aku sama temen-temen mau futsal."
Kris memperlihatkan ibu jari, setelah itu melajukan mobil membelah jalanan. Isi kepala dan hati terus tidak singkron dan itu memantik kebingungan di hati lelaki berkemeja kotak-kotak itu. Terngiang-ngiang terus omongan Arman, teringat pula dia dengan wajah Fiona yang ceria. Bahkan tadi pagi, saat bertemu Fiona dia jadi salah tingkah.
Namun meski begitu dia belum bisa memutuskan apakah perasaan itu hanya sekadar empati atau bukan.
Sementara itu di rumah Theo terus uring-uringan. Dia mengingat perkataan Ali, sialnya saat memikirkan itu berdebar lagi jantungnya. Dia tekan dada hampir semenit dan memang luar biasa, seperti ada lomba pacuan kuda.
Segera Theo sambar ponsel dan mengirim pesan chat pada Fiona. Tangannya bahkan gemetaran saat mengetik.
__ADS_1
[Fi, gue suka elo. Lo mau gak jadi pacar gue? Gue rela kok lo jadikan pelampiasan.]
Sent. Terkirim. Tidak lama pesan masuk dari Fiona.
[Lo mau mati? Ngomong gitu sekali lagi gue minta bang Lio buat nonjok lo!]
Ada emot tinju di akhir pesan yang buat Theo melemah. Dia terlentang pasrah menatap plafon kamar. Seulas bibir terukir indah.
"Kayaknya gue emang suka sama itu cewek centil."
Sementara itu di waktu yang sama Fiona mendesis saat membalas pesan dari Theo. Dia terus menggerutu hingga laki-laki yang ada di depannya berdeham.
"Bapak mau ngapain sih ke sini sore-sore? Tante Daisy lagi pergi sama Om Aris. Bang Lio juga kagak ada, lagi jaga toko dia. Jadi sekiranya kalo gak ada yang penting mending pulang," ketusnya pada Kris. Dia bersedekap. Keduanya sedang berada di halaman.
"Saya gak akan lama. Saya cuma mau mastiin aja."
"Apa?" ketus Fiona, sengaja begitu untuk menutupi kegugupan yang luar biasa. Setiap menatap Kris tubuhnya gemetar. Reaksi tubuhnya mengkhianati otak. Otak bilang tenang tapi tubuh tetap gemetaran, belum lagi jantung yang bak genderang perang.
"Apa kamu sudah maafin saya?"
"Astaga, Pak. Itu lagi itu lagi. Capek aku bilanginnya. Itu kecelakaan."
Kris menutup mata, mukanya terlihat lega. Lalu, dia tatap lamat lagi Fiona.
"Kalau begitu, apa kamu sudah bisa move on dari saya?"
Untuk soalan kali ini Fiona terbeku, tapi sedetik kemudian mengangguk yakin. "Udah, aku udah gak ada rasa lagi sama Bapak."
Dusta, itu dusta!
"Beneran?" Kris tampak kecewa, tapi tetap tidak percaya, pasalnya Fiona terlihat ragu-ragu saat menjawab. Terlebih lagi tadi pagi gadis itu sendiri yang bilang kalo sedang proses move on. Lagi proses move on itu artinya belom move on sesungguhnya.
"Ish, Bapak ini mau apa, sih? Kalau mau iseng cari kegiatan yang laen. Aku sibuk."
Fio pun memutar tumit. Kesal dia pada Kris yang seakan sedang bermain-main dengan hatinya. Bukankah dulu lelaki itu terus mendorongnya menjauh, lalu sekarang?
"Kamu mau gak jadi pacar saya?" teriak Kris yang tak ayal langsung membuat Fiona terbeku di tempat.
"Saya tau ini gila. Saya guru dan kamu murid jadi gak mungkin. Tapi Fiona, saya gak mau menyesal. Saya mau kita jalanin hubungan ini. Kalau kamu mau saya bisa bicara sama tante kamu."
Spontan Fio memutar tumit dan melihat wajah Kris yang serius. "Bapak gila?"
"Ya saya gila. Dan saya nggak tau cara berentiin kegilaan ini." Kris mendekat dan Fiona refleks mundur. Kris tersenyum ironi.
"Bukannya kita masih ada jadwal kencan satu kali lagi. Ayo kita kencan, Fi. Saya janji gak bakalan macam-macam."
**
__ADS_1
Ecie cie cie ... yang berharap jadi Fiona sapa? Hayo ngaku. Cung tekan like. wkwkwk follow Ig aku yuk buat liat visual mereka. adisty_rere