
Seusai ujian Fiona dan kawan-kawan menghabiskan waktu di sekolah. Sekadar bercengkerama atau besendagurau. Karena berpikir, setelah perpisahan dan pembagian amplop nanti mereka tidak akan punya waktu sebanyak ini. Dan atas keputusan bersama mereka pun akan masak-masak di kelas. Berbagi dengan teman sekelas juga adik kelas. Sebisa mungkin mereka menikmati hari yang tersisa.
Di saat itu juga Fiona kembali menjauhi Kris. Dia tidak ingin bibit-bibit cinta yang sempat layu kembali mekar. Jika sampai begitu dia tidak paham lagi cara meredamnya.
"Fi, lo ngelamun?" tanya Theo yang entah kapan mendekati Fiona. Cowok itu melihat pacarnya tampak tidak fokus saat mengaduk kolak kacang hijau yang di campur durian.
"Udah mateng itu," lanjut Theo lagi. Semua murid satu kelompok pun berdatangan. Mereka masing-masing menengadahkan mangkuk setelah jatah guru telah di pisahkan.
"Eh iya, Katanya udah." Fiona matikan kompor gas portabel, lantas mengambil mangkuk dan memberikan ke teman-teman. Semua tampak tidak sabar mencicipi hasil masakan Fiona yang aromanya merebak di seluruh sudut ruangan.
"Pelan-pelan, kalian antri," sungut Theo yang berusaha mengendalikan teman sekelompok. Begitulah, barang sedikit nikmat jika disantap bersama.
"Mereka udah?" tanya Fiona sembari memberikan sesendok besar kolak ke Theo. Kepalanya celingukan menatap sekitar.
"Udah, kelompok Mira, Nandi, Buana sama Salsa udah di setor di kantor. Cuma kita aja yang belom," jelas Theo, lalu meniup kolak itu. Setelah dirasa cukup dingin barulah dia menikmatinya.
"Enak, Fi. Lo cocok jadi koki," sambar Ali.
"Alah, paling ujungnya minta nambah," cibir Fiona yang direspon Ali dengan kekehan.
"Oiya, liat Bang Lio nggak?" sambung Fiona sembari memberikan kolak tambahan ke Ali.
"Nggak tau gue, kayaknya tadi ke lantai atas. Ke rooftop mungkin. Gue liat tadi dia jalan berang Aulia."
Fiona manggut-manggut. Rooftop memang hari ini dibuka, karena saat yang cewe masak, yang cowo olahraga, sedang peralatan olahraga ada di rooftop sana.
Tapi masalahnya kenapa bareng Aulia? batin Fiona.
"Fi, lo baik-baik aja, 'kan?" tanya Theo. Alisnya naik sebelah karena melihat keanehan Fiona. Semenjak seminggu belakangan Fiona terlihat lebih murung, seperti punya banyak pikiran.
"Enggak apa-apa. Oiya, bantu gue ke kantor, yuk. Anterin ini ke guru-guru," pinta Fiona. Sepanci kolak sudah ada di depan mata.
Sebenarnya Theo agak berat ke kantor, karena jika ke sana dia pasti bertemu Kris. Semingguan ini Kris seperti tidak mood untuk bicara. Di rumah kebanyak di kamar dan Theo sadar, perubahan Kris ini dimulai saat dirinya minta dilamarkan Fiona.
Namun kendati demikian demikian Theo sanggupi juga. Cowok berpakaian olahraga itu sudah berancang-ancang akan memakai pelindung tangan, tapi terjeda karena mendengar seruan dari belakang.
"Kenapa?" tanya Theo pada teman sekelasnya.
"Lo dipanggil Bu Sri. Di suruh keruangan dia sekarang."
__ADS_1
Theo menatap Fiona.
"Udah nggak apa-apa, panci ini biar gue yang bawa," timpa Ali. Dia yang sudah menghabiskan kolak segera menghabiskan air mineral gelas yang ada di dekatnya.
"Udah sono. Pergi sana. Ini biar gue sama Fiona yang urus," lanjut Ali.
Theo masih diam. Dia beranjak setelah mendapat anggukan dari Fiona.
"Hati-hati, Li. Panas," tegur Fiona.
"Nggak apa, panci ini nggak sepanas cintaku padamu," balas cowok itu yang buat mata Fiona terpicing.
"Jangan ngasal."
Aki yang dibalas begitu hanya terkekeh saja. Dia sadar, Fiona tidak akan pernah melihatnya. Maka dari itu dia putuskan menjalin hubungan pertemanan saja.
"Oiya Li. Bang Lio punya cewek nggak?" tanya Fiona di sela langkah, mereka kini berjalan di koridor menuju kantor.
