
Sementara itu di Ancol Fiona yang bahagia diajak jalan pun terus saja mengikuti Daisy. Di mana Daisy pasti ada dia. Berfoto bahkan berceloteh ria tanpa sadar kalau tingkahnya itu membuat Aris jadi gondok. Mulanya Aris mengajak Fiona itu hanya basa-basi, siapa sangka malah dianggap serius dan benar-benar ikut. Kesempatan untuk berduaan dengan Daisy jadi terbatas, bahkan hampir tidak ada kesempatan dan Aris kesal karena itu.
"Aku gak bisa gini. Itu anak harus disingkirin. Nemplok mulu kerjaannya dari tadi. Kayak Kuti aja. Gak peka sama sekali, yang harusnya nemplok kan aku," gumam Aris. Dia tatap punggung Fio dan Daisy yang berada tiga meter di depannya dan agak kaget saat Fiona membalik badan.
"Om, fotoin!" pinta Fio entah yang keberapa kali. Memori penyimpanan Aris hampir full karenanya.
"Sudah!" tanya Fiona lagi. Dia dekati Aris lalu melihat hasil jepretan calon pamannya tersebut dan senyumnya langsung mengembang. Fotonya kali ini tampak bagus dengan latar belakang biang lala.
"Om emang the best. Kita ambil foto yang lain dong, Om," celoteh Fiona.
Aris cuma nyengir. Dia tatap Daisy yang melihat sekitar, lalu menarik tangan Fiona mundur beberapa langkah. Mereka juga memunggungi Daisy.
"Fi, peka dikit ngapa," bisik Aris tanpa menyembunyikan perasaan. Dia tahu Fiona, gadis remaja itu tidak suka basa-basi. Dia ambil dompet dan mengeluarkan sepuluh lembar uang seratus ribu. Melihat itu berubah drastis mata Fiona.
"Mau gak?" lanjut Aris seraya melibaskan uang itu di depan mata Fiona.
"Mau, Om," balas Fiona tanpa berkedip. Matanya bahkan bergerak mengikuti arah uang itu.
"Ini bisa jadi punya kamu asal kamu kasih kesempatan buat Om. Masa Om dari tadi ngintilin aja. Om kan mau juga mau selfi bareng tante kamu."
__ADS_1
"Lah, Om kenapa nggak bilang? Ya udah nanti aku yang fotoin." Fiona berancang-ancang akan mengambil uang itu, tapi Aris dengan segera menariknya.
"Bukan itu, Fi. Maksud Om kita mencar."
"Lah, Om." Dahi Fiona mengerut, sedetik kemudian ujung matanya menyipit. "Om mau macam-macam sama tante aku?"
Aris yang gemas menjitak kepala Fiona hingga gadis itu mengaduh kesakitan.
"Ya nggak mungkin macam-macam. Manusia di sini bejibun, Fi. Lagian kamu pikir Om bisa macam-macam sama tante kamu yang galak itu?"
Fiona berpikir sebentar, lantas mengangguk mengingat tidak mungkin juga tentenya itu akan diapa-apakan Aris. Karakter sang tante seperti landak.
Fiona kembali mengangguk. Dia juga heran tantenya itu mau menerima lamaran Aris tapi memperlakukan Aris seperti biasa, seperti tidak punya hubungan padahal tanggal pernikahan mereka tidak lama lagi.
"Maka dari itu Fi, bantuin Om ya." Aris tampak mengiba.
"Terus nanti aku pulangnya gimana Om?"
"Kalo mau pulang ya pulang aja, Fi. Taksi online banyak. Kamu itu tinggalnya di ibu kota bukan di hutan, jadi nggak mungkin juga tersesat. Kalian juga beberapa kali kan ke sini?"
__ADS_1
Fio berdengkus malas, tapi mengiakan juga perkataan Aris.
"Paham kan maksud Om?"
Fiona mengangguk lalu mengambil cepat uang itu dan memasukkannya ke saku. "Ya udah deh Om, good luck ya. Tapi ingat tante aku jangan diapa-apain, belum halal."
Aris pun mengangguk paham lalu membiarkan Fiona pergi begitu saja mendekat ke Daisy yang berselfi sendiri.
"Tante, aku ke sana ya?"
"Lah, Fi, kamu mau ke mana?" Daisy menyimpan ponselnya, lalu menatap Fiona dan Aris bergantian.
"Mau jalan sendiri, Tan. Nggak lama kok, nanti sebelum jam lima aku udah pulang."
Setelah mengatakan itu Fiona pun berjalan menjauh. Kakinya yang mengenakan sepatu kets berjingkrak senang.
Ayo, dengan sejuta ini aku bisa main sepuasnya tanpa ocehan Tante Daisy, batinnya sembari tersenyum miring. Setelah itu menuju roller coaster. Matanya yang belo pun makin terbuka lebar.
"Aku mau naik ini," serunya dengan lantang. Namun langkah Fiona terhenti saat mendengar ada yang menyeru namanya dari arah belakang. Spontan Fiona membalik badan dan kaget kala tahu siapa yang memanggil.
__ADS_1
"Hay, nggak nyangka bisa ketemu di sini," sapa orang itu.