Sugar Teacher

Sugar Teacher
Keluarga tajir.


__ADS_3

"Ada apa ini?" tanya Fiona setelah tiba di teras, membuat Daisy dan Kris berdiri serentak. Keduanya tampak kaget.


"Nggak ada apa-apa. Kamu masuk, Fi. Bentar lagi magrib."


"Aku gak mau masuk sebelum tau alasan Pak Kris ke sini?" balas Fiona, berani.


"Bukan apa-apa." Daisy berdiri lalu mendorong tubuh Fiona. Tapi Fiona bukanlah anak kecil yang diperintah manut saja. Dia tahu ada yang tidak beres di sini.


"Pak, kenapa datang ke sini? Apa ada alasan Bapak buat ke sini?" tanya Fiona lagi


Kris pun membenarkan posisi. Dia berdiri.l. "Begini."


"Kris!" sela Daisy. Dari raut mukanya sudah terlihat jelas kalau sedang tidak senang. Tentulah gelagat itu membuat rasa penasaran Fiona semakin membuncah. Otaknya mulai menerka, mungkinkah Daisy dan Kris punya hubungan di belakangnya.


Namun, pikiran itu segera ditepis Fiona jauh-jauh, karena memang tanggal pertunangan antara Daisy dan Aris sudah ditentukan. Tidak mungkin tantenya itu cari penyakit dengan cara menduakan Aris yang jelas-jelas tulus padanya.


Fio sadar, Daisy itu sosok yang diluar prediksinya, tapi tidak mungkin tantenya itu akan mengambil pilihan rumit. Menduakan laki-laki baik seperti Aris dengan laki-laki yang jelas nggak punya rasa kan jatohnya gob*Lok.


"Ada apa sebenarnya, kalian ngerahasiain sesuatu?" tanya Fio. Ekor matanya menukik.


"Fi, begini ...."


"Kris, udah aku bilang Fio nggak bakalan mau," potong Daisy lagi. Terdengar panik. Dia dorong lagi tubuh Fiona dan menyuruh masuk.


Namun, Fiona menolak dan tetap menatap Kris heran. "Aku mau dengar."

__ADS_1


"Fi, masuk!"


"Enggak." Fiona malah bersandar di dinding. Dia menikmati wajah gusar Daisy.


"Kris, mending kamu pulang. Aku gak mau dia bad mood lagi karena kamu."


"Tapi ini demi kebaikan dia. Tolong terima niat baikku, Des. Aku hanya mau melakukan sesuatu buat Fiona dan Filio."


"Memangnya apa yang bisa Bapak lakukan buat aku sama Bang Lio?" tanya Fiona dia penasaran sekaligus geram.


"Enggak banyak. Saya cuma ingin melakukan sesuatu buat kalian." Kris membungkuk lalu mengambil sesuatu yang ada di kursi, setelah itu membukanya. "Saya mau kasih ini ke kamu Fiona. Ini bisa mempermudah kamu dalam belajar. Nilai kamu meningkat akhir-akhir ini. Jadi ini bisa membantu kamu belajar. Biar makin giat lagi dalam belajarnya."


"Bapak kasih saya laptop?" tanya Fio yang hampir saja tergelak ironi. Keluarga itu membuatnya berdecak kagum, tadi sang anak membeli ponsel seharga motor. Sekarang ayahnya datang menyodorkan laptop, benar-benar di luar dugaan.


"Tolong jangan berpikir yang nggak-nggak. Saya kasih ini biar kamu belajarnya gampang. Kalian sebentar lagi bakalan ujian. Jadi ini mempermudah kalian dan juga bisa kamu pakai untuk kuliah nanti," kata Kris lagi.


"Tolong Des kamu jangan ambil sisi berbeda. Aku nggak pernah berpikir kayak gitu ke kamu. Aku yakin kamu cukup mampu."


"Lalu?" Daisy berkacak pinggang. Tensinya naik kali ini.


"Aku hanya ingin melakukan sesuatu, itu aja."


"Biar apa? Biar Bapak tenang?" sindir Fio. Kris pun bungkam.


Memang, itu alasan Kris melakukan itu. Selama ini dia merasakan rasa bersalah yang luar biasa dan tidak bisa berdiam saja melihat dua bersaudara itu hidup dalam kesederhanaan sedang dia dalam kenyamanan.

__ADS_1


"Maafkan saya."


"Untuk apa minta maaf? Kan sudah aku bilang Pak. Aku itu nggak akan benci Bapak, itu hanya kecelakaan.


"Tapi tetap saja tolong ambil pemberian saya ini."


"Aku bisa belikan Fiona laptop, Kris," balas Daisy lagi. Tangannya mengepal. Aku cuma tinggal nunggu uangnya ngumpul, lanjutnya dalam hati.


"Bukan masalah bisa atau enggaknya, aku hanya ingin agar kamu juga bisa mikirin diri kamu sendiri."


Fio dan Daisy saling tatap.


"Maksud kamu Kris? Apa sekarang kamu ngehina aku nggak becus?" Daisy tampak barang. Namun ocehan itu dibalas Kris dengan gelengan kepala.


"Bukan itu maksudku. Aku cuma ingin kamu ...."


"Sudahlah, aku ambil," balas Fiona. Dia pusing mendengar perdebatan dua orang dewasa yang ada di depannya itu.


"Aku ambil Pak, terima kasih. Aku harap ini hadiah pertama dan terakhir yang Bapak kasih. Aku gak mau ada kabar miring karena hadiah lain. Aku janji akan pakai ini sebaik mungkin. Kalau begitu Bapak pulanglah. Sekarang udah magrib, aku nggak mau ada fitnah karena Tante Daisy bentar lagi mau nikah."


Fiona pun melengos masuk ke dalam. Tak berapa lama terdengar mesin motor menyala lalu perlahan hilang. Setelah itu masuk Daisy yang menatapnya heran.


"Kamu serius ambil ini?" tanya Daisy. Dia duduk disebelah Fiona.


Fio lin mengangguk walau hati sebenarnya juga bingung kenapa bisa ambil itu barang.

__ADS_1


Sudahlah, gue ambil karena malas berdebat. Malas kalau dia harus jadikan alasan lain biar bisa ketemuan. Kalau begitu kapan move on? batin Fiona. Lalu menyalakan laptop. Daisy pun membantu.


Baiklah, untuk merayakan ini, haruskah gue nonton yang hot hot pot? batin Fio lagi sembari nyengir menatap Daisy yang geleng-geleng kepala.


__ADS_2