Alis Ali mengernyit. "Cewek?"
"Iya, kalian kan meket. Masa enggak tau?"
"Gue tampol pake kolak panas, nih," ancam Fiona yang lagi-lagi buat Ali terbahak.
"Gue serius, Li."
"Gue juga. Tapi setau gue Lio udah lama enggak deket cewek lagi."
"Tapi dia bilang lagi naksir seseorang."
"Oh, itu. Iya gue tau. Tapi belom jadian. Ya bisa dibilang cinta dalam diam."
Fiona manggut-manggut. Tidak menyangka dia kalau abangnya juga melakukan hal yang sama seperti Aulia, mencintai dalam diam.
"Terus lo tau siapa?" tanya Fiona lagi.
"Tau. Itu orangnya ...." Wajah dan bibir Ali mengerucut dan terarah ke samping dan itu buat Fiona menoleh juga dan agak kaget saat melihat seseorang yang telah lama dikenalnya. Malah kenal baik.
"B-bang Lio naksir Mrs Jean?" tanya Fiona. Bibirnya bergetar saling tak percaya.
__ADS_1
"Biasa aja mukanya," sindir Ali. Dia sikut Fiona hingga cewek itu tersadar. "Ayo cepetan ke kantor. Berat ini."
Fiona pun akhirnya menurut. Dia yang sedang memegang beberapa mangkuk plastik terlihat menggaruk kepala.
Rumit ini. Gimana ceritanya Bang Lio naksir Mrs Jean? Wah, kalau jadi gimana nentuin silsilah. Mrs Jean itu temen Tante Daisy, lah kalo jadi bang Lio sama Mrs Jean itu artinya Mrs Jean jadi ponakannya Tante. Dan Mrs Jean jadi ipar aku. Wii gila. Gila ini mah. Fiona terus bermonolog dalam langkah hingga akhirnya tiba di depan pintu kantor. Beberapa siswi sedang mondar mandir di kantor menyuguhkan camilan untuk guru mereka.
"Rame, ya, Fi. Kira-kira ni kolak buatan elo laris kagak."
"Ya larislah ... Fiona. Ini gue buat dengan penuh cinta."
Ali terkekeh, dia berjalan bersisian dengan Fiona menuju meja yang telah tersedia. lantas, segera membagikan hasil masakannya.
"Wah enak, Fi. Enak. Manisnya pas," puji guru sejarah. Dia memberi jempol pada Fiona.
Fiona yang dipuji tentu melambung. Senyumnya merekah, tapi sirna saat tak sengaja bertatapan dengan Kris yang menatap tanpa mengedip.
"Pak Kris. Ini enak loh. Nggak mau nyicip?" seru guru yang lain. Mereka sudah pada heboh. Semua bersemangat kecuali Kris yang tetep duduk di tempat sembari membolak-balik buku tulis.
"Nanti aja, Bu. Tanggung," sahut Kris seadanya.
"Ambilin, Fi. Pak Kris kalo enggak diambilkan dia nggak bakalan makan. Dari tadi kerjaannya nggak selesai-selesai," bisik ibu sejarah.
"Eh tapi, Bu."
"Enggak apa, ambilin aja."
Meski canggung Fiona lakukan juga. Dia ambil semangkuk kolak ke Kris, lalu menyodorkannya.
"Simpan saja di sana," tolak Kris.
"Ambil aja, Pak. Udah disiapin ini."
"Nanti."
Kris dengan pelan mendorong mangkuk itu. Tapi apes, dorongan yang tak seberapa kuat itu membuat mangkuk yang berisi kolak tak sengaja tumpah dan mengenai tangan Fiona. Suara rintihan Fiona tentu terdengar dan Kris dengan sigap menarik tangan Fiona dan menuntunnya ke wastafel, membiarkan tangan Fiona terkena air mengalir.
"Kan sudah saya bilang, nanti ya artinya nanti. Jangan ngeyel," omel Kris yang terus membilas tangan Fiona dengan air mengalir. Terlihat amat bersalah wajah lelaki itu saat melihat punggung tangan Fiona yang mulus mulai kemerahan.
Sementara di saat bersamaan bukannya merasa sakit Fiona malah terbeku. Di sentuh Kris buatnya merasakan ada ribuan volt listrik yang mengalir di badan. Cewek itu tak bersuara, bahkan napas saja sempat tertahan beberapa detik.
__ADS_1
Astaga Fio. Tenang. Jangan baper. Jangan luluh. Jantung oh jantung, kuatlah kuatlah, batin Fiona. Tangan kirinya mengepal.