
Buru-buru Fiona turun dan mendapati di bawah, tepatnya di ruang tamu Daisy tengah memegang sapu. Sapu itu tangkainya terarah ke Kris yang ada di ambang pintu. Tantenya itu memasang wajah garang yang siap mengamuk kapan saja. Aris yang masih menggendong ransel menengahi mereka. Dia pasang badan. Agaknya lelaki yang baru pulang dari bekerja dan masih lelah wajahnya harus dihadapkan dengan pertarungan lagi setelah semalam susah payah membujuk istrinya agar tenang menyikapi lamaran Kris yang tiba-tiba.
"Sayang, ingat kamu lagi hamil. Tenang dikit," tegur Aris. Mukanya sama tengang seperti Kris. Dua lelaki dewasa itu terlihat berhati-hati menghadapi calon ibu yang tengah hamil tersebut.
"Mas, minggir nggak. Jangan halangi aku. Aku belum puas gebukin dia. Enak aja mau lamar Fiona. Geser ini otaknya." Mata Daisy yang tajam terarah ke Kris.
"Heh, kamu Kris, Fiona itu memang masih naif dan bisa kamu kibulin. Tapi ingat, aku walinya jadi jangan harap bisa manfaatin dia. Langkahi dulu mayatku!" omel Daisy lagi. Sengaja mendramatisir keadaan. Matanya berkilat penuh kemarahan dan itu buat Aris ketar ketir juga. Aris bahkan balik badan dan menatap Kris yang berada di belakang.
"Destian, tolong dengerin dulu. Aku itu nggak ada niatan mainin Fiona," balas Kris. Jantungnya cenat cenut. Di matanya kini Daisy sudah bukan lagi teman manis yang selalu memberi tatapan kagum, melainkan calon mertua kejam yang siap menerkam.
Kris telan ludah, ngeri. Tapi niat telah bulat. Seharian ini dia berpikir keras dan kata-kata Theo benar. Tadi dia berbicara lagi dengan Theo dan anaknya itu tidak keberatan jika dia bersama Fiona, Theo memberi restu dan mendukung penuh. Jadi Kris pikir tidak boleh ragu-ragu lagi dalam melangkah. Jika ragu, bisa jadi akan disalip laki-laki lain.
"Ada niat apa enggak aku nggak peduli! Aku nggak mau kamu hancurkan masa depan Fiona. Dia masih kecil!" teriak Daisy lagi.
Kris angkat kedua belah tangannya. "Destian, kita bicara dulu, oke. Kamu tenang. Aku akan jelasin secara keseluruhan. Aku nggak ada niatan buat mainin keluarga kalian. Jadi ayo kita duduk dan bicara."
"Apa yang mau di bicarakan lagi, Kris? Aku mendukung kamu sama Fiona itu nggak sungguhan. Jadi jangan besar kepala. Kita udah sepakat kan kalau kamu bakalan jauhin Fiona? Kamu sendiri kan yang bilang bakalan buat Fiona jauh dari kamu? Kamu bilang sendiri kalau kamu nggak pantes buat dia. Kamu bilang setelah ngedate empat kali kamu bakalan buat dia jauh dari kamu."
Fiona yang ada di belakang terbeku. Dia memang tahu kalau Kris dulu mati-matian menjauhinya tapi yang buat dia agak gimana itu karena baru tahu ternyata sikap dingin Kris ada campur tangan Daisy. Seingatnya dulu Daisy mendukung penuh apa yang dia putuskan. Tapi ternyata ada niat lain disebaliknya.
"Maaf, Des. Aku nggak bisa nepatin janji ke kamu. Aku juga nggak tau bisa jadi begini. Aku nggak bisa ngendaliin hati."
__ADS_1
"Lalu kamu mau apa? Kamu sungguhan mau jadiin dia istri kamu?" cecar Daisy, matanya makin melotot.
Hening yang ada. Bukannya menjawab Kris malah diam.
