
"Eh, lo punya hubungan apa sama Theo?"
"Kalian pacaran?"
"So sweet banget sih dikasih gantungan."
"Beruntung banget lo busa dapetin dia."
"Eh bisikin dong caranya agar bisa gaet cowok kayak Theo."
"Lu pelet pakai apa itu anak?"
Dan masih banyak lagi pertanyaan serta ocehan yang dicecar para siswi ke Fiona hingga membuat gadis itu menggeram tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Tajam dia tatap punggung Theo yang sama sekali tidak diganggu anak-anak, sedang dirinya harus ekstra sabar menebalkan telinga saat mendengar pujian hingga nyinyiran dari siswi yang kegatelan.
Beruntung kesengsaraannya itu selesai saat guru masuk dan mulai mengajar.
Gue nggak bisa biarin ini, batin Fiona. Tangannya mengepal.
Detik demi detik pun berlalu hingga waktu istirahat pun tiba. Bel berbunyi sangat panjang. Bunyian syahdu yang membuat para murid berhamburan menuju kantin.
Sedang Fiona, dia memilih mendekati Theo yang kebetulan duduk di kursi paling depan.
Apes, belum juga sampai sebuah tangan membuatnya berjengket kaget, dan si tersangka tidak lain tidak bukan adalah Filio yang mukanya telah memerah. Abangnya itu mencengkeram lengan kirinya begitu erat.
"Lo, ikut gue sekarang," geram Filio, matanya melotot.
Fiona yang tidak paham pun meronta-ronta minta lengannya dilepaskan. "Tapi Bang gue mau ...."
"Apa-apaan ini?" Theo menyela. Dia pegang tangan Fiona yang sebelah kanan. Kedua cowok itu saling tatap dalam kebencian seakan tengah melakukan perang tak kasatmata. Keduanya saling tarik dan buat Fiona meringis, tubuhnya bergerak ke kanan kiri. Mereka seakan sedang tarik tambang.
"Kalian, lepasin gue, sakit!" rintih Fiona.
Tapi dia cowok itu tidak peduli dan terus menarik.
"Lepasin adek gue!" geram Filio.
"Kalau gue nggak mau?"
__ADS_1
Filio yang geram melepaskan tangan Fiona. Namun sebagai gantinya dia justru mencengkeram kerah baju Theo. Tidak hanya itu, Filio bahkan dengan beringas mendorong Theo hingga punggungnya membentur white board.
Fiona tentulah panik. Segera dia lepas tangan Filio dari Theo.
"Jangan berantem, bisa?" geram Fiona.
Akan tetapi Filio tidak menggubris, tatapannya ke Theo tetap tajam dan itu buat Fiona ketar-ketir. Beruntung hanya ada mereka bertiga di sana. Tak terbayang jika sampai ada saksi mata lain, pasti akan lebih parah.
"Theo, gue perlu bicara sama dia," tutur Fiona. Telak, hingga Theo maupun Filio terdiam.
"Bang, kita harus bicara," tegas Fiona tak mau di bantah.
Filio pun mengikuti langkah Fiona. Keduanya Sekarang ada di bawah pohon mangga yang ada di samping lab anak IPA.
"Bang, lo gila? Lo mau diskorsing?" cerca Fiona. Tangannya berkacak pinggang.
"Harusnya gue yang bilang gitu. Elo yang gila. Bisa-bisanya pacaran sama si kunyuk itu," balas Theo sengit.
"Iya, gue pacaran sama. Kenapa emang?"
Folio terkekeh hambar. Dia bahkan menendang pohon mangga saking geram. Dia tunjuk-tunjuk muka adiknya itu.
"Apaan sih, Bang. Gue nggak gila. Jangan lebay gitu, bisa?"
"Iya. Lo gila. Buktinya pacaran sama dia sedangkan bokap kita meninggal gara-gara mau nyelamatin nyokap dia. Lo nggak merasa bersalah gitu, nggak ngerasa berdosa?"
"Apaan sih, Bang? Bersalah dari mana? Berdosa dari mana? Bokap kita itu meninggal karena menjalankan tugas. Dan nyokap dia juga nggak bakalan mau kejadian ini menimpa mereka."
Fiona yang kesal sampai menggulung lengan yang bahkan sudah pendek. Cewek berkepang dua itu geram pada sang abang yang selalu bebal jika membahas soal ini. Kekeh dengan pendirian kalau yang patut disalahkan atas kemalangan mereka adalah Kris dan Theo. Padahal semua orang tau, itu hanya kecelakaan.
