Sugar Teacher

Sugar Teacher
Pulang


__ADS_3

Mau tak mau Fiona kembali ke rumah dengan pakaian lengkap—masih berseragam putih abu-abu. Wajahnya masam kecut sepanjang perjalan, dan Aulia yang melihat ekspresi tidak mengenakkan itu menyentak napas.


"Gitu amat muka lo, Fi. Udah kayak ayam sekarat aja," desis Aulia. Dia benarkan kacamata lalu menoyor pundak temannya itu. "Senyum dong. Masa masam gitu. Mau muntah gue liatnya. Gak tahan."


"Dih, jangan toyor-toyor, dong. Sakit peak."


"Makanya biasa aja. Liat lo begini mata gue juga sakit tau. Gitu amat muka lo. Kalo gak mau pulang kenapa maksa pulang. Heran," oceh Aulia lagi. Dia sebenarnya senang Fiona menginap di rumahnya dan agak kesal saat cewek itu tiba-tiba bilang mau pulang dengan alasan nggak punya duit lagi.


"Lagian lo itu bisa nginep sepuasnya di rumah gue. Nggak perlu bayar."


Fiona memalingkan muka. "Nggak, ah. Gak enak gue."


"Astaga, Fi. Gitu amat. Serah lu, deh."


Hening, keduanya saling diam.


Setibanya di depan rumah, Fiona pun berpamitan pada Aulia. Mereka berpelukan cipika-cipiki seperti lupa bahwa tadi sempat marah-marahan. Tak lupa juga Fio mengucapkan terima kasih pada Aulia karena sudah ditampung beberapa hari. Dia senang bisa mengungsi dirumah Aulia yang megah.


Sayangnya rumah Aulia sangat sepi. Berbeda sekali dengan suasana di rumahnya sendiri. Rumahnya yang tidak sebesar rumah Aulia selalu berisik karena suara Daisy yang cempreng, belum lagi ada Lio yang suka mengerjai.


"Ya sudah, masuk gih. Jangan ngambekan. Kasian tau tante lo. Tapi kalo ngambek entar kabur aja ke rumah gue lagi. Pintu selalu terbuka," ujar Aulia yang disertai senyum jail.


"Lo doain gue berantem lagi?" balas Fiona, dia melotot geram.


"Ya, gak gitu. Cuma kan temen lo hanya gue seorang. Hanya gue yang ngerti lo luar dalem. Daripada lo minggat gak jelas mending ngadem rumah gue. Kita ngerumpi."


Alih-alih terharu Fio justru mendesis. Tiba-tiba saja dia merasa perasan gerah merayap ke dada. Dia tatap sinis Aulia. "Bilang aja ko kesenengan gue nginap rumah lo biar bisa ketemu Bang Lio terus. Iya, 'kan?"


Tak ayal celetukan itu membuat Aulia terbahak. Dia cubit gemas pipi Fiona yang manyun. "Nah, lo tau sendiri. Kalo ada lo di rumah gue kan gue bisa liat dia terus. Abang lo itu ibarat lampu yang menerangi. Sama adeknya yang nyebelin kayak lo aja dia perhatian banget. Apalagi sama istri. Abang lo the best."

__ADS_1


Fiona cuma berdecak saja melihat sahabatnya tersenyum bagai orang gila.


"Kalo ngebet, pepet aja ngapa."


Celetukan itu dibalas Aulia dengan decakan saja. Dia pun memilih meninggalkan Fiona dan masuk kembali ke mobil. Di belakang supir gadis berkacamata itu tersenyum sendiri sembari menekan dada yang mengentak-entak tidak beraturan. Membayangkan Lio dia serasa terbang. Rasa sukanya makin hari semakin tinggi saja dan dia tidak bisa menghentikan itu.


Sepeninggal Aulia, Fiona yang menenteng tas besar pun masuk ke pekarangan rumah. Sembari menenteng tas, sembari dia menghela napas berat. Tadinya dia berniat minggat paling tidak sebulan. Namun apalah daya, belum seminggu dia terpaksa kembali. Sebenarnya dia senang tinggal serumah sama Aulia, tapi ada ruang dalam hati yang entah kenapa memaksa untuk kembali, terlebih lagi sekarang tidak punya uang sama sekali.


Fiona mengembuskan napas panjang sekali lagi. Dia langkahkan kaki menapaki teras lalu melihat keadaan di dalam rumah yang kebetulan pintunya tengah terbuka lebar. Di sana dia melihat Daisy sedang berhadapan dengan beberapa anak.


