Sugar Teacher

Sugar Teacher
Masa lalu


__ADS_3

"Kamu pembunuh, kamu gak berhak ada di sekitar dia! Kamu gak berhak!"


"Destian ...."


"Jangan panggil aku kayak gitu lagi, Kris. Stop!"


Tak ayal obrolan itu membuat Lio yang mengintip makin terbelalak. Dia menajamkan indra pendengaran dan kembali mengintip. Sampai di sini Lio sudah bisa menebak, kalau tantenya dan Kris memang saling mengenal seperti dugaannya tadi. Tidak banyak yang mengetahui nama kecil tantenya. Daisy adalah nama di KTP dan berkas penting lain. Sementara Destian adalah nama awal sebelum berganti jadi Daisy. Hanya orang terdekat saja yang Daisy perbolehkan memanggilnya dengan sebutan Destian.


"Des ...." Kris tampak mengiba tapi Daisy memalingkan muka. Dadanya naik turun menahan debaran yang mengentak-entak karena Kris.


"Berdiri gak kamu. Kalau gak mau aku teriak dan panggil satpam."


Tak ayal Kris pun menurut. Dia mendekati Daisy yang sedang menghapus air mata.


"Aku minta maaf, Des. Aku beneran gak tau."


"Ya, kamu memang selalu gak tau. Kamu selalu aja nutup mata kamu. Apa dengan begitu kamu bahagia?" cecar Daisy dengan menggebu-gebu. Menggelegak darahnya kala mengenang masa lalu. Dia dan Kris adalah teman satu kampus. Daisy menyukainya sejak lama tapi Kris tidak peka. Lelaki itu justru tergila-gila dengan seorang janda beranak satu.


Sakit hati Daisy mengenang masa kuliah dulu. Dia begitu mendamba Kris bahkan pernah diam-diam menguntit lelaki itu. Juga, tidak terhitung berapa banyak dia meletakkan jajanan di laci Kris tanpa ada yang tahu. Bahkan, kerap kali dia berdoa pada Tuhan agar Kris menyadari rasa sukanya.


Hanya saja semua itu tak terjadi. Kris tidak pernah mengerti hingga mereka di semester akhir. Dan harapan Daisy hancur berkeping-keping saat mengetahui kalau Kris mencintai Marwa. Kebenciannya makin menjadi kala mengetahui kalau sang abang meninggal karena berusaha menyelamatkan Marwa yang terjebak kebakaran.


Air mata Daisy meluruh makin banyak. Pundaknya juga terguncang. Ingin dia menjerit menumpahkan rasa sesal. Sesal kenapa hidup bisa serumit itu? Kris adalah masa lalu yang ingin dia lupakan tapi lelaki itu justru mencuri hati keponakannya.


"Des ...."


Daisy kembali menghapus air mata. Ditepisnya tangan Kris yang hendak memegang pundaknya.


"Maaf kan aku. Aku tau, aku tau kamu suka aku," tutur Kris tiba-tiba.

__ADS_1


Mata Daisy yang sembab menajam seketika.


"Ya, aku tau. Siapa yang gak bisa membaca wajahmu. Tapi, Des. Kita temenan. Aku gak mau memperburuk hubungan kita dengan cara membahas perasaan kamu."


"Oh, jadi karena itu kamu diam aja?" Tangan Daisy terkepal. Dia mengutuk diri sendiri karena baru menyadari kalau lelaki yang sempat dipujanya adalah Kris. Kris terlalu pengecut. Bukankah harusnya mengatakan langsung? Biar dia tidak terlalu sering bertanya tentang makna kebaikan Kris selama itu.


"Maafkan aku. Aku tau aku pengecut. Tapi aku gak mau hancurin pertemanan kita. Aku ...."


"Berhentilah, Kris. Aku gak mau dengar. Aku udah hapus nama kamu dari daftar orang yang aku kenal," balas Daisy lirih tapi penuh penekanan.


"Destian ...."


Mata Daisy makin nyalang. "Jangan lupa Kris, karena kamu ayahnya Fio dan Lio meninggal. Karena kamu ... karena berusaha nyelametin istri kamu aku kehilangan abang. Karena itu anak-anaknya jadi yatim. Lalu sekarang kamu mau ambil hati anaknya? Apa kamu punya hati?"


Mata Lio yang terbelalak sontak mengembun. Pandangannya berkaca-kaca. Dia baru tahu kalau Kris ada hubungan dengan kematian sang ayah.


Itu yang buat Lio mendendam selama ini. Dia bersumpah akan menghajar lelaki itu jika bertemu. Tidak disangka-sangka kalau orang itu adalah Kris. Sialnya laki-laki itu terlibat di hidup Fio dan Daisy.


"Ya aku tau. Aku bahkan gak pernah sekali pun lupa itu. Aku merasa bersalah. Tapi Des ...."


"Pergilah Kris," sela Daisy tanpa peduli.


"Des, biarkan aku menebus kesalahanku," ucap Kris. Mengiba. Dia tahu kalau meninggalnya ayah Fio adalah kecelakaan. Tapi tetap dia ingin bertemu mereka. Ingin meminta maaf.


"Sudah aku bilang jangan tampakkan mukamu ke mereka!" geram Daisy lagi. Ingin berteriak dia, tapi takut kedua ponakannya bangun.


"Des ...."


"Aku tekankan, Kris. Jangan pernah kamu temui mereka," ulang Daisy. Tangannya mengacung ke Kris.

__ADS_1


"Tapi aku harus minta maaf."


"Kamu kira dengan kata maaf bisa mengembalikan ayah mereka?" Air mata Daisy menetes lagi.


"Des, tapi aku mau bertemu mereka."


"Enggak Kris. Gak bisa."


"Des. Aku harus minta maaf."


"Gak perlu. Dan kamu jangan pernah mengungkit ini di depan mereka."


"Destian ...."


"Soal Fio, jangan ganggu dia. Aku tau dia keras kepala. Tolak dia, Kris." Daisy menghapus air mata lalu bersedekap. "Aku gak mau dia kecewa saat orang yang disukainya adalah kamu. Demi menyelamatkan istrimu ayahnya meninggal. Kamu pikir dia bisa menerimanya?"


Kris menghela napas panjang. Lamat dia menatap Daisy.


"Soal keponakan kamu, aku gak pernah menganggap dia perempuan. Aku hanya menganggapnya murid," jelas Kris.


Daisy yang sudah tampak tenang manggut-manggut. "Aku pegang kata-kata kamu, Kris."


"Kami sudah buat kesepakatan. Kalau akan melakukan empat kali kencan. Katanya setelah itu dia gak bakalan ngejar aku lagi. Katanya dia bakalan urus perasaannya sendiri."


Mata Daisy menajam lagi.


"Percayalah. Aku gak punya pilihan selain mengiakan. Dia keras kepala," jelas Kris lagi.


Daisy mengentak napas. "Oke. Hanya empat kali. Setelah itu jangan pernah kamu berpikir buat deket sama dia. Sampai mati pun aku gak bakalan ngerestuin. Ingat itu."

__ADS_1


__ADS_2