Sugar Teacher

Sugar Teacher
Sunat


__ADS_3

Esok harinya


Lio dikagetkan dengan ketidakberadaan Fiona di kamar. Adiknya itu sudah mengemas kasur menjadi rapi. Beberapa buku paket serta tulis juga tidak ada di meja belajar. Dia sangat yakin Fiona sudah berangkat ke sekolah.


"Bagus lo gitu, Fi. Enggak suka gue liat lo kayak ayam sakit hanya gara-gara cinta monyet." Lio lantas keluar kamar. Kemudian mengernyit heran ketika mendapati tidak ada sarapan di atas meja. Tidak seperti biasanya.


"Tan, kok gak ada sarapan?" tanya Lio dengan sedikit berteriak.


Hening tidak ada jawaban.


"Apa jangan-jangan Tante juga ngambek. Is, awas aja kalau ngambek. Aku gebukin beneran itu laki-laki. Bisa-bisanya buat Tante sama Fiona sekarat begini."


Lio melangkah cepat menuju kamar Daisy. Dari pintu yang terbuka setengah dia bisa melihat Tantenya rebahan sembari selimutan. Ada beberapa obat juga di meja kecil samping kasurnya itu.


"Tante demam?" tanya Lio. Dia mendekat kemudian merasai suhu tubuh Daisy dengan punggung tangan. "Anget."


"Tante gak apa-apa." Daisy menjawab pelan dengan suara parau. Dia jauhkan tangan Lio lalu mengeratkan kembali selimut sampai pundak.


"Bisa gak kamu beliin Fiona sarapan. Tante gak sempat masak. Dari subuh meriang."


"Fio gak ada, Tan. Berangkat duluan dia kayaknya," balas Lio yang direspon Daisy dengan diam, beberapa detik kemudian bibirnya yang kering tersenyum sedikit.


"Bagus itu. Itu baru keponakan Tante. Ya udah, kamu berangkat, gih. Ambil uang jajan mingguan kamu Fio di laci."


Tanpa banyak kata Lio ambil uang jatah mingguannya dan Fiona, lalu kembali mendekati Daisy yang kembali meringkuk dalam selimut.


"Mau ke dokter?" tanyanya singkat.


"Gaya, masa cuma flu harus ke dokter. Gosah lebai. Tante cuma butuh istirahat. Udah minum obat juga tadi. Paling selimutan bentar udh normal lagi."


"Tante serius? Apa Lio ijin aja?"


"Coba aja kalo mau jatah jajan kamu Tante sunat."


Lio berjengket. Saat sakit pun Daisy tetap tegas dan galak.


"Nanti kenapa-napa gimana?" tanya Lio lagi.


"Gak bakalan. Tante udah mendingan. Bentar lagi juga bisa jalan."


Lio tidak bergerak dan itu buat Daisy yang sebenarnya masih pusing mau tidak mau melayangkan cubitan di betis ponakannya itu.


"Sakit, Tan!"

__ADS_1


"Makanya cepetan. Udah jam berapa ini?"


Lio berdengkus, dia berjalan menjauhi Daisy meski hati sebenarnya tidak tega. Di rumah itu hanya ada Daisy sendiri.


"Tan, Lio ijin aja, deh. Gak tenang ninggalin Tante sendirian," ulang Lio saat sudah sampai di ambang pintu.


Akan tetapi kebaikan Lio Daisy balas dengan pelototan. Dia yang masih lemah dibalik selimut tidak akan membiarkan keponakannya itu melewatkan pelajaran.


"Ijin artinya setuju disunat," balas Daisy tegas yang mau tidak mau buat Lio menjaga jarak dan bergegas pergi meninggalkan rumah.


Namun, sebelum itu Lio memutuskan membeli sarapan untuk tantenya itu. Entah kebetulan atau apa, saat mengantre dia bertemu Aris.


"Tumben beli sarapan? Destian lagi pergi?" tanya Aris sembari menyerahkan uang berwarna merah ke penjual, lantas kembali berkata, "Hitung juga punya dia."


"Wah, makasih, Om."


"Gak apa. Ngomong-ngomong tante kamu beneran pergi?" tanya Aris lagi.


"Enggak, ada kok di rumah. Cuma dia lagi demam. Katanya meriang. Makanya aku beli sadapan buat dia. Gak mampu masak katanya. Tapi diajakin berobat ke rumah sakit gak mau juga."


"Tante kamu emang begitu. Keras kepala."