"Assalamualaikum," ucap Fiona seadanya. Daisy yang tengah mengajar les di ruang tamu langsung terbelalak. Dia jawab salam Fiona, lalu berdiri hendak menyambut. Akan tetapi belum juga sempat bicara keponakannya itu sudah melengos pergi.


Dendam banget dia kayaknya, batin Daisy. Dia kembali duduk dan lanjut mengajar.


Tak lama setelah itu Fiona pun sudah berganti baju. Dia dekati Daisy yang kembali mengajar.


"Aku ke toko," ujar Fiona tiba-tiba. Mukanya di tekuk sedemikian rupa hingga membuat Daisy merasa makin bersalah.


"Gak. Aku gak laper." Setelah mengatakan itu Fiona pun melengos pergi. Daisy cuma bisa geleng-geleng kepala sembari mengurut dada.


Sepanjang perjalanan menuju toko Fiona terus mengomel. Dia bersungut-sungut sembari berpikir keras. Jujur saja, dia marah pada Daisy yang mempermalukan dirinya di depan Kris. Tapi rasanya tidak mungkin perang dingin mengingat dia juga butuh Daisy. Dia bergantung pada tantenya itu.


"Hais! Sial banget, sih," gerutunya sembari menendang batu kerikil. Entah kenapa perjalanan yang hanya memakan waktu sepuluh menitan itu serasa amat panjang baginya. Isi dadanya menggelegak mengingat perlakuan Daisy beberapa hari yang lalu.


Akhirnya tibalah Fiona di depan sebuah toko kecil, minimarket yang menjual berbagai macam bahan kelontong. Dimeja kasir, dia melihat sang abang sedang menghitung barang belanjaan pembeli.


"Udah pulang? Udah nyerah?" cibir Lio saat pembeli sudah pergi. Kini dia melihat sang adik yang berwajah manyun duduk di sebelahnya sembari bersedekap.


"Gue gak punya duit, Bang. Gak enak numpang terus sama Aulia."

__ADS_1


Lio mengangkat sebelah sudut bibir, lalu ikut duduk mensejajarkan diri dengan adiknya itu. "Jangan keras kepala, Fi. Walaupun lo sama Aulia deket tetap aja rasanya beda. Tante Daisy gak bisa kita ganti. Dia pengganti ayah. Jangan lupa itu."


Mendengar ceramah singkat sang abang membuat rasa jengkel merayap cepat dalam dada. Cewek itu pun menuju lemari pendingin dan mengambil air mineral. Dia kembali duduk di sebelah Lio.


"Habisnya gue kesel, Bang. Tante Daisy semena-mena. Salahnya gue apa coba? Wong cuma belajar," sungutnya. Pipinya mengembung bak buntal dan itu membuat Lio gemas dan menoyor kepalanya.


"Belajar ala elo dan belajar ala orang itu beda."


Fiona mendesis dan kembali menenggak minumannya.


"Lo ngebet banget ya sama tu duda?"


"Bang Lio! Yang sopan dong ngomongnya. Namanya Kris. Pak Kris," sahut Fiona. Dia mendelik sebal, dengkusan kecil juga terdengar dari hidungnya. Rasanya tidak rela saja ada yang menjelekkan pujaan hatinya itu.


Akan tetapi Lio yang memang tidak menyukai Kris tidak mau kalah. Dia tatap Fiona yang memberi dia tatapan kesal. "Apa? Memang dia duda, 'kan?"


"Duda sih duda. Tapi ya ngomongnya jangan gitu. Sinis banget. Ketularan Tante Daisy, ya."


"Ya enggak, gue cuma gak suka aja."


"Tapi gue suka, Bang. Gue harus usaha dapetin hatinya."


"Serah lu deh. Kayak gak ada perjaka muda aja."


Hening, baik Fio maupun Lio terdiam sembari memainkan gawai di tangan masing-masing.


"Fi," panggil Lio setelah hampir lima menit mereka diam-diaman. Dia lepas ponsel dan menatap sang adik yang sibuk stalking akun media sosial Kris sembari mesam-mesem.


"Kalo Tante Daisy ngasih pilihan antara dia sama Pak Kris, kira-kira lo bakalan pilih siapa?" lanjut Lio yang seketika membuat muka Fiona berubah.

__ADS_1


Liat visual mereka di IG aku yuk. adisty_rere


__ADS_2