
"Mampuss," umpat Fiona lagi. Dia yang berjongkok perlahan-lahan mundur dan hampir terjengkang saya melihat sepasang kaki berdiri tepat di depannya.
"P-pak Kris?" Mata Fiona membola. Namun
belum juga selesai dengan keterkejutannya itu tiba-tiba Kris menarik lengannya lalu menuntunnya berdiri di balik susunan baju yang bergantung. Lantas, membuka jaket dan menyelimutkannya ke Fiona.
"Pakai," titah Kris lagi.
Fiona yang masih belum bisa berpikir langsung melakukan perintah. Seperti terhipnotis. Tidak wajar sebenarnya, Kris di sana tampak panik tapi Fiona malah terpesona. Raut mukanya berubah dalam sekejap mata saja. Dia bahkan tidak menyadari kalau jaket yang menyelimuti tubuhnya itu kebesaran.
"Maaf," lanjut Kris, sedetik kemudian dia tarik ikat rambut Fiona hingga rambut itu tergerai menjuntai. Sesaat Kriss terdiam. Aroma sampo Fiona menguar masuk ke hidung dan itu buat debaran jantungnya makin gila.
Demi mengusir rasa itu Kris sampai menggeram rendah dan berpura-pura mencocokkan baju ke Fiona hingga sosok yang mereka hindari tiba dengan sorot mata heran.
"Kris, Fiona, kalian di sini?"
Kris membalik badan dan memasang wajah datar. "Nando, kamu belanja juga?" balas Kris yang seolah tidak mengetahui keberadaan Nando. Dia juga terlihat celingukan.
"Sendiri?" lanjut Kris lagi.
__ADS_1
"Eh enggak, eh iya." Mata Nando menatap Fiona lekat dan itu buat Fiona gugup bukan kepalang. Saking gugupnya gadis itu bahkan tidak sadar kalau telah menarik sisi celana Kris.
Kris yang paham segera bergeser sedikit, sengaja menghalangi tatapan Nando yang mengintimidasi itu.
"Kenapa ngeliatnya begitu? Apa ada yang salah?" tanya Kris, penuh penekanan dengan muka yang tetap datar. "Salah ya kalau kami belanja?"
"Ah enggak, bukan gitu maksud gue, tapi ...." Nando menggantung lisan dan saat melihat wajah tidak senang Kris dia mulai paham.
"Ya udah, gue balik, deh. lanjutin aja belanjanya." Nando yang memakai kemeja cokelat membalik badan, tapi saat hendak melangkah dia kembali menatap Kris dan Fiona.
"Oiya, Kris pacar lo keliatan beda. Agak lebih muda."
"Eh Mas Nando bisa aja, pujiannya aku suka," Fiona nyengir. "Tapi memang banyak kok yang bilang gitu. Bahkan mereka mikir aku anak SMA."
"Nah itu. Kamu keliatan muda banget," balas Nando yang masih menelisik ekspresi Fiona.
Segera Fiona melibaskan tangan. "Bukan, mungkin karena pendek makanya gak keliatan tua. Aku dah diatas umur rata-rata menikah, kok. Jadi jangan khawatir. Kecil-kecil begini udah bisa loh di ajak buat anak kecil. Mas Kris-nya aja yang nggak mau."
Kris auto melotot, tapi demi menutupi kebohongan dia pun tertawa garing dan mencubit pipi Fiona dan memberi tatapan geram. "Belum, belum saatnya, Sayang."
__ADS_1
Nando mengulas senyum meski agak aneh melihat kebersamaan Kris dan Fiona yang terlihat tidak natural. Namun Nando memilih diam saja dan kontan melihat sekitar sesaat ingat tujuannya ke sana. Seingatnya tadi dia mengejar sosok gadis misterius yang tiba-tiba berlari menghindarinya.
"Yaudah lanjut aja kalian. Gue pergi dulu. Have fun ya, Fiona. Oiya, Kalau Kris nya nggak mau halallin kamu aku bersedia, kok." Setelah itu Nando mengedip. Mirip bajingaan tengik dan itu buat Kris menggeram kesal.
"Makasih tawarannya. Tapi aku dah kesengsem ama duda sejenis beruang kutub ini. Jadi nggak bakalan berpindah hati," balas Fiona. Nanda pun berdeham malu, sedang Kris jadi salah tingkah.
"Ya bagus kalau gitu. Jangan lupa undangannya, ya."
"Sip!" Fiona memperlihatkan jempol serta senyumnya yang menggoda. Dia terus tersenyum hingga akhirnya tubuh Nando tidak terlihat.
"Syukurlah dia nggak curiga," ucap Kris pelan. Helaan napas lega keluar dari bibirnya.
"Jadi selama ini Bapak ngintilin aku sama Theo?"
Kontan Kris membalik badan. Muka yang tadinya lemas kembali tegang kala melihat Fiona telah menatap sengit sembari bersedekap.
"Bapak ngikutin kita selama ini?" lanjut Fiona.
Kris menggeleng. Dia tak ubahnya bocah lima tahun yang ketahuan meminjam barang punya teman tanpa bilang. Mukanya pucat.
__ADS_1
"Mmm ... i-itu itu ...."