Sugar Teacher

Sugar Teacher
Buaya.


__ADS_3

"Tapi gue serius," balas Theo mencoba meyakinkan. Namun dibalas Fiona dengan decakan saja.


"Jadi kita jadian kagak ini?" tanya Theo lagi yang dibalas Fiona dengan mata menyipit.


"Nanya sekali lagi gue sembelih," ancam Fiona yang buat Theo kembali terbahak.


"Elo emang barbar tapi sialnya gue suka elo yang begini ketimbang diem."


Tak ayal ocehan itu dibalas Fiona dengan sipitan mata makin sengit. Setelah itu kembali menatap depan. Desahaan napas panjang kembali mengudara di antara mereka.


"Eh tapi tapi gue penasaran lo kok bisa suka sama gue. Gue ingat betul tatapan elo waktu pertama kita ketemu. Nggak nyangka sekarang lo bahkan ngejar-ngejar gue. Lo ngerasa tolool nggak sih? Gimana bisa elo nawarin diri jadi pelampiasan?"


Sekarang Theo yang terkekeh kecil. Dia juga menggidikkan bahu seolah perkataan Fiona bukan apa-apa. Dia merasa tidak tersinggung sama sekali. Cowok itu bahkan dengan tenang menyeruput es tebu sampai habis.


"Gue juga nggak tahu. Gue pikir gue gila karena naksir cewek barbar kayak elo. Cewek gila yang ngejar laki-laki sampai segitunya. Tapi makin ke sini makin aneh. Gue gak bisa berenti mikirin elo. Dari situ gue paham apa yang elo rasa dulu, kalau memang menyukai seseorang itu nggak bisa dikontrol. Gak akan bisa," jujur Theo. Dia lihat Fiona dari samping dan tersenyum kecil. "Maka dari itu gue juga bakalan usaha. Entah hasilnya terang atau gelap akan gue hadapi."


Fiona lagi-lagi mendesis sinis. "Terus lo nggak apa-apa gitu dengan masa lalu gue? Secara gue naksir bokap lo. Naksir berat."


Namun lagi-lagi balasan Theo hanya gidikan bahu. "Nggak masalah karena gue sadar, gue tahu, dan gue paham kalau bokap gue itu nggak bakalan naksir elo. Makanya gue berani deketin elo."


Fiona terdiam. Lamat dia tatap Theo. Cowok itu tersenyum manis ke arahnya.

__ADS_1


"Tapi kalau dia beneran naksir gue gimana? Elo bakalan ikhlasin gue?"


Pertanyaan ini buat Theo terdiam.


"Eh, malah bengong. Jawab, dong! Jangan cuman diam!" balas Fiona tak sabar.


Kini mata Theo makin lekat. Fiona bahkan bisa merasakan atmosfer berubah serius dalam sekejap mata.


"Jadi lo masih ngarepin dia?" tanya Theo. Nada suaranya terdengar datar dan dingin hingga membuat Fiona jadi kagok dan membalasnya dengan gelengan kepala.


"Ya enggak, kita ini sedang berandai-andai, Theo. Lo sendiri yang bilang kalau deketin gue berharap hati gue berubah. Hati orang nggak ada yang bisa diprediksi. Siapa tahu sekarang nggak suka tapi nantinya malah suka. Dan itu juga berlaku buat bokap lo. Kalau tiba-tiba dia naksir gue gimana? Kalian nggak bakalan berantem, 'kan?"


Theo kembali tersenyum. Tapi senyum getir. Tidak bisa dia membayangkan hal yang dikatakan Fiona terjadi di masa depan. Namun jika pun terjadi maka dia akan berusaha bijak.


Fiona terdiam ujung bibirnya tertarik.


Gue nggak nyangka dia bisa berpikiran dewasa begini. Seorang Theo yang berlisan pedas dan galaknya ngalahin harder tetangga bisa semanis ini, batin Fiona.


"Ngapain lo ngeliatin gue kayak gitu? Apa udah mulai terpesona?" seloroh Theo yang buat Fiona tidak bisa untuk tidak tertawa. Dalam ketusnya Theo ada sosok yang dewasa, dan dalam kedewasaan itu ada juga sosok yang menyebalkan. Paket komplit.


Aneh tapi nyata, tawa Fiona ternyata nular ke Theo. Keduanya sama-sama tersenyum.

__ADS_1


"Gue suka sama lo. Sebagai permulaan hubungan ini elo dapat poin plus dari gue," tutur Fiona yang buat senyum Theo makin mengembang.


"Seriusan? Wah, kalau gini gue optimis. Dari pemagangan berubah ke pegawai tetap."


Fiona kembali tertawa. Kejujuran Theo buatnya bahagia. Merasa dihargai dan dia bersyukur akan hal itu.


Sedangkan Theo, dia terdiam. Entah kenapa saat melihat senyum Fiona dia merasa senyum itu mirip dengan mendiang sang ibu.


"Fi, lo cantik. Kenapa gue baru sadar kalo lo cantik. Ya walaupun pendek," cetusnya.


Godaan itu tak pelak buat Fiona mendesis, lalu menoyor pundak Theo. Keduanya kembali tersenyum.


"Asal elo tau aja. Pendek-pendek gini ada yang begoo karena gue."


"Ya ya ya, dan gue si begoo-nya."


Fiona menggelengkan kepalanya, sedang senyum masih terpatri dan itu buat jantung Theo menggila lebih lagi.


"Mulai sekarang gue janji, kebahagiaan elo akan gue taruh di atas kebahagiaan gue sendiri."


Mendengar itu tawa Fiona kembali mengudara. Dia bahkan sampai memegang perut saking tidak tahan.

__ADS_1


"Heh, Theo, berenti menggombal. Nggak cocok di elo. Elo itu udah mirip buaya yang sudah buka puasa tapi keselek kudanil."


__ADS_2