
Setelah perpisahannya dengan Fiona di toko baju itu, Kris pun terlihat lesu saat memasuki rumah. Langkah lelaki itu begitu gontai menapaki lantai. Dia bahkan tidak sadar kalau telah melewati Theo yang berada di ruang tamu dan terus saja menuju dapur. Beberapa kali terdengar helaan napas panjang yang buat Theo terheran-heran, ayah tirinya itu juga menuang air dingin dalam gelas dan menghabiskannya dalam beberapa tegukan. Kris tak ubahnya seorang pria yang tengah patah hati.
"Dad?" tegur Theo.
Kris yang kaget agak membola matanya, tapi segera bisa menetralkan rasa keterkejutan itu.
"Ya, kenapa?" tanya Kris sebisa mungkin menahan diri.
"Daddy baik-baik aja, kan?" Theo yang berdiri memegang sandaran kursi meja makan menelisik ekspresi lesu Kris.
"Daddy kayak nggak sehat, apa perlu aku ambilkan obat?" lanjut Theo lagi.
Kris pun menggelengkan kepala. "Daddy baik-baik aja. Mungkin kecapekan. Kamu udah makan malam?"
"Udah, Dad."
"Ya sudah kalau gitu istirahatlah. Daddy juga mau ke kamar, mau istirahat."
__ADS_1
Theo diam di tempat dan itu buat Kris bertanya-tanya dalam benak.
"Kenapa ngeliatnya begitu?" tanya Kris lagi. Dia pindai Theo dari atas sampai kaki. Anaknya itu terlihat gagah dan segar dengan kaus oblong biasa dan bokser selutut.
"Ada yang mau aku omongin ke Daddy. Tapi kalau Daddy lelah besok aja."
Alis Kris tertaut. Dia pun memutuskan duduk. "Ngomong aja, Daddy mau dengar kamu mau bilang apa."
Pelan Theo tarik kursi, lalu merogoh saku celana dan menggenggam sesuatu di sana. Sekarang keduanya saling berhadapan.
"Aku mau ngomong," ulang Theo lagi. Terlihat penuh keyakinan dan itu buat Kris jadi tidak enak perasaan. Namun, karena Theo tidak pernah berbicara yang aneh-aneh maka dia akan mendengar. Theo telah dewasa dan wajar jika berbicara begini. Lagi pula mereka memang selalu berdiskusi tentang apa pun sejak Theo lulus SMP.
"Theo, kamu ambil uang tadi?" tanya Kris, agak kaget dia saat melihat nominalnya.
"Iya, Dad. Aku beli sesuatu," sahut Theo, tangannya yang ada di saku keluar dan dalam genggamannya ada sesuatu. Itu adalah kotak perhiasan berwarna merah hati yang masih dia letak di atas lutut.
"Apa yang kamu beli sampai lima juta?" lanjut Kris, dia pijit pelipis. Bukan nominal yang Kris permasalahkan saat ini. Dia hanya heran dengan apa yang mendasari Theo melakukan itu. Kenapa bisa mengambil uang sebanyak itu tanpa bilang?
__ADS_1
Selama ini Theo jika membeli sesuatu selalu bilang walaupun ATM itu Theo sendiri yang pegang. Dan sekarang dia agak shock Theo menarik uang dalam jumlah besar ya walaupun memang uang itu hak Theo.
"Aku beli ini." Setelah mengatakan itu Theo mengeluarkan tangan yang sedari tadi dia sembunyikan, lantas mendorong kotak kecil itu ke Kris. "Aku beli cincin. Bisa Daddy lamaran Fiona buat aku."
Bak mendengar petir tak kasat mata, Kris sampai menjatuhkan ponselnya ke lantai. Tak menyangka dia kalau anaknya itu minta sesuatu yang tidak pernah dia pikirkan.
Oke, pacaran mungkin bisa diterima, tapi jika sampai lamaran dan bertunangan itu rasanya agak jauh dari perkiraan. Terlebih-lebih sebenarnya dia masih belum move on seutuhnya dari Fiona jadi mana mungkin melamar. Beberapa bulan ini saja dia kelabakan menata hati dan sempat beberapa kali membayangkan mereka putus dan Fiona berlari mengejarnya lagi.
Namun jelas itu hanya khayalan belaka, jika mereka sampai putus pun dia tidak akan bisa bersama Fiona. Ada hati Theo yang harus dia jaga. Hati anaknya.
"T-theo, kamu serius?" tanya Kris, lisannya terbata.
Theo mengiakan dengan gerakan kepala. "Iya, aku ingin bertunangan dulu sama Fiona. Bisa lamarkan dia? Aku janji akan terus jaga kepercayaan Daddy."
***
Jeng jeng jeng. Simalakama jadi Kris. Yaudah ama aku aja ya Kris. hehehe
__ADS_1
Oiya, mau lihat Visual mereka follow IG aku yu.
adisty_rere