Sugar Teacher

Sugar Teacher
Rencana


__ADS_3

"Eh, lo serius?" tanya Aulia. Kini dia dan Fiona ada di toilet wanita. Keduanya saling tatap.


"Iya, gue mau balas dendam. Gue mau buat dia nyesal karena udah nolak gue, buat dia nyesal karena berkali-kali bohongin gue. Harusnya dia itu nggak usah pura-pura lagi. Orang gue aja emang udah berusaha buat lupain dia. Dia ngancurin semua pertahanan gue selama ini dengan tiba-tiba datang dan bilang suka sama gue, bahkan katanya berani minta izin sama Tante Daisy. Tapi setelahnya dia bilang pacaran sama Alin. Kebayang nggak sih gimana sakitnya, gimana bingung ngadepin dia yang kayak gini. Sampai nggak nyaman makan mikirin ini, mikirin niatnya itu apa," cerocos Fiona dengan emosi menggebu-gebu. Ada air di ufuk matanya itu.


"Terus lo mau apa? Biarin aja deh, biarin dia dengan kepura-puraan dia dan lo dengan hidup lo. Elo juga udah nerima Theo, kan?" balas Aulia. Sebenarnya dia tidak masalah dan akan mengikhlaskan baju tantenya yang dipakai Fiona ini. Dia itu cuma takut Fiona terlibat lebih jauh dengan Kris yang nantinya malah terjerat makin dalam. Jika sudah demikian pasti susah move on-nya


"Ya itu benar gue emang nerima Theo, tapi gue belum cukup balas dendam. Gue bakalan kasih lihat betapa hebatnya gue. Gue bakalan kasih lihat betapa cantik dan smartnya seorang Fiona sampai dia nggak bakalan bisa move on dari gue."


"Dengan cara pura-pura jadi tante-tante begini?" Aulia menarik sedikit kacamata lalu melihat Fiona dari atas sampai bawah. Lalu menggeleng-geleng kepala. "Serius lo?"


Fiona mengangguk yakin karena dari penampilan memang mirip seorang yang lebih dewasa. Sepatu kets yang tadinya dia pakai sudah berganti dengan heels manik-manik. Tubuhnya yang agak pendek berbalut gaun panjang semata kaki.


"Kira-kira apa yang kurang?" tanya Fiona Sekarang dia mematut diri di depan cermin.


"Mekap. Kamu kurang mekap."


Sahutan dari belakang buat dua remaja itu kontan membelalakkan mata. Pasalnya yang menyahut adalah Alin. Ternyata dari tadi wanita itu berada dalam bilik toilet dan mendengarkan sungutan Fiona.


"Tante Alin?"


Fiona dan Aulia segera membalik badan, menatap Alin yang terlihat cantik dan elegan dengan balutan gaun hitam selutut. Sedang rambut dibiarkan tergerai. Kedatangan Alin tentu saja buat Fiona terbeku.


"Jangan panggil tante, dong. Belum juga tiga puluh. Panggil Mbak aja, bisa?" sahut Alin yang seakan tidak peduli dengan pertanyaan Fiona tadi. Yang dilakukan kini adalah memindai Fiona dari atas sampai bawah, lalu menggerak-gerakkan kepala. Dia juga memegang dagu.


Sementara itu, Fiona tetap tidak bisa menetralkan keterkejutan. Matanya mengerjap dengan mulut setengah terbuka.


"T-tante, tante dari tadi di dalam?" tanya Fiona, lisannya terbata. Jangankan memanggil Mbak, membuka mulut saja dia kesusahan.


"Panggil Mbak, Mbak aja. Jangan tante. Oke."


Fiona dan Aulia mengangguk cengo.

__ADS_1


"Aku dengar sungutan kamu dari tadi dan aku minta maaf untuk itu. Aku juga ngelakuinnya karena dia yang minta, jadi jangan dendam, sama aku," lanjut Alin.


Fiona hanya diam memperhatikan Alin mengeluarkan sesuatu dari tas tangan. Wanita dewasa itu mengoleskan bedak, blush on dan lipstik. Dia juga menyulam alis Fiona hingga terlihat lebih lancip. Tak lupa menyulap serta bulu mata Fiona yang tadinya lentik alami sekarang jadi terlihat tebal dan memesona. Remaja itu tidak lagi terlihat lusuh.


"Sudah, sekarang kamu nggak kelihatan lagi kayak anak remaja," tutur Alin sembari mengemas semua perlengkapan.


"Jadi sekarang aku kelihatan umur berapa Tante eh Mbak?"


