Sugar Teacher

Sugar Teacher
Calon anak.


__ADS_3

"Om, bakso dua, ya! Teh es juga dua!"


"Ah siap!" balas Aris—pemilik warung bakso yang Fio dan Theo masuki. Lelaki yang tadinya berada di balik meja kasir langsung berdiri dan mengambil alih tugas karyawan. Dia secara khusus menyiapkan pesanan Fiona.


"Akrab?" timpal Theo yang buat senyum Fiona merekah. Keduanya langsung duduk bersila dan saling berhadapan. Mereka di tengahi meja kecil sebatas dada.


"Lumayan, calon paman," balas Fiona berbisik yang seketika membuat Alis Theo hampir menyatu.


"Dia itu naksir berat sama Tante Daisy, tapi kasian, di tolak terus dianya," sambung Fiona lagi.


Theo manggut-manggut, lantas melihat sekitar. Matanya yang sipit memindai, warung bakso tempatnya duduk ini lumayan padat. Banyak pasangan makan di sana, dari muda mudi samlai pasutri duduk lesehan di warung itu.


Tak lama datanglah Aris beserta nampan yang berisi pesanan Fiona. Lelaki bertubuh kurus tinggi berkemeja abu-abu itu tersenyum amat ramah, dagunya yang ditumbuhi bulu halus bahkan terlihat terbelah. Sangat menawan.


"Tumben gak bareng Lio?" Aris meletakkan dua porsi bakso ke hadapan Lio dan Fio. Lelaki berusia tiga puluh tahun itu sempat beradu pandang dengan Theo sebentar sebelum akhirnya menatap Fiona yang tersenyum.


"Biasa, Om. Jaga toko."


Aris manggut-manggut. Dia lirik Theo lagi lantas tersenyum ambigu. "Pacar, ya?"


Theo yang sedang mengaduk teh es langsung melotot. Dia memberi kode agar Fiona menjelaskan, kalau mereka memang tidak punya hubungan apa-apa. Boro-boro pacar, berteman sama Fio saja dia ogah. Berkomunikasi sama Fiona itu keterpaksaan baginya.


"Bukan. Om. Bukan pacar. Tapi calon."


"Oh calon pacar."


Kesimpulan Aris membuat Theo melotot makin besar. Fiona yang mengerti langsung melibaskan tangan di depan Aris, lantas menggaruk tengkuk.


''Bukan, Om. Bukan calon pacar. Dia calon anak."

__ADS_1


Uhuk!


Semua orang yang ada di sana tersedak secara massal. Setelahnya semua memberi sorot mata ambigu dan Theo tidak suka itu. Dia pelototi Fiona makin sengit.


"Lo kalo ngomong ngadi-ngadi gue tinggal!" ancam Theo yang sudah berancang-ancang. Cowok itu sudah memasang lagi ranselnya, tapi dicegah Fiona.


"Lah, ya jangan. Kalo kamu tinggal aku pulangnya pake apa?"


"Bodo amat!"


xOke deh aku ralat. Ibu-ibu bapak-bapak." Fiona berdiri, dia menatap satu satu pengunjung. "Maaf kalau ada yang salah paham. Dia ini bukan calon anak aku, tapi bapaknya calon suami aku."


"Fiona!"


-


-


-


"Iya, Tan. Bentar lagi!"


Sahutan dari dalam spontan membuat Daisy menghela napas panjang, lantas kembali menatap Kris yang ada di depan mata. Jika dituruti hati, ingin dia menangis sejadi-jadinya. Orang yang pernah dia suka begitu besar sekarang sedang berkencan dengan keponakan.


"Tenang, aku gak bakalan macam-macam sama dia," tutur Kris yang seolah bisa membaca keresahan Daisy. "Aku hanya menepati janji biar dia gak ngotot lagi.


Lagi, Daisy menghela napas panjang. Dia duduk di bangku teras dan melihat tubuh Kris dari atas sampai bawah. Lelaki itu masih saja terlihat menawan dan itu memancing desir aneh dalam dadanya.


Perih, tapi Daisy harus bersikap dewasa. Kris tidak pernah menyukainya, terlebih sekarang ada hati Fiona harus dia jaga. Maka dari itu dia akan tutup rapat-rapat rasa suka itu agar tidak ada yang tahu tanpa terkecuali. Memendam lebih baik ketimbang diekspose.

__ADS_1


"Aku pegang janji kamu, Kris. Akhiri ini dengan baik. Jangan sampai ini berakibat buruk ke pelajaran dia. Dan juga jangan sampai dia curiga."


Kris menatap Daisy sendu. Namun ekspresi itu tidak berlangsung lama. Bergegas dia netralkan hati dan juga mimik wajah saat terdengar dari dalam suara langkah mendekat.


"Yuk, Pak. Aku siap. Tan kita berangkat dulu, ya."


"Hmm, hati-hati dan jangan ngadi-ngadi."


Seloroh itu tak pelak membuat Fiona cemberut, tapi berakhir tersenyum kecil. Dia cium punggung tangan Daisy dengan khidmat.


"Kami pergi, Tan."


Setelah berpamitan Fiona pun langsung duduk anteng di sebelah Kris. Sesekali dia melirik Kris yang ada di belakang kemudi. Lelaki itu terlihat serius menatap jalanan yang padat lancar.


"Kenapa? Apa ada yang aneh dengan wajah saya?" tanya Kris tanpa menoleh.


"Bukan, Pak. Aku hanya lagi senang. Bapak buat aku makin jatuh cinta."


Kris yang keheranan menoleh sebentar, lalu kembali menatap depan.


"Bapak cool, gentleman. Gak banyak laki-laki yang berani minta izin langsung."


Kris menarik napas panjang, lalu membuangnya secara cepat. Dia usap wajahnya yang gusar dengan sebelah tangan. Dia pikir semuanya akan lebih baik jika dia mengakui semua para Fiona, tentang hubungannya dengan Daisy, lalu tentang kebakaran itu.


Namun ucapan Daisy waktu itu memberatkannya. Dia takut kalau Fiona tahu segalanya maka akan berdampak negatif dalam pelajaran. Kris tidak tega. Maka dari itu memilih mengikuti keinginan Fiona, jika sudah habis masa kencan dia kan menolak gadis itu lagi.


Tibalah di tempat tujuan. Kris yang rapi dengan kemeja berwarna cokelat terlihat terbeku menatap depan.


"Kamu yakin mau masuk ke sini?" tanya Kris. Mukanya agak pucat. Dia tatap Fiona yang mengenakan jaket bomber. Gadis itu terlihat berbinar. Kepalanya mengangguk mantap.

__ADS_1


"Iya, Pak. Aku yakin habis dari sini Bapak bakalan buka hati buat aku. Aku jamin jantung bapak akan terpompa cepat dan akan sadar kalau hanya aku yang pantas dampingi Bapak. Hanya aku." Fiona tarik lengan Kris lalu mengajaknya masuk. "Ayo, Pak. Kita mulai!"


__ADS_2