
Tangis Fio berubah seketika. Mukanya mirip seperti orang bodoh yang baru saja ditipu. Rasa malu, lega dan bahagia buatnya tidak bisa bicara untuk sekian detik. Ternyata dugaannya salah. Daisy dan Kris tidak berpacaran. Pacar yang dimaksud Daisy adalah Aris. Tantenya itu ternyata telah memutuskan akan membuka hati dan memberi kesempatan Aris untuk membuktikan cinta yang katanya bertepuk sebelah tangan sejak mereka masih sekolah menengah pertama.
Tiba-tiba Fio bertepuk tangan. Mukanya yang datar mengerjap dan menggeleng beberapa kali. Decak kagum juga terdengar dan itu buat Daisy bingung sendiri.
"Tan, salut aku sam Om Aris. Dari kecil udah mendam rasa. Tiati loh nanti meledak. Siap-siap kelojotan."
"Fio!"
-
-
-
Tekat yang kuat buat Fiona akhirnya bisa bertahan. Gadis itu berusaha keras sekuat tenaga agar tidak terlihat kentara kesedihan yang dirasakan selama ini. Merelakan Kris itu susah, andai mudah tidak akan mungkin dia bisa sejauh itu mengejar Kris. Mengesampingkan rasa malu dan harga diri agar bisa dekat dengan seorang lelaki itu bukanlah perkara mudah. Ada banyak yang harus dia hadapi untuk bisa sampai ke titik itu.
Hanya saja sekarang situasi tidak akan bisa seperti dulu, tidak akan bisa seperti semula. Walau Fio ingin, tetap saja tidak akan bisa. Ada tembok besar yang menghalangi. Andai tembok itu adalah perbedaan usia dan latar belakang antara dirinya dan Kris, dia tak akan gentar sama sekali.
Namun tembok itu ternyata lebih tinggi dan besar untuk dia taklukkan sendiri. Tembok itu mencakup hati Daisy, Lio, terlebih lagi sang ayah yang telah jadi almarhum. Mau sebanyak dan sebesar apa pun tekat yang Fio punya, dia tidak akan bisa menaklukkan dinding besar itu. Dia menyerah, meski menyerah itu sama artinya dengan menoreh urat nadi sendiri dengan silet.
__ADS_1
Akan tetapi Fiona telah memutuskan. Mau itu silet atau kapak sekali pun dia tidak akan gentar, tidak boleh ada yang tahu. Sesakit apa pun akan dia hadapi sendiri. Daisy telah berkorban banyak dan dia ingin menebus dengan memberi kebanggan—lulus sekolah lalu berkuliah seperti yang diinginkan Daisy.
Persetan dengan cinta. Ah, lebih tepatnya mengabaikan apa itu cinta. Yang jelas keputusan telah diambil. Mau apa pun keadaan dan kesulitan apa yang menerjang, Fio tidak akan balik badan walau Kris memperlihatkan sejuta pesonanya lagi.
Move on! Move on!
Siang dia bilang begitu lalu malam akan menangis dipojokan pintu sembari menggigit selimut.
Itulah Fiona. Untuk seminggu awal dia cukup tersiksa apalagi dalam satu minggu dia akan berhadapan dengan Kris sebanyak dua kali. Mereka akan bertatap muka karena Kris mengajar di kelasnya. Belum lagi jika campur tangan Tuhan ikut andil, kebetulan melintas, kebetulan beriringan, kebetulan bersitatap dan banyak kebetulan lain yang buat Fiona harus diam-diam ke toilet untuk menangis. Menangisi nasib yang tidak sesuai keinginan.
Seminggu itu menyakitkan. Dua minggu itu ujian. Tiga minggu mulai ada kelonggaran dan keempat minggu ketenangan baru terasa. Namun lagi-lagi campur tangan Tuhan menjungkirbalikkan dunia Fiona. Saat dia dia hendak keluar dari perpus buku yang dibawa berjatuhan karena kelakuan adik kelas.
Sekarang, Fiona yang sekarang banyak diam dan bicara seperlunya saja. Teman sekelas bahkan ada yang beranggapan kalau Fio—yang dulunya dijuluki gorila betina—berubah jadi angsa.
Saat sedang mengemas buku yang berserakan ada sepasang tangan yang membantu. Fiona mendongak dan pupil ya melebar saat melihat siapa itu.
"Pak Kris?"
"Saya bantu, ini berat."
__ADS_1
Fiona menggeleng cepat, mau itu bantuan jenis apa pun dia tidak akan menerimanya. Dia berjanji tidak akan terlibat dalam hidup Kris dan tidak akan membiarkan Kris menjungkirbalikkan dunianya lagi.
Fiona ambil buku yang Kris pegang. "Saya bisa sendiri, Pak."
Setelah itu bergegas berdiri dan membalik badan. Namun, berhenti saat Kris memanggil namanya.
"Mungkin ini terlambat, tapi saya ingin minta maaf."
Fio menghapus air matanya yang tiba-tiba menetes. Tanpa berniat membalik badan dia pun menjawab, "Gak apa-apa, Pak. Itu masa lalu. Bapak gak salah."
Kris mendesah panjang dan maju selangkah, spontan Fiona maju juga. Dia menjaga jarak. Melihat itu Kris seperti dihunjam belati tepat di dada. Perubahan Fiona terlalu signifikan. Dulunya yang menempel bak magnet kini seperti air dan api. Kris merasa kehilangan.
"Dan juga, terima kasih. Nilaimu banyak peningkatan," lanjut Kris.
"Itu hal yang wajar, Pak. Aku siswa yang harus belajar keras agar bisa membanggakan orang tersayang. Bapak gak perlu berterima kasih. Kita bukan saudara, kita bukan keluarga dan kita juga bukan teman. Bapak hanya guru dan aku murid. Hubungan kita hanya sebatas itu. Kayaknya berlebihan bapak berterimakasih."
"Fiona ...." Kris ingin melihat wajah Fiona dari jarak dekat. Namun baru juga maju selangkah, Fiona ikut maju, bahkan dua langkah menjauhinya. Gadis itu tetap memunggungi tanpa berniat menatap.
"Maaf, Pak. Kalau gak ada yang penting aku permisi."
__ADS_1
Lagi, belum juga jauh langkah Fiona, Kris kembali memanggilnya. "Bisa luangkan waktu besok?"