Lio tersenyum kecil begitupun Aris. Sebenarnya Lio sangat senang dengan Aris ini. Aris dewasa dan terlihat tulus menyukai tantenya. Hanya saja hati tantenya itu seakan tertutup beton yang sulit diruntuhkan.


"Ini buat dia?" tanya Aris lagi.


"Ya sudah biar ini Om yang antar. Kamu berangkat aja ke sekolah. Nanti telat."


'Tapi Om._


"Gak apa-apa. Om sekalian mau liat keadaan dia," balas Aris. Senyumnya terlihat menawan.


Lio pun percaya saja, sebab selama ini juga Aris sangat peduli sama keluarganya. Dia serahkan kantong kresek berisi nasi uduk ke Aris. "Titip ya, Om. Kalo ada apa-apa tolong hubungi aku."


Obrolan antara Lio dan Aris pun selesai di sana. Dengan segera Aris mengendarai motor menuju rumah Daisy yang tertutup. Dia ketuk berulang kali barulah pintu itu mengayun membuka.


"Mau apa?"


Itulah pertanyaan yang keluar dari bibir Daisy. Mukanya pucat tapi tetap memberi tatapan galak.


"Cuma mau kasih sarapan. Ini titipan Lio."


Daisy yang malas berdebat pun mengambil kresek yang Aris sodorkan.

__ADS_1


"Makasih, pulang sana!" ketusnya.


"Ya Allah ... galak bener. Gak mau sarapan bareng?" Aris mengangkat satu kantong kresek miliknya.


Akan tetapi bukannya senang Daisy malah kesal. "Aris, aku lagi gak enak badan."


"Justru dari itu kita harus sarapan bareng. Aku mau liat kamu sarapan. Ini Lio loh yang minta."


Tidak mau berdebat Daisy pun menyetujui. Dia duduk di teras dan membiarkan Aris yang melakukan segalanya. Dari membuka karet nasi uduk sampai mengambil air putih di dapur.


"Des, gak kesepian?" tanya Aris disela kunyahan.


Daisy cuma mendelik bentar lalu kembali mengunyah.


"Gak capek ngurus dua keponakan saat kamu gak ada yang ngurus?" lanjut Aris.


"Ris, jangan berbelit. Kalo udah selesai makan mending pulang." Balasan Ketus Daisy buat harus tersenyum pilu.


"Aku cuma mau nemenin kamu. Nemenin kamu ngurus Fio sama Lio. Aku juga mau ngurusin kamu."


Daisy memilin diam dan tetap melanjutkan kunyahan.


"Des, aku itu gak punya orang tua lagi. Aku sebatang kara yang punya beberapa usaha. Apa kamu gak mau mempertimbangkan sekali lagi?"


"Aku bisa urus keuangan keluargaku. Jadi gosah banggain usaha kamu. Gak minat aku dengernya."


Aris melepas sendok pelan lalu menenggak air putih hingga tandas. Lamat dia menatap Daisy yang juga telah menyelesaikan sarapan.


"Des, kamu tau bukan itu niatku. Aku itu masih nunggu kamu, Des."


"Aku gak pernah minta ditunggu."


"Des."


Daisy berdiri dan mengemas semua piring. "Pulanglah Ris. Aku mau istirahat."


Dasi dengan tanpa perasaan membalik badan. Namun terhenti saat Aris memanggil namanya.


"Des, keluargamu itu butuh laki-laki. Kamu butuh suami, Des. Mau sampai kapan kayak begini?"


Daisy terbeku di tempat. Dia juga tidak tahu harus sampai kapan begini. Dari segi usia sebenarnya sudah siap berumahtangga. Hanya saja hati belum tergerak. Rasa sukanya untuk Kris masih ada makanya memilih mengabaikan Aris yang jelas-jelas menyukainya. Dia takut menjadikan Aris pelarian yang nanti akan menyakiti laki-laki baik itu.


"Kamu itu perempuan. Kamu butuh laki-laki buat jadi tulang punggung. Kamu juga butuh bahu laki-laki buat bersandar dan aku bisa kasih itu, Des. Terima lamaranku."

__ADS_1


Haruskah? Daisy membatin. Dia balik badan dan melihat lekat Aris yang mendekat.


"Kita udah kenal sejak jadi orok. Masa sama sekali gak ada rasa sih, Des. Coba perhatiin aku baik-baik. Aku ini ganteng, loh. Aku pekerja keras. Tabunganku banyak. Masa gak tertarik."


__ADS_2