
Sesuai janji yang telah disepakati, Fiona akhirnya mau bertemu lagi dengan Theo. Tujuan mereka ke konter HP. Namun karena tidak ingin Daisy banyak tanya dan Lio marah-marah tidak jelas, Fio pun mengajak Theo bertemu di depan gang. Jalan yang dipilih pun sengaja memutar, itu alasannya karena ingin menghindari mata Lio yang jeli. walau menjaga toko, abangnya itu punya kebiasaan memutar kursi dan menatap jalanan ketimbang melihat isi toko.
"Loh, kok dilewatin?" teriak Fio. Dia tepuk pundak Theo. "Konternya kelewatan, Theo!"
Akan tetapi cowok itu hanya diam tidak menyahut. Dia terus memacu kendaraan membelah jalanan hingga keduanya tiba di depan sebuah pusat perbelanjaan.
"Theo. Kita kenapa ke sini? Bukannya tadi katanya mau benerin HP?" tanya Fio. Dia lepas helm dan merapikan rambut panjang yang agak berantakan. Lantas, melihat Theo yang juga melakukan hal yang sama. Fio melihat Theo tanpa berkedip karena memang cowok itu terlihat trendi dengan jaket ala-ala Dilan.
"Gue berubah pikiran," balas Theo, lalu dia berjalan lebih dulu dan membiarkan Fio yang kebingungan mengekorinya.
"Berubah pikiran gimana maksud lo? Bisa gak kasih penjelasan yang lengkap. Tetangga gue kasih info setengah-setengah besoknya mati keselek kulit duren."
"E buset sadis amat."
Fio cuma bergidik dan terus mensejajarkan diri dengan Theo. Keduanya beberapa kali mendapat tatapan aneh dari para pengunjung. Lebih tepatnya mata para kaum hawa. Mereka tidak berkedip kala melihat Theo seakan-akan Fio tidak ada sama sekali.
Kendatipun agak minder, Fio tetap berusaha membangun kepercayaan diri. Dia merasa dirinya cukup cantik dan menarik. Hanya tinggi badan yang tidak mendukung. Karena itu juga dia agak selalu sewot sang abang yang tingginya melebihi cowok rata-rata. Sesama saudara dia terintimidasi.
"Eh, tapi gue serius, kita ngapain ke sini, sih? Jangan bilang benerin hp-nya ke sini?" terka Fio lagi. Dia genggam erat tali tas selempang yang ada di badan, lalu celingukan.
"Gue gak jadi benerin. Mau langsung beli aja."
Fio spontan berhenti melangkah. Jantungnya dag-dig-dug tidak karuan.
"Heh, malah bengong. Ayo cepetan!" seru Theo.
Pelan, Fio melangkah dan kembali mensejari Theo. "Lo mau beli baru?" tanyanya pelan.
"Tenang, gue nggak nyuruh lo yang beliin. Gue cuma pengen elo nemenin gue cari HP-nya."
Refleks Fiona mengembuskan napas panjang. Agak lega hatinya, tadi sempat berpikiran kalau Theo meminta dibelikan ponsel baru. Merinding bulu kuduk Fiona, jangankan ponsel baru, pulsa saja dia harus mengemis pada tantenya. Jika dia sampai bisa membelikan Theo ponsel, itu artinya dapat dipastikan kalau ginjalnya pasti telah dijual satu.
__ADS_1
"Kenapa berubah pikiran? Kan sayang, Hp lo masih bagus gitu," balas Fiona.
"Soalnya benerin sama beli baru kurang lebih harganya. Jadi ya udah, gue minta aja sama Daddy."
Mata Fiona membelo. "Terus dikasih?"
Theo mengangguk, lalu masuk ke salah satu konter terbesar yang ada di pusat perbelanjaan itu.
Fiona terdiam dan Theo yang menyadari diamnya Fio pun menoleh dan menyipitkan mata. "Jangan bilang gue mau pamer lagi. Seriusan, gue itu nggak ada niat pamer."
