
"Kalian nggak macam-macam di belakang Daddy, 'kan?" tanya Kris mengintimidasi lewat kerlingan mata dan itu buat Theo yang ada di sebelahnya gugup bukan kepalang.
"Ya ya enggaklah. Kita nggak pernah ngapa-ngapain, Dad. Kita cuma belajar, jalan sama, nonton. Gak pernah yang macam-macam," jelas Theo. Dia arahkan wajahnya ke depan saking gugupnya. Selama beberapa bulan ini Kris tidak pernah mempermasalahkan ataupun membahas kegiatannya sama Fiona, dan tiba-tiba saja kali ini langsung menuding.
"Beneran, Dad. Kita nggak ngapa-ngapain," lanjut Theo.
"Tapi benar kata Lio, kamu terlalu muda. Kenapa nggak putus aja? Biarin dia nikah sama orang lain."
"Dad?" Theo langsung melotot. Protes.
"Iya, Daddy paham. Daddy gak bakalan ikut campur," potong Kris lalu kembali menatap depan dan menyetir dengan tenang. Dalam hati lelaki itu mengutuk diri, bisa-bisanya keceplosan dan mengusulkan hal tidak masuk akal. Tentu saja Theo keberatan. Baik Theo maupun Fiona enjoy saja dalam hubungan itu. Hanya dirinya saja yang panas saat melihat mereka bersama.
Sedang Theo, otaknya mulai berpikir sesuatu, mungkinkah ayahnya itu sudah mulai jatuh hati? Pasalnya setiap Fiona main, Kris selalu mengurung diri di dalam kamar. Daddy-nya hanya menasihati agar selalu menjaga diri dan jaga kepercayaan orang tua. Selebihnya tidak pernah berkomentar apa-apa.
Harusnya dia tenang mengingat selama ini Fiona juga santai saja saat bersamanya. Fiona terlihat bahagia jika mereka jalan atau bergurau. Meski begitu tetap saja Theo merasa ada yang aneh. Dalam diamnya Kris dan bahagianya Fiona dia merasa ada yang mengganjal. Merasa ada yang tidak beres tapi tidak tahu apa itu. Itu semua lantaran beberapa kali melihat tatapan Kris yang menyiratkan arti mendalam saat menatap Fiona. Ya, Theo menyadari itu. Kris kedapatan menatap Fiona dari kejauhan dan tatapan ayahnya itu penuh damba dan kesedihan. Saat itu Theo ingin sekali bertanya, tapi ketakutan dalam diri buatnya urung. Bagaimana jika ditanya dan Kris menjawab menyukai Fiona juga. Theo tidak kuat, dia belum siap berpisah sama Fiona.
"Dad?"
"Hmm, kenapa?" balas Kris tanpa menoleh.
"Ah, nggak jadi."
Keduanya pun kembali diam, hanya suara radio yang menengahi.
-
-
Hari H pun akhirnya tiba. Hari di mana ujian di mulai. Fiona yang resah bahkan sampai tak tidur nyenyak karena grogi. Sikapnya berbanding terbalik dengan Filio yang santai saja menikmati hari. Bahkan saat sarapan pun cowok bertubuh jangkung itu terlihat bersemangat menikmati makanan yang sudah tersedia.
"Pelan-pelan, Lio. Nggak ada yang ambil makanan kamu," tegur Daisy dengan ekor mata menyipit dan itu buat Aris yang ada di sebelahnya menyenggol gemas
"Biarin aja, Sayang. Sebelum ujian memang harus banyak makan, biar fokus. Semoga lancar nanti ujiannya," tutur Aris sembari memperlihatkan senyum pada Filio yang duduk di depannya.
"Jangan dibela terus. Nanti mereka gede kepala." Daisy merengut.
__ADS_1
"Ya bagus dong. Itu artinya percaya diri, daripada berkecil hati."
"Bela aja terus, terus bela," cibir Daisy, ekor matanya makin tajam saat beradu dengan Aris yang ada di sebelahnya. Aris yang di tatap begitu tentulah paham kalau sang istri kali ini tidak ingin dibantah. Dia pun nyengir lalu menutup rapat bibir dan menggeleng pelan. Daisy tetap Daisy, walau sudah jadi istri galaknya tetap ada bahkan semakin lama semakin galak.