Alin mengangguk-ngangguk, dia menimbang penampilan Fiona. "Kamu sudah mirip dua puluh dua tahun," sahutnya.


"Kalah jauh dong, Mbak. Bisa nggak di dandani lebih tua lagi, yang lebih cetar lagi."


Alin yang gemas langsung memukul kepala Fiona dengan pensil alis, lantas berdecak. "Kamu itu mau jadi ondel-ondel?"


"Ya nggak mau. Aku mau kelihatan dewasa aja. Biar imbang sama dia."


"Sekarang juga kamu udah dewasa, kamu kelihatan seperti mahasiswi di tahun ajaran terakhir," sahut Alin.


Alin mengeluarkan satu set perhiasan yang kebetulan baru dia ambil dari toko perhiasan langganan.


"Ini, aku pinjemin. Jangan diambil apalagi jual. Mahal ini," tutur Alin sembari memasang kalung berlian di leher Fiona, tak terlupa juga anting berbentuk senada.


"Aku yakin mereka di sana nggak akan ada yang sadar kalau kamu masih SMA. Jadi berjuanglah dengan benar, balas dendamlah dengan benar pada dia," lanjut Alin lagi


Balas dendam pada dia yang gengsi dengan perasaannya sendiri, Alin menimpali dalam hati


"Ya udah, kalau gitu aku duluan."


Tapi tiba-tiba Fiona mencekal tangan Alin. Tatapannya ambigu.


"Tenang aja, aku nggak bakalan ngancurin rencana kamu. Aku justru akan mendukung," jelas Alin lagi.

__ADS_1


Fiona menggeleng, bukan itu alasannya mencekal lengan Alin. "Aku dengar Mbak dulu pernah suka banget sama dia."


Alin tersenyum kecil. "Ya, itu dulu. Waktu kita masih SMA. Tapi udah move on, kok. Jadi sekarang cuma menganggap dia hanya sebatas teman, itu aja."


"Sesimpel itu?" tanya Fiona. Tidak percaya.


Alin tersenyum tipis, lantas menepuk pundak Fiona. "Semakin dewasa maka kamu akan sadar kalau hidup itu nggak melulu tentang cinta, Fiona. Kamu masih muda mungkin pikirannya masih ke sana, tapi percayalah semakin kamu dewasa cinta itu nggak ya gimana-gimana. Malah kamu akan menghargai seseorang yang rela memperjuangkan kamu ketimbang kamu yang memperjuangkannya. Begitu juga aku. Aku nerima dia yang ikhlas, yang menerima kekurangan. Sebagai informasi aja, aku bakalan merit bulan depan sama laki-laki yang dulunya aku ogah banget, tapi ya sudahlah. Hati gampang dibolak-balik Tuhan."


Fiona terbengong begitu juga Aulia.


"Tapi aku minta kamu jaga rahasia ini ya. Rahasiakan kalau suka sama dia." Setelah mengatakan itu Alin pun berlalu. Tinggallah Fiona dan Aulia.


"Wau, dia keren," decak Aulia sembari membenarkan kacamata. Begitu juga Fiona yang mengerjap tidak percaya.


"Kamu jadi mau balas dendam?" tanya Aulia lagi.


Fiona mengangguk mantap. Lalu menekan pundak Aulia. "Doain gue. Gue juga mau jadi cewek keren depan dia."


"Oke, good luck." Aulia memberi semangat.


Dengan langkah yakin Fiona berjalan. Namun, dia yang tidak biasa pakai heels oleng ke kiri hingga membentur pintu. Tapi segera berdiri lagi sembari membenarkan gaun. Celingukan dia menahan malu karena beberapa orang menatap lucu padanya.


"Gue oke. Gue bisa," ujarnya saat Aulia hendak membantu. Dia tarik napas panjang lalu menuju meja dimana Kris dan teman-temannya berbincang. Dengan percaya diri dan dengan seluruh doa dia berharap rencana ini sukses.


Fiona tekan pundak Kris memakai tangan kanan hingga lelaki itu mendongak.


"Sayang, maaf aku telat. Kamu nggak marah kan?" kata Fiona lembut. Senyum juga dia ukir begitu manis hingga Kriss tidak berdaya. Dia terdiam begitu saja dan merasakan detak jantungnya menggila.


"Maaf, ya. Aku Fiona. Pacarnya Kris, salam kenal semua," lanjut Fiona lagi.


Seketika teman seangkatan Kris terdiam.

__ADS_1


__ADS_2