Sugar Teacher

Sugar Teacher
Rahasia terungkap


__ADS_3

"Kenapa?" tanya Theo saat dia sudah tiba di belakang gudang dan melihat ada Lio berdiri bersandar di dinding gedung dengan tangan bersedekap.


"Gue mau ngomong." Lio mendekat, lantas berdiri tepat di depan Theo yang menatapnya tanpa minat


Ya, tanpa minat. Dari awal dia memang tidak senang dengan Lio karena Lio adalah saudaranya Fio. Terlebih lagi Lio adalah orang yang menjebaknya di hari pertama sekolah. Theo ingat betul kejadian itu, dia diajak main basket bersama padahal itu adalah kedok agar Fio bisa mencuri bajunya, lalu mempermalukan dirinya di depan siswi.


"To the poin aja."


"Gue mau lo baek ke Fiona," tutur Lio sesuai permintaan.


"Lo serius?" balas Theo dengan sorot mata mencemooh dan Lio sadar akan hal itu. Tapi memilih abai demi kebahagiaan sang adik.


"Ya, gue serius. Dia adek gue satu-satunya dan gue nggak mau dia sakit hati karena elo. Lagian kan elo sendiri yang menyanggupi permintaan Mrs Jean buat ngajarin dia? Harus tanggung jawab, dong."


Mendengar tuntutan itu menggelegak darah Theo. Nyalang dia tatap Lio yang juga memberi sorot tidak senang. Cowok itu memang sosok yang tidak mudah terintimidasi apalagi sama murid pindahan seperti Theo. Baginya mudah mencelakai Theo. Jika dia ingin, dia bisa menghajar cowok belagu itu dengan mudah. Hanya saja demi Fio, demi Daisy, dia redam emosinya.


"Atas dasar apa gue harus begitu? Emang adek lo siapa?" cibir Theo. Nada bicaranya makin buat Lio gerah tapi memilih diam.


"Ah iya, adek lo kan memang ratu, Ratu halu?" lanjut Theo yang buat Lio mengepal geram.

__ADS_1


"Jaga sikap, Theo!"


"Gue begitu karena dia memang layak. Dia itu memang ratu, ratu halu!"


"Theo, jaga bicaramu!" sentak Lio lagi.


"Kenapa harus? Ayo katakan, katakan di mana letak perkataan gue yang salah? Adek elo itu emang ratu halu dan lo sebagai abang bukannya melarang malah mendukung? Apa kalian waras?"


Lio yang kesal mencengkram kerah seragam Theo, lantas mendorongnya dengan kasar hingga membentur dinding.


Alih-alih merasa kesakitan Theo justru berdecak sinis, setelah itu meludah begitu saja di sisi kanan.


"Jangan cari perkara!" ancam Lio.


"Apa lu bilang?" Naik semua darah Lio ke ubun-ubun.


"Apa perlu gue tegaskan? Jujur aja, deh. Fio maksa dekat sama Daddy gue karena ingin menaikkan status kalian, kan? Otak dia jongkok bisa-bisanya naksir orang smart. Enggak ngaca? Apa gak punya kaca?"


"Lo mau mati? Lo bicara sekali lagi gue hantam," ancam Lio, tangannya sudah membentuk tinju yang hanya dengan sedikit dorongan sudah bisa membuat memar. Ingin dia menghantam wajah Theo yang menyebalkan itu, tapi dia tahan tahan.

__ADS_1


"Ayo, pukul aja. Dengan begitu kalian ngebuktiin kalau keluarga kalian itu barbar."


Lio yang tidak tahan langsung melayangkan pukulan tanpa pikir panjang. Bertubi-tubi dihantamkan pukulan ke wajah Theo.


"Kalian memang gak pantas di kasihani." Theo lantas melepas cengkeraman Lio. Kemudian mendorongnya dengan kasar. Dia juga menyeringai. "Gue tekankan, Adek lo gak bakalan bisa mempengaruhi Daddy gue. Paham!"


Setelah itu memutar tumit hendak pergi. Namun, karena Lio memanggil namanya dengan lantang dia kembali membalik diri.


"Lo pikir keluarga kalian sempurna?" teriak Lio. "Lo pikir gue senang lihat adik gue ngemis sama daddy lo yang sok suci itu?"


Theo yang tidak terima tergelak sinis. "Apa lo bilang barusan?"


"Sok suci!" balas Lio penuh penekanan.


"Heh, daddy gue emang orang suci. Dia gak level dekat sama cewek gak tau malu kayak adek lo. Udah jelas-jelas ditolak malah maksa minta kencan empat kali. Dia benar-benar gak waras."


"Stop!"


"Kenapa? Apa nggak terima adik lu gue jelek-jelekin. Harusnya dia ngaca dulu."

__ADS_1


"Gue juga nggak bakalan ngerestuin hubungan Fio sama pembunuh."


Theo yang terkejut, tergugu. Dia diam dan membiarkan Lio mendekat dan menampar pipinya dengan pelan berapa kali. "Daddy lo itu busuk, dia pembunuh dan elo sama aja kayak dia."


__ADS_2