
"Seriusan?" tanya Aulia. Matanya membola tidak percaya saat mendengar cerita Fiona yang mengatakan kalau Kris memberi lampu hijau di kencan ketiga mereka.
"Iya, Au. Masa lo kagak percaya? Gue serius banget ini. Awalnya gue gak percaya juga. Tapi setelah gue liat-liat kemarin Pak Kris itu juga kayak demen ama gue. Gelagatnya beda. Kayaknya dia dapat hidayah dan sadar kalau hanya gue jodoh yang tepat buat dia," jelas Fiona panjang lebar. Senyumnya merekah, dia juga menghayal yang tidak-tidak. Membayangkan wajah Kris yang tampan dan mengingat kejadian kala di kebun binatang kemarin buatnya berbunga. Makin kesemsem dia pada guru muda yang berpredikat sebagai duda itu.
"Ya, gue sih sebenarnya senang aja, Fi. Gue seneng dengar kalau itu guru buka hati buat lo. Tapi ... tapi ...."
"Tapi apa?" sela Fiona. Dia yang duduk di sebelah Aulia menatap lekat tanpa peduli murid-murid sudah memenuhi ruang kelas.
"Gue takut, takut lo ketiban perasaan sendiri."
"Asem!" Fio berdengkus, dia bersedekap lalu membuang muka menatap depan. "Lo sebenarnya temen gue apa bukan? Harusnya ikut seneng, bukannya buat gue insecure lagi."
"Yakin, sumpah. Gue itu sayang sama lo, Fi. Tapi menurut gue, lo sama Pak Kris itu gak cocok."
Fiona mencebik. "Terus maksud lo gue cocoknya sama siapa?" Fiona membalik badan lantas tidak lama lewatlah Ali yang menyapanya dengan senyum amat manis. Dia jadi bergidik dan menatap kesal Aulia yang tiba-tiba tersenyum semringah.
"Jangan bilang kalo gue cocok sama Ali?" Fiona menjeda kata, lalu mencubit lengan Aulia gemas saat mendapati anggukan kecil dari sahabatnya itu.
"Jangan gila, dong. Dia itu Ali, temen Bang Lio. Ya kali gue dekat sama dia," sungut Fiona. Mukanya ditekuk sedemikian rupa.
"Emang yg kalo deket sama saudara gak boleh dipacarin?" balas Aulia. Alisnya mengernyit.
__ADS_1
"Ya gak gitu juga. Bodo ah, pokoknya gue gak mau berhubungan sama Ali. Kita cukup temenan aja. Lagian gue juga gak ada yang gimana-gimana saat liat dia. Gak kayak liat Pak Kris. Bawaannya ... ih, gemas pengen tak peluk."
"Sadar!" Aulia menoyor kepala Fiona gemas. "Masih sekolah juga. Pikiran mesumnya tolong dikurangin, gak baik."
Fiona berdengkus lalu tak lama masuklah Theo. Dia sempat beradu mata dengan Theo tapi cowok itu terang-terangan membuang muka. Membuat Fiona sedikit kesal.
"Itu orang ngapalah jutek benar?" sungut Fiona lagi.
"Siapa?"
"Tuh. " Dagu Fiona sedikit bergerak, sebagai kode bahwa yang dimaksudnya adalah Theo. Cowok itu baru saja merebah di kursi tanpa menoleh kebelakang sama sekali.
"Heran gue. Sejak dia tau gue kencan sama bapaknya bawaannya jutek banget tiap liat gue. salah makan apa gimana itu orang?"
"kenapa? Cari gara-gara gue kibas jadi lele lo."
Akan tetap balasan Aulia cuan cengiran saja.
"Fi, kalo gue lihat-lihat lo cocok sama Theo ketimbang Pak Kris."
"Ish, jangan mengada-ada. Cocok dari mana coba? Selain umur yang sebaya, kita itu kayak langit sama bumi. Jauh banget."
__ADS_1
"Nah, daripada lo sama Pak Kris. Kalian itu udah kaya bumi sama matahari. Udah jauh, panas pula. Udah deh, saran gue nyerah aja. Mending gaet anaknya. Sama-sama cakep juga," goda Aulia, matanya mengerling jail hingga membuat Fiona yang kesal jadi tambah keki. Dia mencubit lengan Aulia, lantas berdiri.
"Mau ke mana?" tanya Aulia sembari mengusap lengannya yang panas gara-gara dicubit Fiona.
"Mau ngomong sama dia. Heran gue, kecil banget otaknya. Masa gara-gara gue deket sama bokap dia, dia jadi ngindarin gue. Dah semingguan ini gak ngajarin gue bahasa Inggris. Mana mid gak lama lagi."
"Nah, itu sadar kalo lagi butuh. Pepet aja ngapa?" lanjut Aulia yang masih bersikukuh.
Fio yang gemas mengangkat tangan. Aulia refleks menutup kepala dengan lengan, takut-takut Fiona memukul. Namun, cewek berkepang dua itu justru mengusap kepalanya sembari berkata, "Please, jangan paksain kehendak lo ke gue. Gue naksir berat ama bokapnya, bukan ama anaknya yang judes itu. Jadi, jangan ngadi-ngadi kalo gak mau Bang Lio tau soal perasaan lo ke dia."
Spontan Aulia bungkam. Dia tatap punggung Fio yang perlahan menjauh. Sahabatnya itu langsung duduk di sebelah Theo. Dia memilih diam saja dan kembali membaca novel kesukaan.
Sementara itu di depan, Theo yang menyadari Keberanian dan keberadaan Fio pun berdengkus kesal. Namun, memilih abai seolah Fiona tidak terlihat.
"Jangan giniin aku bisa gak?" ketus Fiona to the poin. Gerah hati juga dia lama-lama diginiin. Nyatanya, Theo tetap acuh.
"Theo, Kamu itu gak bisa ngelarang Pak Kris buat deket sama aku."
Theo berhenti dan memberi tatapan tajam bak elang.
"Aku itu butuh kamu. Mana janji kamu yang bilang mau bantuin aku dalam belajar," lanjut Fiona.
__ADS_1
Theo mengentak napas kasar, lalu berdengkus. Dia ambil beberapa buku paket lalu menuju pintu. Di depan dia melihat ada Lio yanh berdiri mematung menatapnya serius.
"Nanti pulang sekolah gue tunggu lo di belakang gudang. Kita perlu bicara," bisik Lio saat berpapasan dengannya.