
Acara berjalan dengan semestinya. Pidato kepala sekolah dan lain-lain juga telah selesai. Kini adalah acara hiburan. Dari pencak silat, tari tradisional, modern, maupun sulap, semuanya berjalan lancar. Riuh rendah. Euforia kentara sekali di sana.
"Baiklah kawan-kawan kali ini kita saksikan penampilan biduan kita. Biduan dangdut SMA Tri Dharma!" seru si MC yang merupakan teman sekelas Fiona. Tak ayal suara sorakan pun terdengar, riuh. Hanya saja Fiona yang sudah terbiasa dengan keadaan itu tak marah sama sekali. Tidak pula demam panggung karena sudah biasa tampil depan umum. Mentalnya sudah terlatih. Dia justru membalas dengan kekehan saja, lantas mengambil alih mik.
"Ehm, Tes tes tes. Satu dua di coba di coba. Sekali tes langsung ...."
"Huuuu ...."
Sorakan makin terdengar nyaring dan itu buat Fiona nyengir. Namun, senyum perlahan lenyap dan sirna saat melihat sosok laki-laki berkacamata yang duduk di barisan paling depan.
Kris, ya itu Kris. Lelaki itu menatap tak berkedip. Sorot mata yang buat Fiona tiba-tiba saja gugup. Sorot yang memanggil Fiona untuk menatap lebih lama, seakan minta diselami lebih dalam.
Namun, Fiona tidak ingin terlena sebab tahu, jika makin menatap makin dia ingin menyelam lebih dalam. Berisiko tinggi, bisa menenggelamkan dan Fiona tidak ingin itu terjadi.
Stop Fiona, jangan tatap matanya. Nanti repot sendiri. Sekarang lo aja udah kayak cewek sekarat, punya sakit jantung, darah tinggi, lambung dan dan lain-lain. Jika dibiarkan kamu bakalan beneran mati. Mati, batin Fiona.
Mengeram pelan, Fiona pun melihat ke belakang—ke teman-teman—dan mendapati anggukan menandakan kalau mereka sudah siap.
__ADS_1
"Ayo, dong, nyanyi!" seru seseorang yang Fiona kenal adalah teman sekelasnya.
"Nyanyi nyanyi nyanyi! Hu ...."
Fiona cuma geleng-geleng kepala melihat tingkah teman sekelas, sedang teman dari kelas sebelah—IPA—duduk anteng di barisan lain. Dari panggung Fiona bisa melihat perbedaan antara IPA dan IPS—kelasnya.
"Baiklah, sabar sabar. Biduan tercinta kalian ini bakalan nyanyi. Jadi jangan lupa sawerannya."
"Huuuu ...."
Sedang Filio, tak ambil peduli. Matanya hanya tertuju ke sosok wanita cantik yang ada di deretan bangku guru. Wanita cantik yang buat jantungnya berdebar kencang.
Musik mulai mengalun. Musik pelan yang lama kelamaan menjadi agak cepat. Fiona yang memang piawai memainkan gitar pun unjuk kebolehan dan dengan baiknya menyanyikan lagu yang berjudul Beraksi, dari Kotak.
Semua menikmati, suara Fiona yang merdu ketika berbarengan dengan musik begitu indah, begitu menghipnotis. Suara yang mampu menciptakan keceriaan untuk teman-teman yang menonton. Semua menikmati, kecuali Kris.
Akhirnya bait terakhir telah dinyanyikan. Fiona dan kawan-kawan tentu bergegas turun setelah sempat tebar senyuman dan lambaian tangan—seolah dia adalah Miss universe.
__ADS_1
Nahas, salah seorang teman tidak sengaja menyenggol bahu Fiona. Fiona yang berdiri paling sisi tak bisa menyeimbangkan tubuh dan akhirnya terjatuh dengan posisi telentang.
"Fiona!" Aulia paling cepat mendekat. "Lo, nggak apa-apa?" tanya Aulia lagi.
Namun, alih-alih menjawab Fiona malah menutup rapat mata lalu mencubitnya pelan. Detik itu juga Aulia paham sesuatu.
Ni anak pasti pura-pura pingsan. Malu ini pasti," batin Aulia.
Demi mendukung tingkah sahabatnya Aulia pun histeris jejeritan meski tahu Fiona bersandiwara.
Sorak gembira berubah dalam sekejap. Teriak penuh semangat menjadi teriak histeris dalam sedetik. Siswi bergerombol mengelilingi Fiona. Kris yang berdiri tak jauh langsung menerabas dan mencoba menyadarkan Fiona. Wajahnya yang tampan, pias. Tangannya pun gemetar. Pelan-pelan Kris tepuk pipi remaja itu.
"Fi, bangun Fiona!"
"Fiona!"
Nihil, Fiona tetap urung membuka mata. Dia malah mencubit betis Aulia yang tertutup kain. Kontan Aulia menjerit, "Pak, kasih napas buatan!"
__ADS_1