Fio memilih diam.
"Mbak, aku lihat yang itu dong." Theo menunjuk ponsel keluaran terbaru yang harganya seharga satu buah motor metik.
"Eh, lo seriusan beli itu? Gak kemahalan?" bisik Fio. Theo cuma mengangkat sedikit bahu sembari terus memeriksa ponsel itu.
"Ini murni tabungan gue. Sejak SMP setiap gue juara Daddy selalu kasih hadiah. Jadi ya gak apa-apa. Duit sendiri ini."
Fio manggut-manggut, walau terbesit sedikit iri di hati. Namun dia mengusir rasa itu dan menganggap Theo beruntung. Itu saja.
"Mau beli? Pilih aja. Gue yang bayarin."
Fiona spontan berhenti, matanya melotot lagi.
''Gak butuh. Dirumah gua juga punya baju."
"Tapi kan beda. Noh, yang itu pasti cocok buat elo yang." Theo menunjuk meneken anak-anak yang memakai gaun pesta. Cantik, tapi kan tidak cocok.
"Elo mau pulang apa enggak?" geram Fio yang telah terlanjur geram. Theo yang menyadari itu segera mendekati. Keduanya berjalan terus hingga akhirnya tiba di parkiran.
"Deal ya, sekarang nggak ada istilah ganti rugi. Lo janji, ya," ulang Fiona untuk memastikan.
__ADS_1
Theo cuma berdecak saja. "Elo kenapa, sih? takut bener, kan yang salah gue."
"Ya takutlah. Takut lo berubah pikiran. Tante gue nggak sekaya bokap elo."
Theo putar badan dan menatap Fio yang merapikan rambut. "Gue nggak bakalan ngelakuin hal picik kayak gitu."
"Ya kali aja." Fiona menggidikkan bahu tidak peduli.
"Yang gue pengen itu kita bisa temenan."
Fio menggeleng cepat. "Nggak bakalan bisa. Walaupun gue udah maafin dan ikhlas, tetap aja rasanya nggak akan bisa. Kita gak bakalan bisa deket."
"Kenapa nggak bisa? Kan elo sendiri yang bilang kalau kita masih kecil, kita nggak tahu apa-apa. Itu takdir. Elo kehilangan ayah dan gue kehilangan ibu."
"Tapi sekarang kita udah tau, dan gue pikir lebih baik kita gak usah terlalu deket."
Theo menyentak napas frustrasi. "Apa karena bokap gue?"
Sekarang giliran Fiona yang menyentak napas. Mukanya menjadi murung dalam sedetik.
"Cari aja gantinya susah amat. Cowok keren gak hanya Daddy gue."
Mendengar itu muka Fiona berubah drastis. Tadinya yang sendu sekarang berubah masam. Dia mendesis lalu merampas helm dari tangan Theo. "Anterin gue pulang, sekarang!"
Di mana Theo menjemput, disitu juga dia mengantar Fio. Sebenarnya dia tidak tega dan ingin segera mengantar Fio ke depan rumah langsung. Hanya saja cewek itu mencubitnya berkali-kali hingga mau tak mau dia berhenti juga di depan gang.
"Jangan nekat," desis Fiona setalah turun daru motor Theo. Agak encok pinggangnya setelah turun. Tempat duduk motor Theo terlalu menukik.
"Tapi kan gue mau bertingkah gentlemen," sahut Theo. Dia ambil helm Fiona dan menggantungnya. Tatapannya masih lekat ke Fio yang masam kecut.
"Gue nggak butuh itu. Sudah, pulang sana!"
__ADS_1
Theo mereguk kekecewaan, dia akhirnya pergi sedang Fiona tetap berjalan sendiri. Akan tetapi saat di depan pagar cewek itu melihat motor yang tak asing tengah terparkir. Di teras juga pemilik motor tengah berbincang dengan Daisy.
"Dia ... ngapain dia ke sini?"