Sugar Teacher

Sugar Teacher
Minggat.


__ADS_3

"Tan, Tente!"


Teriakan Lio menggema di rumah dua lantai itu. Tidak hanya berteriak, Lio yang sudah rapi dengan seragam sekolah juga berlari menuruni anak tangga dan menghampiri Daisy yang sedang sibuk membuat sarapan. Keringatnya bercucuran besar-besar.


"Tan, Tante, Fio, Tan. Fio ...."


"Kenapa sih Lio teriak-teriak? Fio kenapa, susah bangun?" balas Daisy. Dia yang masih mengenakan daster terlihat tenang bolak balik dari kitchen set ke meja makan, menata sarapan yang bisa dibilang agak tidak biasa. Di hari biasa paling dia hanya akan membuat nasi goreng atau menu sarapan singkat lainnya.


Sementara kali ini ayam goreng balado sudah tertata di sana. Makanan kesukaan Fiona. Daisy merasa bersalah dan ingin meminta maaf. Semalam dia merenung dan menyadari kalau Fio tidak bersalah di sini. Menyukai Kris bukan kesalahan karena dia juga pernah ada di posisi itu—tergila-gila pada Kris. Juga, dia akan percaya pada Kris kalau akan menolak Fiona. Dengan begitu Fiona tidak akan nekat lagi.


"Fio kabur, Tan. Fio minggat!" balas Lio


Mukanya pucat. Dia serahkan kertas yang ditemukannya di kamar Fio. Tadinya dia hendak mengajaknya ke sekolah. Dia juga berniat mengajak sang adik membolos dan pergi ke time zone.


Namun, belum juga bicara dia sudah menemukan surat di kasur yang mengatakan kalau adiknya itu tidak ingin serumah dengan Daisy lagi. Dia bilang sedang merajuk dan tidak ingin bertemu Daisy dulu.


Melihat surat yang ditulis Fio, Daisy pun menghela napas. Dia terduduk di kursi sembari menghapus air mata yang perlahan menumpuk di pelupuk. Semakin banyak setiap detiknya.


"Jadi gimana, Tan?" tanya Fio. Dia duduk berhadapan dengan Daisy yang memijit kening.


"Biarin aja, Lio," balas Daisy disertai helaan napas panjang.


"Tapi, Tan."


"Ini memang salah Tante. Nanti Tante bakalan hubungin dia. Sekarang mungkin dia masih marah. Jadi biarin dulu dia tenang."

__ADS_1


"Tan ...."


Daisy tatap Lio lekat. "Coba kamu hubungi Aulia. Tanya dia apa Fio di sana."


Lio pun melakukan apa yang diperintahkan. Jujur saja, kenekatan Fio kali ini bisa dibilang ekstrem dan membuatnya waswas. Semarah marahnya Fio dia tidak akan pernah kabur. Kalau sampai seperti itu artinya dia begitu benci pada Daisy.


"Fio nginap di rumah Aulia, Tan," tutur Lio sesaat telepon sudah dia matikan. Dari penuturan Aulia, Fiona pergi dari rumah pukul sebelas malam. Itu artinya Fio tidak tahu kalau sang guru pujaan datang ke rumah. Mengetahui itu Lio pun sedikit lega. Paling tidak sang adik tidak kecewa untuk saat ini.


"Kita harus apa Tan?


Daisy menghela napas. Matanya yang mengembun menatap semua masakan yang sudah tertata, lantas berdiri.


"Kamu makanlah. Tante gak selera makan."


"Tan ...."


"Kasih ke Fiona. Buat pegangan sama jajan. Bilang dia jangan nyusahin Aulia," tuturnya, lantas memutar tumit.


"Tante gak khawatir?" tanya Lio kala melihat punggung Daisy menjauh.


"Tantu saja Lio. Tapi Tante ngerti, Fio pasti benci. Untuk sementara biarin aja dulu dia tenang. Besok atau lusa Tante bakalan bujuk dia."


Lio pun menghela napas. dadanya bergemuruh mengentak-entak. Dia marah pada Daisy tapi tidak bisa membencinya.


"Jangankan Fio, aku aja gak paham. Kenapa Tante marah banget. Padahal Fio itu kan gak macam-macam. Dia itu ngisi soal yang jawabannya salah. Apa itu salah, Tan?"

__ADS_1


Daisy bungkam. Tidak berani dia membalik badan dan menatap langsung mata sang ponakan.


"Tan, Tante kenal sama Pak Kris?" tanya Lio lagi, sengaja dia memancing obrolan itu. Berharap Daisy menceritakan kisah bagaimana bisa mengenal Kris.


"Jujur sama aku. Tante kenal kan sama dia kan? Atau, kalian gak hanya saling kenal. Apa jangan-jangan ...."


"Jangan mengada-ada, Lio," ketus Daisy sengaja menginterupsi. "Tante gak kenal sama dia."


"Tapi kenapa reaksi Tante berlebihan?"


"Hmm itu ... itu karena karena Tante ... Tante gak suka aja. Fiona masih sekolah dan gak pantes ngejar laki-laki."


"Hanya itu?" tanya Lio lagi.


Daisy mengiakan tanpa berniat balik badan.


"Oiya, Tan. Aku semalam mimpiin Ayah," tutur Lio yang membuat langkah Daisy kembali berhenti. Akan tetapi berbeda kali ini. Daisy tanpa ragu menatap Lio yang menyipit kala menatapnya.


"Lio mimpiin Ayah. Dia sama Tante pelukan terus tersenyum," lanjut Lio yang sebenarnya hanyalah karangan belaka. Dia masih penasaran kenapa tantenya itu selalu merahasiakan Kris, bahkan cenderung menutup-nutupi kenyataan.


"Di mimpiku kalian terlihat bahagia," lanjut Lio.


Spontan air mata Daisy menetes lagi.


"Tan, Lio mau tau alamat laki-laki itu. Bisa kasih Lio?"

__ADS_1


__ADS_2