
"Kenapa cuma ngelirik aja, Pak? Dipelototi aku juga ikhlas kok. Gosah malu-malu gitu. Entar juling, loh," oceh Fiona. Dia yang ada di sebelah Kris tersenyum malu, lantas melampirkan rambut di belakang telinga. Satu mobil dengan Kris dengan bertujuan berkencan memberikan senyar luar biasa di diri cewek remaja itu. Dia juga merasa jantungnya tidak aman karena sedari tadi Kris hanya diam, tapi beberapa kali kedapatan meliriknya.
"Aku cantik kan, Pak? Udah cocok belum jadi istri? Enak loh Pak kalo Bapak jadiin aku istri. Aku dibawa ke mana aja mau, di bawa kondangan juga gak malu-maluin. Ya, bisa lah ngimbangin bapak yang tampan," oceh Fiona lagi.
Akan tetapi Kris tetap diam, dia terus melihat depan dan fokus pada jalanan yang padat lancar. Jika boleh jujur tampilan Fiona kali ini sangat berbeda saat memakai seragam. Jika berseragam cewek itu terlihat kecil, berantakan. Namun berbeda kali ini, dari baju hingga make up tidak memperlihatkan bahwa dia adalah remaja. Fiona tampak dewasa dan itu membuat Kris agak tidak menentu hatinya. Makanya selama perjalanan dia hanya diam saja.
Ayo Kris, dia hanya bocah. Jangan terpedaya. Ingat, kamu harus bisa buat dia ngelupain kamu agar dia bisa fokus dengan pelajaran. Jangan tergoda. Ingat kata Destian, kamu secara gak langsung menyebabkan ayahnya meninggal. Dia jadi yatim piatu karena nyoba nyelametin Marwa, batin Kris. Sepanjang perjalan terus saja menggumam dalam hati kalau harus bisa menyadarkan Fiona sembari mewaraskan pikiran sendiri.
Kendatipun demikian, dia tidak bisa menahan diri dan terus melirik Fiona yang ada di sebelahnya.
"Pak, ini kita mau kencan di mana, ya? Kok jauh banget," tutur Fiona. Dia mulai resah dan bertanya-tanya, hendak ke mana Kris membawanya?
Nyatanya, bukannya menjawab Kris justru menghidupkan musik. Dia setel lagu kesukaan Marwa, Mawar Hitam, lagu lawas beraliran ska.
Mendengar musik yang tidak biasa karena ada campur tangan saksofon, trombon, dan trompet itu membuat Kris mengenang masa lampau. Musik itu mengingatkan dia masa-masa indah, seperti kaset yang terus berputar jelas dalam kepala. Masa indah bersama Marwa kala dia mengejar janda satu anak itu. Dengan musik itu juga Kris bisa menenangkan diri karena keseksian Fiona.
Berbeda dengan Kris yang diam mengenang masa lalu, Fiona yang ada di sebelahnya justru tersenyum kecil, cewek itu sudah mulai paham sesuatu. Kris tidak mengajaknya makan atau nonton seperti pasangan lain saat berkencan. Melainkan ke suatu tempat yang tidak asing, tempat yang pernah Fiona datangi beberapa minggu yang lalu.
"Turun," perintah Kris. Dia buka pintu mobil tanpa memedulikan Fiona yang kepayahan.
"Pak tunggu, susah ini. Aku pake heels," gerutu Fiona.
Mau tak mau Kris menghampiri dan memang melihat Fiona agak kepayahan dengan heels. Dia bantu Fiona dan merelakan lengannya agar jadi tumpuan.
"Kenapa harus pakai heels?" balas Kris, matanya mendelik sebal ke Fiona yang cengar-cengir.
__ADS_1
"Ya kan kita tadinya mau kencan. Aku pikir tadi bakalan di ajak diner, atau gak diajak nonton film di bioskop. Mana aku tau bapak ngajakin ke kuburan. Lagian Bapak aneh, ih. Masa kencan ke kuburan. Gak asyik tau, Pak."
"Kayak kamu pernah kencan di sini aja. Atau kamu memang pernah kencan di kuburan?" Mata Kris menyipit dan itu membuat muka Fiona memerah. Jangankan kencan, pacar aja gak pernah punya.
"Ya sudah, ayo."
Kris kembali menembuskan napas panjang. Dia tuntun Fiona menuju pusara Marwa, lantas berdoa seperti biasa. Dia berharap doa yang dipanjatkan sampai untuk almarhum istrinya.
