
"Fio, Lio, kalian ada di rumah, 'kan?" seru seseorang dengan jenis suara yang familier.
"Aulia?" gumam Fiona.
Keduanya pun berjalan bersisian dan kaget saat lihat Aulia datang dengan rantang di tangan.
"Apaan, nih?" tanya Lio sembari menyambut tempat bekal susun tiga berwarna merah hati. Merek rantang termahal, Tupp*rwar*.
"Rendang sama goreng ayam. Ada ikan bakar juga," balas Aulia.
"Wah, kalian makan-makan?" lanjut Lio. Bibirnya menganga saat membuka tempat bagian atas. Dia juga kontan menelan ludah saat melihat rendang padang, mata cowok itu berbinar.
"Ini makan malam. Kalian belom makan, 'kan?" Aulia membenarkan kacamata. "Mama sama papa pulang dari luar kota dan kita adakan acara keluarga."
"Wi, makasih, ya. Lo baik banget," sahut Lio lagi yang tetap tidak menyadari ada keanehan di diri Aulia. Dia masuk ke dalam dengan menenteng rantang.
Sedang Fiona, dia sadar ada yang tidak biasa dengan sahabatnya itu. Terlihat gelisah dan sedih, mukanya kuyu dengan mata yang agak bengkak. Seperti habis menangis.
"Masuk dulu, Au." Fiona pegang lengan Aulia.
__ADS_1
"Gausah, Fi." Aulia menggeleng lalu melihat ke belakang. Ada seorang pria dewasa berjas hitam di dekat mobil.
"Siapa?" bisik Fiona.
Aulia memberi senyum yang terlihat sangat berbeda. "Anaknya temen papa."
"Au, lo nggak apa-apa, 'kan? Cerita, dong," bisik Fiona lagi.
Namun, permintaan itu dibalas Aulia dengan gelengan kepala. "Gue pulang dulu. Nanti aja di sekolah gue cerita."
Meski tidak enak hati Fiona pun terpaksa melepas kepergian Aulia.
"Ini ada yang nggak beres. Aulia pasti nyembunyiin sesuatu," gumam Fiona, lantas masuk dan mengunci pintu. Kakinya begitu lebar menuju meja makan.
"Gue lapar, Fi. Habis futsal sama anak-anak tadi sore dan belom makan. Lo nggak makan? Masakannya enak, lho," tawar Lio yang tak memedulikan mulutnya penuh makanan. Dia terus mengunyah dan itu buat Fiona sedikit kesal.
"Bang, lo sadar nggak sih kalau ada yang beda dengan Aulia," ujar Fiona.
Namun, Filio cuma mendelik sebagai respon, lalu kembali menunduk dan makan.
__ADS_1
"Aulia kayaknya punya masalah. Matanya bengkak, Bang," lanjut Fiona lagi.
"Siapa di dunia ini yang nggak punya masalah? Wajar dia punya masalah, namanya manusia."
Fiona berdengkus, lalu melempar abangnya itu dengan kerupuk. Setelah itu diam dan tetap berpikir hingga Filio mengangetkannya dengan beserdawa
"Alhamdulillah kenyang," oceh Filio, dia bersandar di kursi sembari mengelap mulut dengan serbet. Tak ayal kelakuan itu buat Fiona misuh-misuh.
"Bang Lio, lo kok nyebelin, sih!" sungut Fiona.
"Astaga Fio, kenapa? Masih banyak kok sisanya. Noh, rendangnya masih setengah gitu. Ikan bakarnya juga masih setengah. Nggak usah misuh-misuh gitu ngapa," balas Filio tak kalah sewot.
"Bukan itu, Bang. Aulia. Gue khawatir sama dia." Fiona mengembuskan napas resah.
Mendengar itu Filio pun berdecak pelan. "Ngapain khawatir, harusnya senang. Orang tuanya ngumpul malam ini."
"Ish, gini amat punya abang yang engga peka kek elo. Heh, Bang, lo nyadar nggak sih kalau Aulia itu naksir elo? Dia naksir udah lama," gerutu Fiona. Sedetik kemudian dia tutup mulut dengan dua belah tangan, matanya juga membuka saking tak percaya. Dia keceplosan.
"Gue sadar," balas Filio santai. Tak ayal jawaban itu buat Fiona tak ubahnya patung untuk beberapa saat.
__ADS_1
"Siapa sih yang nggak sadar? Gue punya mata, gue juga punya rasa. Itu anak emang dari dulu naksir gue," lanjut Filio lagi.
Mengepal tangan Fiona. Gadis berpiama Doraemon itu pun kembali melemparkan serbet. "Lalu kenapa nggak ngerespon, Bambang?"