Sugar Teacher

Sugar Teacher
Wajengan.


__ADS_3

"Gak jadi futsalnya?" tanya Kris, lantas mendekati Theo yang sedang duduk di sofa. Anaknya itu terlihat asyik dengan ponsel padahal TV menyala.


"Gak jadi, Dad. Anak-anak bilang capek, jadi diundur," balas Theo yang terus saja menatap ponsel, lalu tersenyum sendiri. Pasalnya dia itu sedang mengirim emot hati ke Fiona lewat pesan, walau satu pun tidak ada yang dibalas.


Lalu, tiba-tiba saja otaknya terbesit sesuatu. Segera dia ketik pesan lagi.


[Kalau pesan ini nggak dibales dalam tiga detik, artinya kita pacaran.]


Send, terkirim.


Ajaibnya segera pesan masuk dari Fiona. [Bodo amat]


Seakan tak patah arang, Theo pun kembali mengirim pesan.


[Minggu besok jalan, yuk. Kita kencan]


Hanya centang satu dan itu buat Theo menghela napas panjang, kecewa. Akan tetapi meski begitu tidak bisa mengalihkan mata dari ponsel. Sebegitu sukanya dia pada Fiona sehingga mengesampingkan harga diri.


Kris yang kebetulan melihat gelagat aneh Theo pun teringat dengan kata-kata Arman.


Apa mungkin dia punya pacar? batin Kris, lalu mencoba mengintip tapi kepergok Theo.


"Dad, privasi, Dad. Privasi," tegur Theo dengan wajah cemberut. Kris pun tidak bisa berkata karena memang walau ayah dan anak tetap saja ada batasan dan itu sudah dia terapkan pada Theo sejak anaknya itu lulus SMP.


"Iya, Daddy cuma penasaran. Apa kamu punya pacar?"

__ADS_1


Ditembak pertanyaan seperti itu buat Theo mengerjapkan mata, lalu berdeham dan menyembunyikan ponsel di belakang punggung. Gelagat itu buat Kris paham sesuatu, kalau anaknya memang punya pacar.


"Siapa?" tanya Kris lagi senyumnya terpatri. Senyum jail lebih tepatnya.


Tak ayal muka Theo langsung merah karena itu. Agar bisa normal Theo pun kembali berdeham dan membuang muka ke arah jendela.


"Belom jadian, Dad. Lagi proses. Soal siapa namanya dan gimana orangnya nanti aja aku kasih tau. Sekarang masih rahasia."


Kris yang mendengar kejujuran Theo tidak bisa untuk tidak tersenyum, tapi sekuat hati ditahan agar tidak buat anaknya itu tersinggung.


"Cinta pertama?" tanya Kris lagi dan Theo mengangguk pelan.


"Theo, dengerin Daddy. Daddy ini bukan tipe orang tua yang kolot yang larang anaknya pacaran. Enggak, Daddy nggak kayak gitu. Tapi Daddy bukan juga tipe orang tua yang ngebebasin anaknya gitu aja. Daddy sayang sama kamu, makanya mau ngingetin, walaupun kamu sudah besar dan punya pikiran sendiri tetap saja harus tahu batasan, batasi diri sendiri. Daddy nggak ngelarang kamu mau kamu dekat dengan siapa pun. Beneran nggak akan ngelarang. Tapi ingat, tugas utama kamu itu belajar, kamu itu sebentar lagi ujian. Daddy gak mau pelajaran kamu terbengkalai."


"Aku paham, aku nggak bakalan lupain tugasku yang satu itu," balas Theo sambil memasang wajah cemberut padahal aslinya senang karena Kris tidak melarang dia menyukai perempuan. Kris dimatanya selama ini adalah sosok yang keren. Dan sekarang makin terlihat keren. Sama sekali tidak mengekang, maka dari itu dia sayang pada Kris dan ingin membanggakannya.


"Iya dong, Dad. Tentu."


"Daddy selalu memfasilitasi kamu, apa pun untuk menunjang kegiatan kamu belajar selalu Daddy penuhi. Dengan kamu memutuskan pacaran itu artinya siap dengan segala resiko, sekali saja kamu salah langkah semua kerja kerasmu selama ini bakalan hilang," tekan Kris lagi yang dibalas Theo dengan anggukan.


"Aku paham ke mana arah omongan Daddy ini."


Kris tersenyum, lalu berdiri dan mengacak-acak rambut anaknya. "Kamu hanya harus ingat perkataan kamu tadi."


Saat keduanya saling tatap tiba-tiba ponsel Theo berbunyi diikuti ponsel Kris. Mereka segera melihat ponsel secara bersamaan.

__ADS_1


Theo lihat ponselnya.


[Gue nggak minat. Gue mau pergi bareng Tante Daisy sama Om Aris ke Ancol. Jadi jangan ganggu gue. Kirim emot hati siap-siap elo gue blok!]


[Gue ikut.]


Tidak ada balasan lagi.


Theo pun menyentak napas panjang dan itu buat Kris mengernyitkan dahi.


"Kenapa? Ditolak?" tanya Kris.


"Ya ... ya enggaklah. Aku Theo, Dad. Aku keren. Gak akan ada yang bisa nolak pesonaku."


Kris cuma berdecak lalu melihat isi ponselnya. Setelah itu senyum terukir hingga buat Theo menyipit menyelidik. Dia mengendus badan Kris.


"Tunggu, ini kayaknya ada yang aneh. Bau-baunya nggak hanya aku yang jatuh cinta," goda Theo yang buat Kris tersenyum aneh. Dia simpan ponsel ke dalam saku.


"Jangan ngelantur. Ya sudah matikan tv-nya kalau sudah selesai. Daddy mau ke lantai atas dulu, mau mengoreksi pekerjaan rumah anak kelas sepuluh."


Kris pun segera memutar tumit meninggalkan Theo. Namun, setibanya di ruang atas bukannya mengerjakan tugas si Kris justru duduk sambil tersenyum. Dia baca lagi pesan yang merupakan pesan dari Fiona


[Maaf Pak, aku nggak bisa. Minggu ini aku mau ke Ancol bareng Tante Daisy sama Om Aris.]


Kris tersenyum kecil. "Trik kebetulan kayaknya bisa digunakan," gumamnya pelan.

__ADS_1


***


__ADS_2