Sugar Teacher

Sugar Teacher
Tekat bulat


__ADS_3

"Fi, makan ya makan, belajar ya belajar. Jangan di gabung. Entar keselek," tegur Aulia. Pasalnya dia sedikit ngeri akan perubahan Fiona yang signifikan. Seingatnya baru tadi pagi sahabatnya itu seperti enggan melakukan apa pun karena patah hati. Tapi lihatlah sekarang, sahabatnya itu bahkan makan sambil menghapal. Tak ayal beberapa kali tersedak dan Aulia makin khawatir.


"Fi, tenang. Habisin dulu bakwannya," oceh Aulia yang tetap tidak diindahkan oleh Fiona. Cewek berambut tergerai itu masih saja mengunyah bakwan sembari menatap buku paket yang ada di tangan.


"Lo begini bikin gue takut tahu nggak?" lanjut Aulia.


Mau tidak mau Fiona pun melepaskan buku paket lantas menatap Aulia yang menyeruput teh es sembari memasang wajah jengkel. Gadis berkacamata tebal itu tampak gondok dan Fio tahu sebabnya.


"Au, emang kenapa sih dengan perubahan gue ini? Bukannya bagus ya, gue belajar serius sekarang."


"Ya iya bagus, sih. Cuma enggak usah dipaksain juga. Makan ya makan belajar ya belajar. Habisin dulu baru belajar lagi."


Fiona menyentak napas panjang, lantas menyeruput teh es miliknya. Dia tatap serius Aulia.


"Gue tau maksud lo baik. Masalahnya gue nggak punya waktu, Aulia. Lo tahu sendiri bentar lagi pelajaran sejarah sedangkan gue ada remidi. Gimana bisa santai kayak di pantai?"


Aulia cemberut.


"Au, lu jangan khawatirin gue. Gue baik-baik aja, kok. Justru dengan belajar gue bisa lupain semuanya. Lo tau perasaan apa yang gue rasa. Sakit, Au. Satu sekolah sama dia yang gak suka gue. Ditambah Tante gue juga suka sama dia. Sakitnya sampe ubun-ubun. Nembus ginjal terus nyerepet ke lambung. Sakit, Au ... sakit banget sumpah. Pusing gue mikirin nasib sial ini."


Mendadak mata Fiona mengembun, bergegas dia menghapusnya lalu kembali mengukir senyum riang. "Gue udah bertekad, kalau gue nggak mau mikirin apa pun lagi. Gue bakalan belajar mati-matian biar lulus, biar bisa bikin Tante Daisy senang. Hanya itu yang bisa gue lakuin sebagai balas budi. Lo tahu kan hanya dia yang gue punya. Dia berkorban banyak buat besarin gue sama Bang Lio."


-


-


-


Sepulang sekolah Fio tak langsung peluang. Dia sempatkan duku ke perpus mencari buku

__ADS_1


Ada begitu banyak pekerjaan rumah yang harus dia selesaikan sebagai siswi yang tidak pintar. Karena hampir semua pelajaran dia harus mengulang. Karena itulah dia bertekat akan belajar. Akan sukses agar tantenya bangga.


"Assalamu'alaikum."


Tidak ada yang menjawab salam. Fiona Lin memutuskan masuk dan melongok ke kamar Daisy. Tantenya itu tidak ada.


"Kenapa ngintip?"


Ocehan dari belakang gak pelak buat Fio berjengket Dia menjerit sembari menatap sinis Daisy yang melumuri wajahnya dengan masker.


"Kaget?" tanya Daisy lagi.


Fio cuma mendesis lalu ikut masuk ke kamar dan merebah di sisi ranjang. Dia perhatikan tantenya yang masuk kamar mandi, lalu keluar dengan wajah basah.


"Kata Bang Lio Tante sakit?" tanya Fiona. Agak heran dia. Tantenya tidak seperti orang sakit atau habis sakit.


"Tadi pagi. Selasih udah mendingan."


"Ya sudah keluar sana. Tante mau istirahat. Kamu makan ya. Tante udah siapin makan siang. Makan yang banyak."


Fiona terbengong. Lamat dia menatap Daisy yang berjalan mendekat dan ikut merebah di sebelahnya.


"Fi, Tante minta maaf soal yang kemaren. Tante akui Tante picik karena.nyembunyiin fakta ini. Kamu berhak marah."


Fiona mengembuskan napas berat. Dia juga menggeleng. "Kita move on yuk, Tan. Jangan ingat itu. Aku juga udah mutusin buat serius belajar."


Seperti tidak percaya, Daisy sampai tak berkedip menatap Fiona. Kalimat yang didengarnya ini bagai mantra yang menghipnotis. Pasalnya Fiona tidak pernah mau sekalipun belajar, alhasil keponakannya itu selalu mendapat nilai terendah di kelas dan remedial setiap ada ulangan.


"Aku udah putusin gak bakalan ngejar dia lagi. Aku nyerah, Tan. Dia memang gak bisa aku gapai. Dan juga ...."

__ADS_1


Lisan Fiona tergantung karena Daisy memeluknya tiba-tiba. Mereka saling diam, hanya air mata yang menjadi penengah. Daisy bahagia Fiona berubah pikiran.


"Maafin, Tante," lirih Daisy.


Fiona mengangguk. Dia eratkan pelukan sebelum akhirnya melepaskan. Dia hapus jejak air matanya.


"Tan, apa aku boleh nanya?" tanya Fiona yang dibalas Daisy dengan anggukan.


Sebenarnya sejak pagi Fio penasaran dengan isi hati Daisy. Dia memang sudah mengikhlaskan Kris dan berusaha melupakan.


Akan tetapi tidak dipungkiri dia penasaran dengan isi hati Daisy. Apa mungkin Daisy masih menyimpan rasa? Atau apa mungkin Kris akan jadi pamannya?


Sakit memang, tapi semua kemungkinan itu bisa terjadi mengingat waktu itu Kris begitu perhatian dan mesra saat memeluk Daisy.


"Tanya aja."


"Tante apa bakalan jadian sama ...."


"Iya, kami udah jadian."


Fiona shock. Tidak bisa berkata apa pun apalagi ketika melihat binar bahagia Daisy. Nyeri hatinya membayangkan Kris akan jadi pamannya.


"Tante punya pacar? S-siapa? Kok mendadak?"


"Tante pacaran sama orang yang pernah ada di hati Tante. Kamu kenal dia. Sebentar lagi dia bakalan ke sini. Ini Tante lagi siap-siap. Ka—"


Lisan Daisy terjeda karena ponselnya berdering dan Fiona sempat melihat kalau yang menelepon adalah Kris.


Sesak, air mata Fiona berderai. Tidak mampu dia menahan gejolak sakit hati dan kecewa dalam dada yang membuatnya hampir lupa cara bernapas. Dia tatap nanar Daisy.

__ADS_1


"Tante pacaran sama dia?" tudingnya ke ponsel Daisy yang bergetar dan ada nama Kris di sana.


__ADS_2