
"Kamu serius, Fio?" tanya Daisy dengan nada suara khas alias nyaring. Suara yang selalu saja sukses membuat Fio menutup kuping.
"Kamu beneran gak apa-apa, 'kan?" lanjutnya sembari menyentuh dahi sang ponakan lagi.
Fio yang diperlakukan seperti itu langsung menepis, mukanya ditekuk sedemikian rupa karena kesal tidak dipercayai oleh Daisy. "Iya, Tan. Aku serius dan aku sedang gak kesambet. Tante kebiasaan, selalu kayak gini. Emang kalau aku berubah itu pasti karena demit apa?"
"Ya enggak gitu, Fio. Tante cuma takut aja. Biasanya orang yang berubah drastis itu tandanya mau ...."
"Ih, Tante!"
Melihat ekspresi serius sang ponakan Daisy pun menghela napas panjang, lantas menarik dan menuntunnya duduk di sofa.
Jujur saja, sebagai kepala keluarga dia bahagia saat mendengar Fio bakal ikut pelajaran tambahan ke seorang teman. Namun di sisi lain dia juga khawatir, sebab ponakannya ini belom bisa terdeteksi maunya apa. Takutnya malah melenceng jauh dari harapan. Masih berbekas di ingatan bahwa Fio tadi pagi mengatakan kalau mau kasih dia menantu?
"Theo itu walaupun murid pindahan anaknya baek, kok. Pinter lagi, Tan. Dia aja mau bantuin aku buat belajar. Ini Miss Jean loh yang minta langsung ke dia," balas Fiona. "Kan sayang kalau disia-siakan."
Daisy tak menyahut, dia masih mencerna apa yang diinginkan sang ponakan dan apa motif dibalik perubahan yang signifikan itu. Bukan apa, Fio selama ini selalu malas kalau disuruh belajar. Dan saat ada perubahan Daisy malah takut, takut ditipu dan hatinya nanti hancur karena sudah terlanjur berharap banyak.
"Tan, percaya, dong. Aku gak bohong. Kalau gak percaya tanya Bang Lio."
Lio yang kebetulan sedang makan kacang sambil selonjoran depan televisi langsung melotot.
"Apaan, sih? Pake bawa-bawa orang segala. Gak bisa apa selesaikan masalah sendiri?" sungut cowok itu cuek.
"Ya kan paling enggak bantuin, kek. Di kelas kan Miss Jean sendiri yang minta aku belajar lebih giat lagi. Iya kan?"
Lio diam dan makin sengit tatapannya ke Fio. Dia tahu Fiona ngotot begini pasti bukan karena ingin belajar, pasti ada udang di balik bakwan dan udangnya itu si Kris. Dia tahu isi kepala sang adik kembar bukan untuk belajar tapi pasti ingin menggoda duda muda itu.
Sayangnya Fio tak mau kalah. Lio galak maka dia akan lebih galak.
"Jawab dong, Bang! Bilang ke Tante Daisy kalau Theo itu emang beneran pinter. Jadi gak salah berguru sama dia," desak Fio. Setengah frustasi dia. Sebab, jika Daisy tak menyetujui, itu artinya pdkt yang sudah direncanakan bakalan susah direalisasikan.
Lio hanya bisa mendesis, lalu mengiakan singkat.
Melihat dukungan tak ikhlas itu Fio kembali menatap Daisy, penuh harap.
"Theo itu murid pintar, Tan. Jadi aku rasa bisa jadiin dia tutor sementara."
"Fi, soal tutor kan dari dulu Tante udah nawarin. Kalian aja yang gak mau. Ada aja alasannya."
"Ya itu kan dulu, Tan."
__ADS_1
"Kalau kamu mau Tante masih bisa kok panggil tutor yang bagus buat ngajarin kalian."
"Ih, Tante gitu amat. Sekarang aku dah dewasa. Aku bisa bedain mana tutor yang bikin pinter dan mana yang enggak."
Mendengar itu makin curiga Daisy, mana ada yang seperti itu. Di mana-mana tutor itu pasti membantu anak untuk belajar. Membantu meningkatkan nilai. Mereka dibayar untuk itu.
Namun, meski begitu Daisy tetap tak bisa apa-apa karena Fio bergaya manis di depannya. Walaupun sering membantah Fio tetaplah ponakan yang harus dia sayangi dan jaga.
"Boleh, ya, Tan. Kan belajar barengnya setelah pulang sekolah. Lagian cuma sejam ini. Boleh ya ...."
Tak tahan Daisy melihat wajah mengiba Fio. Dia pun mengangguk mengiakan.
"Ya tapi kenapa harus sore? Entar pulangnya gimana? Soalnya motor kan Tante pake."
"Ojek ada, Tan. Angkot juga ada," balas Fio. Senyumnya merekah indah. Akhirnya ada cahaya yang menyinari langkahnya demi mendekati sang pujaan.
