
Di sekolah.
Seperti biasa anak-anak akan menuju kelas masing-masing, tidak terkecuali Fiona. Cewek berkepang dua itu terus berjalan sembari membaca buku. Tangan kiri memegang buku dan tangan kanan memegang es boba.
Bukan sok pintar, bukan pula ingin dilihat hebat, tapi karena dia belum paham-paham makanya terus melototin itu buku. Sekeras otaknya berputar tetap tidak bisa membedakan mana sin, cos, tan, csc, sec dan cot dalam pelajaran trigonometri.
Kris yang melihat tingkah Fiona jadi tersenyum. Dia dekati muridnya itu dan sengaja mensejajarkan diri.
"Sudah dipake? Bagus nggak?"
Fiona yang memang kagetan spontan latah dan bersilat. Es boba yang tadinya ada di tangan kanan kini sudah beralih tempat ke kemeja Kris hingga membuat yang punya kemeja meringis menahan dingin.
"Dih, kan Bapak ngagetin, sih." Bergegas Fiona membersihkan baju Kris yang kotor, lalu matanya terpicing kemudian. Setelah itu mundur beberapa langkah ke belakang. Dia juga serahkan bungkusan tisu miliknya ke Kris.
"Bersihkan sendiri. Aku gak akan minta maaf. Kan Bapak yang salah."
Kris yang melihat itu tidak bisa marah. Dia justru tetap membuntuti Fiona sembari membuang beberapa jeli yang masih nemplok ke kemejanya.
"Kamu kenapa jaga jarak?" tanya Kris dengan santainya. Dia tahu sebenarnya, tapi hanya ingin mengikis jarak. Rasa ada yang aneh saja , hidupnya jadi hambar saat tidak ada Fiona.
"Jaga jarak wajib. Truk saja wajib jaga jarak, kok,"
"Tapi truk gandeng enggak."
Fiona memicingkan mata. Lalu melangkah lagi tanpa peduli pada Kris sama sekali.
Sebenarnya, jika dan andai jantung bisa ngomong, sudah dipastikan akan mengumpat pada Kris yang membuat denyut nadi, detak jantung serta aliran darah Fiona berubah drastis.
Namun, demi menjaga keamanan, kenyamanan dan ketentraman jiwa, Fiona tahan itu semua. Dia bertekat akan move on dan fokus belajar saja. Walau sekarang tidak dipungkiri tangannya berkeringat menahan detak jantung yang menggila hebat. Dia takut Kris mendengar lalu mengira dia masih berharap.
"Tapi nggak harus ngindarin juga. Kita guru dan murid," lanjut Kris. Sekarang mereka bejalan sejajar dan Kris bisa melihat langsung mata Fiona yang memicing.
"Bapak ini sebenarnya maunya apa? Kantor udah lewat, Pak."
__ADS_1
"Benarkah?" Kris gelagapan, dia melihat belakang dan memang kantornya telah terlewat.
Tidak tahu malu memang. Ditanya malah balik nanya. Tapi Kris juga tidak bisa apa-apa. Dia juga heran, jika dekat dengan Fio dia jadi linglung.
Namun, demi harga diri Krus pun mencari alasan dan senyumnya kembali hadir saat melihat sekilas materi yang Fiona pelajari.
"Kenapa nggak nanya Destian? Dia jago soal itu," tuturnya sembari melirik buku yang Fio pegang.
"Nggak mau." Fiona mendesis, lalu menutup buku. Dia juga memasukkan dalam tas selempang. "Dia galak. Bukannya pinter aku malah stres. Stres di usia muda gak keren sama sekali."
Kris yang mendengar itu tidak bisa untuk tidak tersenyum. Rasanya sudah lama tidak mendengar kecerewetan gadis itu.
"Mau saya bantu?" tanyanya lagi.
"Ngapain? Ya jangan lah."
"Kenapa?" Kris tetap mengekori Fiona.
"Mau move on?"
"Hmm."
"Memangnya sudah bisa?"
"Belom. Lagi usaha. Makanya jangan nyiksa." Fiona berhenti, dia bersedekap menatap Kris. "Bisa gak bapak pergi aja gitu. Pindah kek."
"Ya enggak bisa. Surat kerja saya di sini. Move on-nya pelan-pelan saja. Nanti juga terbiasa." Kris tersenyum dan itu bagai belati, tepat bersarang di dada Fiona. Gadis itu pun tidak sanggup lagi. Dia takut, takut ketahuan makanya berlari menjauh sembari terus mengusap air mata yang terus tergenang di pelupuk mata.
Sepanjang jalan bibir Fio tak henti merengut dan kehadiran Theo yang tiba-tiba membuatnya hampir kembali bersilat. Matanya yang sembab memicing lagi.
"Elo ngapain berdiri di sini, sih?" sungut Fio, setelah itu melengos pergi. Theo pun mengekori tanpa peduli kalau Lio tengah menatap tajam ke dirinya.
"Gue cuma mau kasih ini." Theo meletakkan sebungkus roti cokelat. "Elo kayak orang kurang gizi. Makan ini."
__ADS_1
Fiona yang telah duduk di bangku mendongak, mengerjap heran.
"Habisin, ingat. Habisin," ulang Theo yang seperti tidak ingin dibantah. Namun Fio tidak semudah itu menurut.
"Kalo enggak?"
"Ya ... ya elo yang bakalan gue habisin."
Mendengar ocehan tidak masuk akal itu Fiona pun tidak bisa untuk tidak tertawa. Dia terpingkal-pingkal hingga membuat Lio yang ada di bangku depan terheran-heran. Rasanya sudah lama dia tidak melihat Fiona tertawa lebar seperti itu. Tanpa sadar, senyumnya ikut terukir.
Namun berbeda dengan Theo, melihat tawa Fio dia merasakan ada yang berbeda. Ada yang aneh dengan jantungnya, detaknya sangat kencang. Sungguh luar biasa kencang.
Dengan langkah pelan Theo balik ke tempatnya, lalu duduk dan agak kaget saat Ali—teman sebangku—menyenggol lengannya.
"Lo kesambet?" bisik Ali.
Theo menggeleng cepat, lalu melihat keberadaan Fiona di belakang yang terlihat menikmati roti cokelat darinya. Melihat itu terkembang senyum Theo yang buat Ali geleng-geleng kepala.
"Elo itu udah jatuh cinta. Ngaku aja cepat. Nanti keduluan orang."
Gue, Gue jatuh cinta sama cewe barbar itu? Theo memukul pipi, lalu menatap Ali sengit. "Jangan mengada-ada. Ya enggaklah. Ngapain naksir dia."
***
Sepulang sekolah, Theo langsung mencari keberadaan Kris dan segera menghampiri Kris yang kebetulan ada di balkon atas. Ayah tirinya itu sedang senyum-senyum sendiri saat membaca pesan lawas yang Fio kirim
"Dad?"
Kris yang sedang tersenyum sendiri bergegas berdiri dan melihat wajah Theo yang pucat.
"Kenapa kamu?"
"Aku ... aku ...." Theo tekan dada dan merasakan detaknya semakin gila. "Aku, kayaknya butuh dokter."
__ADS_1