Dari belakang Fiona gregetan sendiri. Saat ini Fiona patah hatinya. Dia pikir Kris akan berteriak lantang melawan Daisy, tapi nyatanya lelaki pujaannya itu malah diam. Masih pengecut. Lebih gentle Theo ke mana-mana.
Namun ternyata prasangka Fiona salah. Kris yang tadinya menunduk membalas tatapan sengit Daisy. Kris membalas tajam.
"Iya, aku ingin jadikan dia istri. Aku bakalan jaga dia. Aku bakalan gantiin kamu untuk jaga dia. Dan soal umur, aku sadar diri aku terlalu tua dan terkesan nggak tau diri. Tapi percayalah, Des, aku bisa jaga keponakan kamu. Dia memang masih muda, tapi aku bakalan berusaha ngerti dia. Kalau dia mau kuliah aku juga enggak keberatan. Aku justru bakalan dukung penuh."
Daisy melotot. Sedangkan Fiona yang mengintip berdebar-debar. Senyumnya merekah. Sedang hati telah berubah jadi taman bunga yang mendadak ditumpahi gula.
"Aku serius, Des. Kasih restu. Kamu tau aku, kita teman lama. Dikit banyak kamu tau aku. Apa nggak bisa kita rundingkan. Minimal kasih aku kesempatan. Di sini Fiona juga berhak bicara. Dia nerima atau nolak. Kalau dia nolak aku bakalan mundur," jelas Kris lagi. Berharap sangat banyak kali ini.
"Wah, kamu benar-benar, ya. Aku tanya, apa kamu bisa hidup sama dia? Apa kamu nggak ingat wajah ayahnya? Kamu mampu?" oceh Daisy.
Telak, perkataan itu buat Kris diam dan tiba-tiba meragu. Sejujurnya dia telah membulatkan tekad, hanya saja saat menikah bukankah pendapat Fiona juga penting? Dan soal ayahnya Fiona ini, Kris belum bisa menarik kesimpulan. Akankah gadis itu tenang saat ada bayang-bayang masa lalu?
"Mampu kamu? Punya hati enggak?" lanjut Daisy.
"Apa-apaan sih, Tan?"
__ADS_1
Fiona datang lalu menengahi. "Dikit-dikit ungkit ayah. Dikit-dikit sebut ayah. Kasihan Tan. Ayah udah tenang. Ayah nggak ada sangkut pautnya dengan hal dunia. Apa Tante tega jadikan ayah alasan agar keinginan Tante terlaksana?"
Daisy terbeku karena tak menyangka ada Fiona. Dia pikir Fiona masih diluar.
"Fi ...." Bibirnya Daisy bergetar. Matanya juga bergerak liar. Sapu yang ada di tangan juga telah terlepas. Dia shock.
Fiona menatap satu persatu orang yang ada di sana lantas pandangannya bermuara ke Daisy. "Tan, aku ngehormatin Tante, tapi Tante juga harus tanyain keputusan aku."
"Tapi masa depan kamu masih panjang."
"Iya, aku tau. Tapi rencana masa depan aku juga Tante harusnya nanya dulu. Nggak bisa asal putusin sendiri."
Daisy terdiam. Tangannya mengepal. Dia tahu Fiona, anak itu walau kadang oon tapi kadang membuatnya tak bisa melawan. Ada kalanya bijak, ada kalanya kekanakan.
"Jadi kamu beneran masih suka sama dia? Kami mau nerima lamaran dia? Kamu mau nikah muda?"
Fiona melihat ke belakang—menatap Kris yang juga tak berkedip menunggu jawaban. Lalu setelah itu menatap Daisy. "Iya, aku mau."
"Fiona, kamu masih kecil!"
"Jangan panggil aku anak kecil, Tan. Kecil-kecil gini bisa buat anak kecil. Tergantung caranya aja, mau halal apa haram."
__ADS_1
"Fiona!" Teriakan Daisy menggema seantero rumah.