"Ya udah deh gak apa-apa. Pergi deh sana. Belajar yang bener. Awas aja kalo udah begini nilai kamu masih anjlok. Tante jorokin kamu ke kandang singa."
"Widih, serem amat." Setelah itu Fiona pun memeluk Daisy dengan penuh rasa syukur. Bersyukur akhirnya jalan untuk menggoda Kris jadi lebih besar.
Sepeninggal Fiona, duduklah Daisy di samping Lio yang masih asyik nonton TV.
"Gimana? Kamu udah tau pacar baru Fiona?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Maksudnya dia ditolak lagi?" Melotot mata Daisy, tak habis pikir. Meskipun pecicilan rasanya sang ponakan tak terlalu buruk.
"Masa ditolak lagi?" lanjut Daisy.
"Bukan gitu, Tan."
"Jadi?" Daisy yang tak sabar spontan menarik pundak Lio dan mereka bertatapan. "Jelasin yang bener."
"Ya dia masih kekeh ngejar tu guru."
"Apa?"
Kali ini Lio yang harus memegang kuping karena berdenging. Teriakan Daisy memang tak main-main.
"Dengerin sampe tuntas dulu, Tan. Jangan langsung gas. Nanti nabrak," sungut cowok muda itu, lantas menurunkan tangan Daisy.
Tak ayal celetukan itu membuat Daisy meradang. Dia pukul pundak Lio hingga suara rintihan pun terdengar.
__ADS_1
"Tante lagi gak bercanda, Lio."
"Ya makanya dengerin dulu." Lio yang kesakitan mengusap pundak, lantas kembali berkata, "Kata Aulia dia itu nekat ngejar tu guru karena tu guru udah jadi duda. Udah tujuh tahun."
"Beneran?" Dahi Daisy mengerut. Menyukai orang itu sah sah saja asal jangan suami orang.
Sekarang dia tahu bahwa laki-laki dikejar Fio adalah duda, hanya ... entah kenapa tetap tak membuat hati jadi lega. Seumuran Fiona ini memang riskan, suka tergesa-gesa dan nekat dalam mengambil keputusan. Takutnya hal ini bakalan menghancurkan masa depan keponakannya yang berharga.
"Lalu yang bakalan jadi temen belajar Fio ini anak tiri tu guru," papar Lio lagi. Melemah badan Daisy mendengar itu.
Namun, kembali lagi. Diumur segini Fiona tidak bisa dikekang. Takutnya nanti malah membangkang. Tidak juga bisa dibiarkan, takutnya salah jalan.
"Tapi Tante tenang aja. Tu guru gak suka kok sama Fio."
"Kamu serius?" Daisy yang tadinya tersandar lelah kembali duduk tegak. "Dia sendiri yang bilang?" lanjutnya dengan antusiasme yang tinggi.
Lio mengangguk mengiakan. "Dia tadi bilang ke aku saat ngembaliin tempat bekal. Katanya dia gak bakalan ngerespon perasaan Fio. Katanya dia gak suka Fio sama sekali."
Mendengar pemaparan Lio, Daisy pun menghela napas pajang. Ada rasa syukur terselip di antara rasa waswas.
Hening, Lio kembali menonton TV dan Daisy menatap plafon ruang keluarga mereka.
"Lio kamu bisa kan awasin adek kamu itu. Tante takut dia bablas, Lio. Tante takut masa depannya hancur."
Mendengar itu Lio pun mengecilkan volume suara TV dan menatap sang tante yang tersandar lemah di sofa.
"Tante hanya punya kalian. Tante sayang kalian."
Lio yang mengerti perasaan Daisy pun mengiakan dengan anggukan, lantas ikut merebah di sofa.
"Tan, kami pernah bilang gak kalau kami itu bersyukur punya Tante. Kalau bukan karena Tante gak mungkin kami bisa hidup nyaman begini."
Air mata Daisy meluruh dan Lio pura-pura tidak melihat. Dia kembali menatap plafon.
"Lio, walaupun Tante suka marah-marah tapi sebenarnya Tante itu sayang sama kalian. Tante ingin kalian sukses karena hanya itu yang bisa Tante lakuin buat balas budi ke ayah kalian."
Lio diam. Dia merasa sekarang sebaiknya menjadi pendengar saja. Dia yakin sang Tante yang biasa galak sekarang sedang rapuh.
"Kalian tau kan, sejak ibu kalian meninggal ayah kalian kerja banting tulang buat kalian, buat biayain kuliah Tante juga. Jadi, Tante juga bakalan ngelakuin hal yang sama ke kalian. Tante udah anggap kalian anak sendiri. Jadi tolong jangan pernah benci Tante. Jangan benci cara Tante karena Tante juga gak tau caranya didik anak-anak."
Tiba-tiba helaan napas Lio terdengar panjang. Memorinya kembali ke beberapa tahun silam. Saat sang ayah meninggal dalam tugas.
__ADS_1
"Tan, kenapa orang itu gak pernah ke sini? Apa dia hidup bahagia setelah buat kami jadi yatim piatu?"