Sugar Teacher

Sugar Teacher
Niat move on.


__ADS_3

"Fi, lo serius enggak mau ikut gue ke kantin?" tanya Aulia. Dia tatap sendu Fiona yang menopang kepala dengan lengan yang terlipat di atas meja. Tatapan mata sahabatnya itu terlihat kosong dan itu meresahkan. Dia jadi enggan meninggalkan Fiona di kelas.


"Fi ... elo jangan nakutin gue napa? Serem gue liat lo yang kayak begini," protes Aulia lagi.


Kendatipun sudah dibujuk sedemikian rupa tetap saja respon Fiona cuma gelengan kepala.


"Elo ke kantin aja sendiri, Au. Gue di kelas aja. Lagi gak mood ke mana-mana," papar Fiona lesu.


"Tapi lo kayak lemes gini, pasti belom makan. Yuk ah, kantin. Nanti sakit."


Aulia terus saja membujuk sembari menarik pergelangan tangan Fiona. Namun, tubuh sahabatnya itu tetap tidak beranjak. Antara lengan dan meja seperti menyatu dan itu buat Aulia makin kehabisan kata.


"Fiona ...."


"Gue gak mau, Au. maksa makan nanti malah jadi masalah pencernaan. Sekarang lagi gak bisa makan gue. Lo aja yang ke kantin." Fiona tarik lengannya dan kembali memeluk ransel yang dia letak di meja. Pandangannya terlepr jauh keluar jendela.


"Fi ...." Aulia menggantung kata karena di ambang pintu dia melihat kedatangan Lio. Cowok itu memberi kode dengan sedikit gerakan kepala dan Aulia paham artinya.


"Ya udah, gue kantin, ya."


Fiona yang tidak menyadari kedatangan Lio cuma berdeham saja. Lalu kembali menenggelamkan wajah ke lengan. Rambut yang berantakan sama sekali tidak jadi pikirkan gadis itu.


"Masih uring-uringan?" tanya Lio dari belakang.


Fiona yang menyadari suara sang abang bergeming. Dia hanya menyentak napas panjang dan tetap melempar padangan ke jendela, memperhatikan awan yang mulai menghitam.


"Makan dulu. Gue beli ini buat lo." Lio yang merebah di kursi sebelah pun mendorong sebungkus roti selai cokelat berukuran sedang beserta air mineral. "Makan, Fi. Jangan bengal. Tante di rumah lagi sakit dan gue gak mau ngurusin satu lagi. Repot."

__ADS_1


Fiona yang malas berdebat menegakkan posisi, lantas menatap sang abang yang duduk di sebelahnya.


"Makan, Fiona. Nurut."


Perintah itu buat Fiona berdengkus lirih. Namun, dia raih juga bungkus roti cokelat itu lantas mengunyahnya, menikmatinya sedikit demi sedikit. Walau perut tidak lapar tetap saja dia harus sarapan dan menuruti kata Lio karena tidak ingin menambah beban.


"Tante beneran sakit?" tanya Fiona disela kunyahan.


Lio mengangguk satu kali dan memperhatikan Fio mengunyah. Tak dipungkiri ada rasa lega juga di hati cowok bersurai klimis itu. Sekarang sang adik ada kemajuan, tidak lagi mengurung diri di kamar, juga mau berbicara dengannya.


Hening. Fiona tetap menikmati roti isi coklat itu sembari menatap depan. Beberapa kali dia menghela napas. Melihat papan tulis dia jadi teringat lagi dengan Kris. Kenangan itu otomatis membuat air matanya tergenang, segera dia menyekanya


"Lupain dia, Fi. Ngapain juga lo nyiksa diri karena dia?" oceh Lio tanpa ekspresi sama sekali.


"Iya, Bang. Gue juga bakalan lupain dia. Ini juga lagi usaha."


Spontan Fiona tersedak, segera dia meraih air minum lantas menatap Lio dengan lamat. Tadinya dia memang menyadari kalau Daisy dan Kris saling mengenal, tapi tidak menduga kalau Kris juga merupakan orang berarti bagi tantenya itu.


"J-jadi dia ... kami ...."


"Lo bener. Kalian terpikat sama orang yang sama. Tapi tenang aja, Tante kita juga ditolak, kok. Karena laki-laki itu milih emaknya si cunguk."


Fiona mendelik sebal. "Bang, sopan dikit. Orangnya udah meninggal."


"Bodo."


Fiona menunduk lagi. Helaan napasnya makin terdengar sering.

__ADS_1


"Lupain dia, biar bagaimanapun dia itu jahat. Dia udah bikin kita jadi yatim piatu," tutur Lio yang kembali direspon Fio dengan pelototan.


"Jangan sembarangan, Bang. Dia nggak kayak gitu. Dia baek, buktinya Tante juga naksir."


"Masih mau ngebela dia?' tanya Lio, nada pelan tapi jelas sedang berang.


"Enggak, bukan begitu."


"Lo lupa waktu kecil apa yang kita dengar dari rekan kerja ayah. Mereka bilang kalau laki-laki itu nggak keras kepala ayah kita nggak bakalan masuk ke dalam."


Tentu, bagaimana bisa Fiona lupa. Waktu itu dia dan sang Abang jelas mendengar itu saat rekan kerja sang ayah datang melayat. Saat itu dia begitu membenci sosok Kris. Benci wanita yang hendak diselamatkan oleh almarhum ayahnya. Hanya saja ....


"Tapi itu tetap tugas Ayah kita. Kita gak bisa nyalahin orang."


"Fiona!" sentak Lio. Dia bahkan menggebrak meja. "Mau sampe kapan sih lo bela dia?"


"Gue enggak bela dia. Gue gini karena dia enggak salah. Ini takdir, Bang."


Alih-alih membenarkan Lio justru makin menjadi. Dia menyadari itu, hanya saja belum bisa terima. Hidup serba kesusahan di masa lalu buatnya sangat membenci Kris.


"Gila lo ya. Serah lu deh. Tapi yang jelas di mata gue dia itu penjahat. Dia yang udah buat kita jadi yatim piatu begini."


"Jangan salahin takdir, Bang." Fiona berdiri lalu menatap wajah sang abang yang masam kecut. "Gue janji bakalan lupain perasaan yang ada ke dia. Dia sama sekali gak punya rasa ke gue dan gue gak mau usaha lagi yang malah buat banyak orang gak nyaman. Jadi jangan khawatirkan gue, Bang. Gue bisa ngontrol diri. Tapi tolong jangan jelekin dia. Ayah kita meninggal karena memang udah takdir."


Setelah mengatakan itu Fiona pun berjalan menuju luar. Dia mencari tong sampah tapi justru melihat Kris dari kejauhan. Sesaat mata mereka bertemu dan segera Fiona membalik badan. Dia tekan dadanya yang berdebar hebat.


Ayolah, Fio. Sudahi, akhiri. Jangan kayak gini. Lo sama dia gak bakalan bisa sama-sama. Ini juga jantung kenapa sekarat begini, dasar murahan. Baru ditatap udah kelojotan. Murahan banget jantung gue ini, batin Fiona. Dia menarik napas panjang, lantas berjalan cepat kembali ke kelas.

__ADS_1


Sementara di belakang, Kris yang melihat perubahan Fiona pun menyentak napas. Semenjak hari itu tidak ada lagi gombalan receh Fiona di ponselnya, tidak ada lagi yang menyediakan roti serta sarapan di meja kerjanya dan entah kenapa dia merasa aneh, merasa kehilangan.


__ADS_2