Sugar Teacher

Sugar Teacher
balas Budi.


__ADS_3

Dup-dup-dup-dup.


Semua siswa maupun siswi bisa merasakan jantung mereka mengentak-entak. Detak hebat yang semakin lama semakin dahsyat menambah kegugupan yang ada. Mereka duduk tenang di belakang meja masing-masing. Semua begitu tegang tanpa terkecuali.


Jean yang berada di depan kelas tentulah tidak heran lagi. Dia sudah biasa melihat wajah anak didiknya memucat sebelum atau sesudah ulangan. Wajah-wajah yang biasa terlihat ceria sekarang begitu kaku tak ubahnya prajurit yang tengah berada di medan perang.


"Kenapa wajah kalian begitu?" tanya Jean. "Bukankah sudah saya bilang kalau hari ini akan ada ulangan? Harusnya kalian bisa mempersiapkan diri jauh-jauh hari agar nilai kalian sempurna."


Hening. Tidak ada yang menyahut atau bersuara.


Jean yang setengah kesal pun menurunkan sedikit kacamata dan memindai seluruh siswa. Tak ayal gelagat itu semakin menambah kegugupan mereka.


"Seperti biasa, yang nilainya di bawah tujuh puluh bakalan remedi dan remedinya akan kita laksanakan besok sepulang sekolah."


Serentak murid mengeluh. Mereka menghela napas panjang sembari menunggu hasil ulangan sudah ada di tangan Jean yang siap dibagikan.


"Dari tiga puluh siswa yang ada di sini setengahnya remedi," lanjut Jean yang semakin membuat mereka tegang. Dia pun mulai membagikan lembar jawaban yang sudah diberi nilai.


"Fi, gue tegang banget. Miss Jean tumben jadi killer hari ini," bisik Aulia.


Fio mendelik. Dia pijit tangan sendiri yang juga sudah terasa kaku. Tidak dipungkiri rasa gugup menyergap tiba-tiba.


Bagaimana tidak, ini adalah kali pertama gadis itu mengisi ulangan tanpa mencontek ataupun asal jawab. Dalam ulangan bahasa Inggris kali ini dia mengerahkan kemampuan dalam mengingat semua materi yang pernah Theo ajarkan dan dia yakin telah menjawab benar.


Namun, ada ketidakpercayaan diri yang tiba-tiba unjuk gigi dan melenyapkan keberanian itu. Fio menciut saat melihat satu demi satu teman sekelasnya maju. Ekspresi mereka kentara sekali, ada yang lega, tapi banyak juga yang masam kecut. Sementara dirinya, masih belum tahu.


"Gue takut, Au. Tante Daisy udah percaya sama gue. Jadi gue belajar mati-matian demi membuktikan ke dia kalau gue ini juga bisa pinter."

__ADS_1


"Ck, bilang aja lo mau nunjukin ke Pak Kris kalau elo itu layak jadi istrinya," cibir Aulia yang dibalas Fiona dengan kekehan.


Tak berselang lama namanya dan sang abang di panggil oleh Jean. Tentulah panggilan Jean itu melenyapkan senyuman Fio. Bergegas Fio menghampiri meja guru lantas menerima lembar ulangan.


"Ini hasil ulangan kamu," tutur Jean sembari menyodorkan kertas.


"Makasih, Bu." Fiona menjawab pelan, lantas memutar tumit menuju bangku. Bel tanda jam pulang sekolah sudah terdengar.


"Lo dapat berapa, Bang?" bisik Fio dalam langkah. Lio yang masam kecut mukanya tanpa segan memperlihatkan nilai. Ternyata angka lima puluh dengan angka sangat besar.


"Lo berapa?" balas Lio. "Pasti kurang lebih sana gue. Kita kan kembar. Biasanya kadar kepintarannya itu lima puluh lima puluh."


"Gak gitu juga konsepnya, Bang. Ngawur itu."


"Ya sudah, buka. Gue mau liat," balas Lio yang seperti tidak ingin dibantah.


Seketika dia histeris saat melihat angka tujuh puluh lima tertata di sana. Ini adalah mukjizat, selama ini tidak pernah bisa dia menuntaskan bahasa Inggris.


Namun, lihatlah sekarang dia tuntas hanya dengan satu kali percobaan.


"Gue dapat tujuh lima, Au. Tujuh lima!" seru Fiona yang membuat Jean geleng kepala.


Masih terbalut kebahagian Fiona dekati bangku Theo. Cowok itu terlihat tersenyum puas saat melihat angka seratus di kertas dan agak kagok saat melihat Fiona sudah berdiri di depannya.


"Ngagetin aja. Kenapa?" ketusnya seperti biasa.


"Aku cuma mau bilang makasih. Karena kamu aku gak remidi pelajaran Bahasa Ingris," balas Fiona yang tetap belum bisa mengenyahkan senyum. Mimik wajah yang entah kenapa membuat Theo menelan ludah, lantas memalingkan muka pura-pura sibuk menata buku.

__ADS_1


"Gimana sebagai ucapan terima kasih aku traktir kamu."


Theo spontan mendongak, seolah mencari kebenaran di wajah Fiona. Sekian detik dia berdecak.


"Aku gak butuh," balasnya sembari berdiri lalu melihat sekitar. Kelas sudah agak sepi. Siswa lain bahkan sudah pergi sedari tadi. Hanya tinggal beberapa saja yang masih mengemas buku, sama seperti dia.


"Aku serius, Theo. Aku mau traktir kamu. Tapi kamu yang boceng. Aku gak punya motor," lanjut Fiona.


"Aku gak butuh, Fiona ...." Theo berjalan lagi tanpa mengindahkan Fiona yang terus mengoceh.


"Ayolah, ini cuma traktiran biasa. Aku traktir kamu makan bakso di tempat langganan aku. Aku jamin pasti bakalan bikin kamu nangih."


"Aku gak percaya. "


"Ya udah, kalau begitu, ayo!" Fio tarik tangan Theo dan menuntunnya menuju parkiran.


Namun, tanpa diduga dia berpapasan dengan Kris. Idolanya itu menatap heran mereka. Bergegas dia raih ponsel dan mengetik pesan untuk Kris.


[Aku hanya ngajak Theo makan bakso sebagai ucapan terima kasih. Karena dia aku gak remedi] send.


[Saya nggak nanya]


Balasan ketus Kris tak menyurutkan senyum Fiona. Dia yang sudah duduk membonceng di belakang Theo kembali mengetik pesan.


[Aku hanya ngasih tau biar Bapak nggak cemburu. Karena apa, karena hatiku hanya punya Bapak.]


Kris yang sedang menenteng tas tersenyum kecil.

__ADS_1


[Oiya, besok jangan lupa, ya Pak. Kita kencan kedua dan aku yang bakalan tentuin lokasinya. Jadi, Pak. Bapak lebih baik bersiap-siap. Aku bakalan buat Bapak membuka hati untuk aku masuki. Just kidding]


__ADS_2