Semenjak menikah Aris tinggal bersama mereka. Alasannya karena Daisy tidak tega meninggalkan dua keponakannya itu. Mau dibawa ke rumah Aris pun jarak antara rumah Aris ke sekolah Fiona dan Filio lumayan jauh. Jadi dia yang mengalah dan tinggal di rumah itu. Sedangkan rumahnya dibiarkan kosong.
"Dan kamu Fiona, kenapa manyun begitu? Sakit?" tanya Daisy lagi sembari menyerahkan segelas air putih.
Fiona yang mengunyah nasi goreng cuma menggeleng lesu. "Aku takut, Tan. Takut nggak bisa jawab soal."
"Masa nggak bisa? Apa gunanya punya cowok pinter kalo gak bisa jawab soal," sindir Filio yang kontan buat Fiona berang dan menendang kakinya.
"Sakit, Fi."
"Bodo. Sapa suruh ngomong nggak jelas? Yang pinter kan dia. Bukan gue."
"Ya selama ini kan kalian belajar bareng. Mustahil nggak ada sedikitpun pelajaran yang nyangkut di kepala elo," sahut Filio dengan entengnya.
"Lo kira semudah itu?"
Ajaib memang, keduanya langsung menurut dan makan dengan tenang.
"Dan kamu Lio, udah siap ujian?" tanya Daisy dengan mimik masih kesal.
"Udah dong, Tan."
"Tapi selama ini Tante jarang lihat kamu belajar." Daisy lihat Aris dan Fiona, lalu ke Filio yang nyengir kuda.
"Tante tenang aja, aku bakalan lulus. Aku pasti lulus," balasnya dengan percaya diri. Tentu saja gelagat itu buat Fiona dan Daisy terheran-heran.
"Lio, jujur sama Tante, kamu dapat bocoran soal?"
"Seriusan, Bang? Kalo iya bagi dong," sela Fiona antusias.
Kontan saja Daisy menggetok kepala Fiona dengan sendok. "Jangan ngadi-ngadi."
__ADS_1
"Sakit, Tan," sungut Fiona, lalu merapikan poninya.
"Ya enggaklah, ngapain aku cari mati dengan curi soal," jelas Filio. Senyum jemawa makin terkembang dan itu buat Daisy makin heran. Ponakannya itu tidaklah bodoh, tapi tidak juga pintar. Sedang ujian ini adalah penentuan. Itulah yang buatnya waswas.
"Terus kenapa bisa percaya diri begini?" lanjut Daisy.
"Ya adalah, apa guna punya temen pintar. Ali, aku bakalan bergantung sama Ali dan keberuntungan."
"Lio!"
-
-
-
Karena jengkel pada Filio akhirnya Fiona berangkat sendiri. Dia berjalan seorang diri dengan pikiran berkecamuk. Selama ini sudah berusaha belajar maksimal, ada Theo yang juga selalu membantunya. Hanya saja dia tetap tidak percaya diri.
Helaan napas Fiona terdengar panjang. Gadis berkepang dua itu terus menunduk saat melangkah dan tidak menyadari kalau ada seseorang yang menghalangi langkahnya. Alhasil dia terantuk dan mundur beberapa langkah. Matanya membulat saat mengetahui siapa yang dia tabrak.
"Pak Kris?" Fiona panik, dia lihat kanan kiri dan ada beberapa murid yang melihat.
"Tenang aja, dia belum sampai," balas Kris lalu menyerahkan satu tempat kecil berbetuk bulat. Tempatnya bening dan Fiona bisa melihat isinya. Ada beberapa potong kecil black forest dengan cherry merah diatasnya.
"Ini ambillah, saya yakin kamu gugup."
Ragu-ragu Fiona ambil benda itu, lantas menatap heran Kris.
"Saya beli ini tadi saat di jalan. Makanlah. Semoga ujiannya lancar."
Setelah itu Kris membungkuk mensejajarkan diri dengan Fiona yang pendek, lantas mengacak-acak poni Fiona sedikit. Lelaki itu juga tersenyum tak kalah sedikit dan itu memantik sesuatu dalam diri Fiona lagi. Senyum Kris walau kecil tetap mampu membuatnya kelimpungan menahan debaran di dada. Senyum yang tergolong pelit itu ternyata masih berefek. Fiona terbeku saat matanya berserobok dengan iris mata Kris yang hitam pekat.
Tanpa keduanya tahu ternyata Theo melihat itu semua. Dan dia mencoba menerka, apa arti senyum yang tersungging di wajah Kris barusan. Senyum yang sudah lama sekali tidak dia lihat.
"Apa jangan-jangan selama ini Daddy ...."
__ADS_1