
"Bagaimana Saksi? Sah?"
"Sah!"
Semua orang yang ada ruang tamu rumah Daisy pun akhirnya mengucapkan hamdalah serempak. Semua tersenyum senang terlebih lagi Kris dan Fiona. Wajah keduanya merona saat didesak orang untuk saling bersentuhan untuk pertama kali setelah halal.
Kris yang rapi dengan setelan jas serta kopiah di kepala tempak tersenyum canggung, lalu mendekatkan wajah mencium kening Fiona yang hari ini sangat cantik dengan balutan kebaya putih dan pashmina berwarna senada. Mata berbinar mereka berserobok lumayan lama, membuat siapa saja bisa menerka kalau keduanya saling jatuh cinta. Hanya saja dalam suasana seperti itu ada sepasang mata yang menatap sendu.
"Gue nggak nyangka bukan elo yang disampingnya saat ini," oceh seorang remaja yang tak lain adalah Ali. Dia menyenggol lengan Theo yang sedari tadi melihat kebahagiaan Kris dan Fiona dengan hati merana sekaligus bahagia. Aneh memang, dia sedih Fiona menikah tapi bahagia karena yang menjadi pasangan mantan kekasihnya adalah sang ayah tiri.
"Gue yakin pasti sakit. Tapi lo harus kuat. Awalnya memang nggak mudah tapi lama-lama juga bakalan biasa. Percaya deh sama gue. Gue lebih suhu soal patah hati begini," lanjut Ali yang buat Theo mendelik kesal.
"Gue denger lo bakalan kuliah ke Surabaya. Bener?" lanjut Ali.
"Iya."
Ali menyeringai. "Itu bukan cara untuk melarikan diri, kan?"
Kali ini Theo menyipit sinis. Ingin dia tonjok mulut Ali yang sedari tadi mengoceh. Hanya saja itu akan jadi angan-angan. Walau dia benci pada Ali tetap saja Ali temannya. Lagi pun yang dikatakan Ali itu benar. Dia ke Surabaya adalah untuk melarikan diri selain untuk kuliah.
Setelah melihat Kris menjauh dari Fiona, Theo pun mendekat. Dia menyapa Kris yang sedang berbicara dengan kedua orang tua yang tak lain adalah merupakan kakek neneknya juga.
"Dad, Oma, Opa."
Ketiganya menatap, lalu memberi senyum. Wajah orang tua yang sudah sepuh tersebut sangat ramah. Sama seperti Kris yang juga sangat baik padanya.
"Dad, aku mau berangkat."
"Sekarang?" Kris melirik arlojinya.
__ADS_1
"Iya, Dad. Takut nggak keburu."
"Tapi ...." Kris menggantung lisan. Lamat dia tatap mata Theo yang agak berbeda dan Kris tahu maknanya. Dia pun mengangguk mengiakan lantas memeluk Theo.
"Hati-hati. Jaga diri baik-baik. Kalau ada apa-apa cepat hubungi Dad. Jangan sungkan. Kita keluarga. Kita bukan orang lain," lanjut Kris. Dia tepuk dua kali punggung belakang Theo sebelum akhirnya melepaskan pelukan.
"Terima kasih, ya."
"Justru aku yang makasih, Dad. Makasih karena udah jagain aku sampai segede ini. Aku nggak tau apa jadinya kalau nggak ketemu Daddy."
Kris cuma merespon dengan ulasan bibir. Melihat Theo dia ingat Marwa. Dan marwa adalah bagian hidupnya di masa lampau yang tak mungkin dia lupakan seutuhnya.
"Oma, Opa, aku berangkat." Theo menyalami kedua orang tua Kris dengan khidmat hingga derap kaki terdengar dari belakang.
"Kok salaman? Emang mau ke mana?"
"Gue mau ke Surabaya," sahut Theo sembari menggulung hampir setengah kemeja putih yang dia pakai.
"Secepat ini?" Mata Fiona membelalak begitu juga kedua orang tua Kris. Mereka tahu Theo dan Fiona seumuran. Hanya saja tetap janggal terdengar di telinga meraka. Masa anak dan ibu manggilnya elo gue.
"Lo bahagiain bokap gue ya. Jagain yang bener. Jadi istri soleha jangan solehot apalagi Solehudin," sinis Theo yang buat Fiona berdecak dan melayangkan pukulan. Kontan ketiga orang itu kembali terhenyak melihat keakraban Theo dan Fiona. Tak hanya mereka sebenarnya yang kaget. Para tetangga khususnya Daisy sampai geleng-geleng kepala.
"Ya udah, gue berangkat." Theo tersenyum, dia yang hendak berlalu hampir saja mendaratkan tangan ke kepala Fiona. Seperti biasa hendak mengacak-acaknya. Beruntung dia ingat status jadi tangan itu mengambang saja di udara sebelum akhirnya ditarik kembali.
Setelah kepergian Theo, Kris merasa hatinya agak kosong. Merasa tidak enak, merasa kasihan dan merasa bersalah. Namun dia ingat lagi kata-kata Theo. Perkataan antar pria. Kalau Theo telah menyerahkan Fiona tanpa rasa penyesalan. Theo bilang akan berusaha lupakan Fiona dan Move on.
***
"Pak, kenapa harus resepsi segala? Kan aku nggak mau," sungut Fiona. Dia yang terbalut kebaya putih tampak merengut di sebelah kris yang menyetir. Mereka berdua dalam perjalanan menuju hotel tempat digelarnya resepsi yang akan dimulai jam tiga sore nanti.
__ADS_1
"Kamu ini aneh. Perempuan lain malah ingin pernikahan paling mewah. Lah ini, malah enggak mau."
"Kan aku bilang maunya ke Jepang."
"Ya, Jepang kita bakalan pergi kalau memang udha musik gugur. Tapi resepsi ya harus tetap kita gelar. Saya enggak mau dibilang egois. Saya ini duda masa iya nggak bisa kasih kamu pesta pernikahan. Kamu perawan dan saya duda. Ya saya sadar dirilah."
Mendengar itu memutar jail mata Fiona. Dia pun mencondongkan badan ke arah Kris.
"Emang bapak tau dari mana aku masih perawan? Bapak ngintip?"
Kris diam, salah tingkah. Pipinya jadi merona merah.
"Kan kamu yang bilang waktu itu," balas Kris akhirnya.
Fiona pun manggut-manggut sembari menggaruk kepalanya yang memang gatal sungguhan.
"Eh, Pak."
"Hmm."
"Kira-kira kalau diperawanin itu sakit nggak sih."
Cit!
Kris kontan menginjak pedal gas dan menatap tak percaya pada Fiona.
"Kenapa serius begitu mukanya, Pak? Sakit, ya? Kalau iya kita pending aja deh malam pertamanya. Nunggu kita ke Jepang juga enggak apa-apa. Aku siap kok nunggu."
Nunggu? Kamu suruh saya nunggu? Enggak Fiona. Saya nggak bisa nunggu lagi. Kris membatin diikuti seringai licik.
__ADS_1