Sugar Teacher

Sugar Teacher
Perubahan Kris.


__ADS_3

Kris yang ditanya begitu seketika membentuk smirk. Dia dekati Fiona yang berdiri di ambang pintu sembari memegang tas kecil.


"Pak, Bapak kesambet?" lanjut Fiona.


kris pun mengangguk. "Iya, saya kesurupan reog dan nggak lama lagi bakalan kesurupan genderuwo."


Fiona spontan terperanjat saat Kris berancang-ancang akan menerkam. Segera dia banting pintu kamar itu lalu menguncinya.


"Kaget gue. Itu si om-om kenapa jadi ganas begitu?" gumam Fiona, dia tekan dada dan merasai dadanya sendiri berdebar kencang.


Tanpa siapa pun tahu sebenarnya dia juga ingin menikmati malam ini dengan suka cita. Fiona bukan tipe gadis polos yang tidak paham tentang hubungan suami istri. Justru hidup di ibu kota buatnya paham pergaulan yang begitu. Hanya saja dia terus menjaga diri agar tak terjerumus. Lagian mana bisa aneh-aneh saat Filio selalu mengawasinya. Dan mengenai pertanyaannya yang nyeleneh tentang keperawanan itu hanyalah gimik belaka. Dia ingin menggoda Kris, ingin terlihat polos di depan Kris, ingin terkesan saleha meskipun otaknya sudah sejak lama memahami hal itu.


Fiona merasakan dadanya berdebar. Bibirnya berkedut menahan senyum. Kris telah jadi miliknya dan tidak ada lagi yang menghalangi cinta mereka. Keduanya telah membuang apa itu gengsi dan telah mengakui perasaan masing-masing


Hanya saja Fiona masi agak shock melihat perubahan Kris yang signifikan seperti itu. Kris yang kalem, yang cool dan yang selalu menjaga lisan dan perilaku sekarang berubah tak ubahnya pria mesum. Kris yang menyadarkannya arti cinta pada pandangan pertama. Kris juga yang membuat malam-malamnya selalu menghalu yang tidak-tidak. Bahkan setiap nonton Drakor dia akan membayangkan kalau pemeran ganteng nan gagah yang ditonton adalah Kris. Ya sehalu itu isi kepalanya.


Tak lama terdengar ketukan dari balik pintu. "Sayang Fiona. Buka pintunya. Kita mandi bareng!"

__ADS_1


"Sayang? Mandi bareng?" ulang Fiona lalu tersenyum kecil, mendadak pipinya menghangat.


"Hais, aku geer," lanjutnya lagi.


"Fiona, buka pintunya! Mandi bareng biar lebih efisien!"


"Sabar, Pak. Gantian!"


Segera Fiona membuka tas dan mengeluarkan satu papan pil KB. Otaknya yang setengah cerdas serasa mengerut melihat obat yang tampilannya sama.


"Ini kok melingkar-lingkar begini? Banyak anak panahnya. Jadi yang mana dulu yang diminum ini? Aih, pusing! Bodo ah, hantam saja." Fiona telan obat itu tanpa air. Lalu menyiram diri dengan air shower. Segar.


"Kamu lama banget." Kris mendekat dan tiba-tiba mendaratkan sebuah kecupan hangat ke dahi istrinya itu.


"Pak Kris?" Fiona yang telah terbalut piama Doraemon langsung terbeku.


"Jangan panggil Bapak. Saya suami kamu sekarang."

__ADS_1


Fiona mengangguk. Matanya yang belo mengerjap menatap. "Baik, P-pak."


"Pak lagi?" Alis Kris naik sebelah, setelahnya dia mengacak-acak rambut Fiona. "Kamu bersiaplah. Saya nggak bisa sabar nunggu sampai liburan ke Jepang. Saya ingin kamu malam ini," bisik Kris. Matanya yang sepekat jelaga mengunci pandangan Fiona.


Fiona yang gugup cuma bisa mengangguk lalu menelan ludah. Sekarang dia dan Kris hampir tak berjarak. Aroma lelaki itu juga merasuk langsung dalam hidung. Aroma yang selalu dia impikan. Aroma badan yang buatnya tanpa sadar mengikuti ke ke mana langkah Kris. Aroma tubuh maskulin yang dia ingat betul saat marahinya sedang mencoret motor.


"Pak, apa malam ini kita ... kita bakalan ...." Lisan itu terjeda karena Kris menyentuh pipi Fiona, sedangkan mata mereka tetap bersitatap.


"Saya yakin kamu paham. Saya lihat nilai biologi kamu sewaktu kelas sepuluh juga bagus."


Lagi, Fiona menelan ludah, kelat dan terasa horor. Sialnya meski sudah begitu dia tak bisa berhenti menatap wajah tampan nan maskulin seorang Kris.


"P-pak ...."


"Saya mandi dulu. Bersiap-siap saja. Sayang ...."


Fiona langsung merinding. Seluruh bulu halus di badan langsung berdiri. Dia tatap pintu kamar mandi yang telah Kris tutup.

__ADS_1


"Sial, gue ... gue harus ngapain sekarang? Harus apa dulu ini?" Fiona yang panik mondar-mandir di dekat ranjang sembari menggigit ujung kuku kelingking. Dia terus begitu hingga lima menit berlalu tanpa terasa. Tiba-tiba tubuhnya berjengket saat melihat Kris keluar dari kamar mandi dengan keadaan setengah basah sembari berjalan mendekatinya. Tatapan Kris tak lagi teduh seperti biasa. Melihat itu melemas kaki Fiona. Gadis itu berakhir terduduk di sisi ranjang.


"P-pak Kris?"


__ADS_2