
Fiona yang tak paham menelan ludah dan terbeku saking tidak bisa mencerna apa yang didengarnya hingga Kris yang ada di seberang telepon meneriakkan hal yang sama sekali lagi. Kris memintanya pergi dari sana, tapi kenapa?
Namun belum juga sempat melisankan pertanyaan Kris yang ada di seberang telepon mengatakan hal yang tidak terduga.
"Ada Nando. Dia jalan ke arah kamu."
Fiona terbelalak, dia ingin melihat ke belakang tapi Kris meneriakinya sekali lagi. Gadis itu makin pucat saat berserobok pandang dengan Theo.
"Kamu kenapa?" tanya Theo.
Fiona menggeleng, matanya tetap membola. Sedang ponsel masih setia di telinga.
__ADS_1
"Kamu pergi dari sana. Hindari bertemu Nando," perintah Kris lagi.
Fiona pun segera memutus panggilan dan memberanikan diri melihat ke belakang. Dan benar saja, dari jarak yang lumayan jauh dia melihat sosok Nando dengan seorang wanita dan sialnya matanya sempat berserobok dengan om om menyebalkan itu.
Sialan, dia lihat lagi, batin Fiona, lantas menggigit bibir bawahnya, dan sesuai saran kris dia akan pergi dari sana. Entah Nando mengenalinya atau tidak tapi yang jelas Fiona harus bisa menghindar. Jika ketahuan maka sudah pasti om om sok kecakepan itu akan mengoceh yang bukan-bukan dan Fiona tidak ingin itu terjadi apalagi sekarang dia sedang bersama Theo. Apa nanti kata Theo jika Nando mengatakan kalau Fiona dan Kris berpacaran?
Fiona telan lagi ludahnya sendiri, lalu menatap lamat Theo. "Gue pulang dulu. Tante suruh pulang sekarang."
"Pulang?" Theo mencekal lengan Fiona. "Tapi kita belum selesai. Gue mau kasih lo sesuatu."
Tanpa menunggu balasan Theo, Fiona pun melangkahkan seribu kaki. Entah karena apa dia tergoda untuk kembali melihat ke belakang.
__ADS_1
Apes, Nando yang menyadari hal aneh sejak bertemu pandang tadi tetap menatap curiga. Nando awalnya tidak menyadari dan hanya berpikir seseorang mirip dengan yang dikenalnya. Namun saat melihat Fiona berlari dia pun mulai menyadari sesuatu, kalau orang itu sengaja menghindarinya.
Theo yang ditinggal tentu saja ikut mengejar. Apes, langkahnya terhenti saat tidak sengaja menabrak seorang bapak-bapak dan dimarah habis-habisan. Setelah Theo minta maaf orang itu baru berhenti. Tapi sayang, Theo telah kehilangan jejak Fiona.
Sementara Fiona, dia terus melangkah. Seakan berlomba dengan malaikat maut saja. Detak jantungnya menggila saking takutnya. Takut ketahuan dan takut lain-lain.
Harusnya jika ketahuan saat ini pun tidak masalah lagi. Toh, sekarang tidak ada Theo bersamanya jadi rahasia aman terkendali. Theo tidak akan berpikir yang bukan-bukan. Tidak tega Fiona menyakiti hati Theo yang begitu tulus. Apa kata Theo nanti, dia pasti akan dicap sebagai pembohong kalau rahasianya yang pura-pura menjadi pacar Kris di bongkar Nando. Theo pasti amat kecewa.
Selain itu ada satu kebimbangan di hati Fiona saat ini. Jika Nando mengetahuinya berpenampilan begini maka sudah dipastikan kalau sandiwaranya terbongkar dan itu pasti akan berpengaruh besar ke Kris. Kris tidak hanya di cap sebagai duda menyedihkan gagal move on, tapi juga duda pembohong.
Karena panik Fiona pun masuk ke gerombolan emak-emak yang masuk ke salah satu toko baju. Dia menatap sekitar. Matanya begitu awas memindai sekeliling sembari menormalkan napas yang terputus-putus.
__ADS_1
"Semoga dia nggak ngikutin sampe sini," gumam Fiona. Dia terus mengendap di meja yang tersusun beberapa pakaian dalam di atasnya dan agak kaget saat melihat Nando masuk ke sana. Lelaki itu terlihat begitu semangat melihat pengunjung.
"Mampuss," umpat Fiona lagi. Dia yang berjongkok perlahan-lahan mundur dan hampir terjengkang saya melihat sepasang kaki berdiri tepat di depannya.