"Dengerin ya Bang. Dengerin gue baik-baik. Ini tuh udah takdir. Kita nggak bisa apa-apa. Kalau lo tanya perasaan gue apa gue sedih jadi yatim piatu sedang kita masih kecil waktu itu. Tentu aja jawabnya sedih, Bang. Lo tau gimana anak-anak ngehina kita gara-gara kita jadi yatim piatu, dan sampe sekarang gue nggak pernah lupain itu. Nggak pernah! Tapi ini bukan salah Theo. Ini takdir kita."
Mata Fiona mulai berkaca-kaca dan itu buat Filio serba salah. Tapi meski begitu cowok jangkung itu tetap saja tidak terima adiknya berhubungan sama Theo maupun Kris.
"Ya tapi harus gitu ya sama dia? Apa nggak bisa sama orang lain? Ingat Fiona, lo itu pernah naksir gila sama bapaknya. Dan sekarang mau gaet anaknya lagi. Nanti orang-orang berpikir apa tentang lo. Lo gak mikirin itu?"
"Enggak, gue nggak peduli anggapan orang lain. Kalau gue senang apa masalahnya. Kita nggak bakalan bisa bahagia kalau dengerin congor orang lain."
__ADS_1
"Fiona! Elo sadar nggak sih, dengan lo kayak gini itu lo sebenarnya nyakitin diri sendiri. Gue yakin lo cuma jadikan dia pelampiasan. Apa jadinya nanti kalau dia sadar?" geram Filio lagi.
"Dan gue nggak masalah jadi pelampiasan," sela seseorang dari samping yang tidak lain tidak bukan adalah Theo.
Filio yang kaget atas jawaban tidak terduga itu pun terbeku begitu saja.
"Gue emang jadi pelampiasan Fiona. Tapi nggak masalah. Gue mau lakukan itu demi dia."
"Kalian ...." ucapan Filio terjeda, tangannya mengepal saat melihat Theo berdiri di depannya. Sekarang mata Filio nyalang ke adiknya. "Elo bener-bener gila, Fi."
Setelah itu Filio menatap tak kalah sengit pada Theo. "Dan elo, bukannya dulu lo bukan main hina adik gue. sekarang kenapa lo deketin? Elo sadar nggak sih udah menjilat udah lu sendiri."
Theo menelan ludah dan membenarkan kata Filio dan menyadari kalau sekarang telah menjilat udah sendiri, tapi apa mau dikata dia memang sudah tidak bisa berbuat apa-apa, menampik pun percuma. Hanya menyakiti diri sendiri.
"Lio, maafin gue soal tempo hari. Fan gue bakalan bersikap baik sama adik Lo mulai sekarang."
"Kalian benar-benar." Filio yang kesal kehabisan kata. Benar-benar kehabisan kata. Dia jengkel pada Theo. Tapi juga tak habis pikir pada Fiona. Ingin dia memukulnya agar sadar kalau ini jalan yang salah, hanya saja Fiona tetaplah adiknya yang harus dia jaga dan lindungi.
"Serah lo pada." Setelah itu Filio bergegas pergi. Dia melangkah lebar menjauh. Dia takut jika di sana lebih lama dia tidak akan bisa mengendalikan diri.
"Lo nggak apa-apa?" tanya Theo, disentuhnya pundak Fiona dan kaget saat melihat gadis itu menitikkan air mata.
"Fi, maafin gue. Gue sadar kalau tingkah laku gue di waktu dulu nggak termaafkan, tapi ...."
"Jangan kepedean, gue nangis bukan gegara elo," ketus Fiona sembari menghapus air mata.
"Kalau bukan gegara gue terus karena apa dong?"
"Ya karena gue pengen aja nangis."
Theo terbengong-bengong. Alasan itu tidak masuk di akalnya. "Masa sih bisa nangis tanpa alasan?"
"Ya bisalah, namanya juga perempuan. Lo nggak bakalan tau karena elo bukan perempuan." Fiona yang kesal memutar tumit dan pergi dengan hati gondok.
"Lalu gimana soal tugas kelompok bahasa Indonesia kita?" teriak Theo, dia ikuti langkah Fiona. Tugasnya lusa dikumpulin jadi kita harus kerjakan sore ini."
Fiona diam, matanya yang memerah menatap Theo tajam.
__ADS_1
"Dan kayaknya kita ngerjainnya nggak bisa di rumah lo. Gue takut abang lo ngamuk lagi. Gimana kalau di rumah gue aja?" lanjut Theo yang buat Fiona terbeku. Lamat dia tatap Theo.
"Tenang aja, bokap gue nggak ada. Katanya sepulang ngajar dia mau pergi sama Tante Alin. Mereka ada acara reuni alumni."