"Dia ibunya Theo," tutur Kris setelah selesai membaca doa. Dia yang berjongkok menatap Fiona yang berdiri tidak nyaman.
"Kenapa Bapak ngajakin aku ke sini?" tanya Fiona. Dia rapikan gaun lalu ikut berjongkok. Di depannya kini Kris menghela napas.
"Saya hanya ingin kamu nyerah, kalau saya itu gak suka kamu. Di sini. Di makan istri saya ini saya ingin menegaskan ke kamu kalau istri saya yang selalu ada di sini." Kris menekan dada. Lamat dia menatap Fiona yang cemberut. "Jadi tolong berhentilah melakukan hal sia-sia."
Sekonyong-konyong mata Fiona menyipit. Dia paham arah perkataan Kris, lalu mendesis. "Bapak jangan mangkir dari janji," gerutunya.
"Aku sadar, kok. Sadar seratus persen kalau aku jatuh cinta sama Bapak. Dan yakin Bapak itu jodoh yang sudah disiapkan Tuhan buat aku."
Kembali Kris mengentak napas. "Fio, kamu gak bakalan bisa menggeser posisi Marwa."
"Bisa! Bapak aja yang terlalu cepat menyimpulkan. Ingat loh Pak, Masih ada tiga minggu lagi. Jadi jangan ambil kesimpulan dulu. Tiga minggu apa pun bisa terjadi tau."
Wajah tak suka Fiona berganti seketika saat menatap papan nama Marwa. Dia tersenyum kecil.
"Mbak, aku mungkin terdengar kurang ajar. Tapi aku emang suka sama dia." Jari telunjuk Fiona menuding Kris. Kris sampai menelan ludah.
__ADS_1
"Aku yakin bisa buat dia klepek-klepek. Tolong jangan marah sama aku, Mbak. Karena kemungkinan gak lama lagi dia bakalan bucin sama aku. Iya kan, Pak?" Mata Fiona mengedip ke Kris.
Kris membuang nafas berat. Dia merasa sekarat saat berhadapan sama Fiona. Dadanya serasa sesak seakan seperti ada ribuan ton batu yang menghimpit.
"Ya sudah kalau gitu kita pulang. Saya antar kamu pulang," tutur Kris sembari berdiri.
Fiona yang mendengar itu seketika terbengong. Lalu, setelah itu mengejar langkah Kris dan mensejajarinya.
"Kenapa pulang, Pak?" tanyanya sembari berjalan, tubuh oleng ke kiri dan kanan. Tidak pernah dia memakai heels sebelumnya makanya seperti itu. Jika bukan kencan mana mau dia memakai sepatu tinggi. Riweh.
"Pak Kris, jawab dong! Ini kita serius bakalan pulang?" lanjut Fiona setengah jengkel.
Namun, Kris sama sekali tidak mengindahkan dan terus berjalan membiarkan Fiona mengekorinya.
"Pak, ini kita serius pulang?" Lagi, Fiona memastikan. Jalanan setapak yang diapit gundukan tanah di sisi kiri dan kanan tak dipedulikannya. Cewek itu terus bersungut. Merengek-rengek tidak ingin pulang.
"Ini kencan pertama kita loh, Pak. Masa cuma segini aja?" sungut Fiona lagi.
Nyatanya, Kris tidak terpengaruh. Dia menyipitkan mata lantas membuka pintu mobil untuk Fiona. "Masuklah. Saya antar kamu pulang."
"Pak Kris ...."
"Masuk, atau pulang sendiri? Saya ada urusan jadi nggak bisa berlama-lama. Lagian ini juga namanya kencan."
Wajah Fiona semakin masam kecut. Andai tahu Kris hanya akan membawanya ke kuburan, tidak mungkin dia berbelanja baju dan heels. Juga, berdandan maksimal. Semuanya jauh dari ekspektasi.
__ADS_1
Fiona memijit kening. Demi hari ini dia juga telah menghabiskan semua uang yang dipunya.
Duh, masa iya gue pulang ke rumah Tante. Masa ngambeknya cuma tiga hari doang. Malu lah. Tapi ... gue gak punya uang lagi, batin Fiona. Dia tatap sengit Kris yang menyetir. Ini si es batu gimana cara cairinnya sih. Heran. Masa kencannya cuma ke kuburan. Ish, nyebelin.