Sugar Teacher

Sugar Teacher
Tak terduga.


__ADS_3

Beberapa jam sebelumnya.


Theo yang bersemangat ajak Fiona bicara. Mereka berjalan bersisian hingga tiba di parkiran yang ada pohon ketapang, pohon bertajuk indah bertingkat-tingkat. Sejuk dan asri. Theo memojokkan tubuh Fiona yang kecil ke dinding.


"Eh, lo ngapain ngajak ke sini?" tanya Fiona. Alisnya hampir tertaut saat berserobok pandang dengan Theo. Tinggi badan yang jomplang buat cewek itu mendongak tinggi dan agak merinding saat melihat bola mata Theo. Bola mata yang seperti siap menelannya bulat-bulat. Sorot mata mesum. Ya, Fiona menyadari perubahan yang signifikan itu.


"T-theo, lo mau ngapain?" lanjut Fiona terbata. Dia mulai gugup karena Theo tak kunjung bicara. Malah semakin memepetkan badan. Jarak hampir habis dan Fiona mulai sesak, Theo mulai menyentuh dagunya.


"Theo, lo jangan macam-macam, ya. Gue tabok ni," ancam Fiona lagi. Hanya saja Theo tak peduli, bibir Fiona terlihat menggairahkan dan ingin sekali dia kecup kali ini. Gejolak haram dalam dada buat akalnya goyang.


"Fi, gue ... gue ...." Napas Theo tersendat-sendat terbentur dengan detak jantung yang bertalu.


"Iya, elo kenapa? Bisa nggak ngomongnya jangan deket-deket gini? Nggak nyaman gue." Fiona tolak dada Theo


Namun, Theo tak menggubris. Sorot matanya malah mengartikan sesuatu yang lain. Sesuatu yang liar.


Gubrak!


Suara keras dari arah samping buat Theo spontan menjauhkan badan, lalu mencari arah suara dan agak kaget saat melihat Kris yang tampak shock di sana.


"Duh, Pak, maaf! Bapak nggak kenapa-napa, 'kan?" tanya seorang siswi di lantai dua. Pasalnya dia tidak sengaja menjatuhkan pot bunga dan hampir mengenai kepala Kris.


"Ya, saya tidak kenapa-napa. Tapi kali hati-hati!" seru Kris, lalu pergi begitu saja.


Sementara itu, Theo diam-diam menelisik muka kaget Fiona. Ekspresi pacarnya itu kentara sekali tengah kaget, kaget condong ke khawatir dan Theo menyadari sesuatu di sana. Sorot itu tak pernah dia lihat sebelumnya. Sorot mata itu tak pernah Fiona beri ke dia. Dari sana Theo bisa menyimpulkan—Fiona tidak pernah mengkhawatirkannya, tidak pernah menganggapnya se-spesial dan sebeharga itu.


Sakit, tentu saja. Theo merasa hatinya bagai di remass lalu ditaburi bawang. Nyeri, ngilu dan nyut-nyutan. Theo pernah melihat sorot mata itu, sorot mata Fiona saat ini persis saat Kris diam-diam menatap Fiona. Sorot mendamba dan merindu.


Panas hati Theo, begitu juga matanya. Dia usap wajah yang gusar dengan sebelah tangan. Ingin dia menampik, tapi kenyataan kalau Fiona masih menyukai ayahnya begitu kentara. Ingin dia berpura-pura bodoh, tapi sama saja, percuma. Dia sudah tahu segalanya walau kenyataan itu bukan keluar dari mulut Fiona maupun Kris.


"Fiona."


Spontan Fiona menoleh lalu menatap wajah Theo yang berubah drastis. Pacarnya Itu tampak berang, mukanya merah dengan mata yang melotot.

__ADS_1


"Theo, lo kenapa?" Fiona ingin memegang tapi Theo dengan segera menepis tangan Fiona. Cowok itu juga mundur beberapa langkah, setelah itu melihat sekitar, keadaan agak sepi.


"Fiona gue mau ngomong," katanya, terdengar dingin.


Fiona terbeku, sudah lama tidak merasa seperti itu. Tatapan Theo kali ini mengingatkan dirinya dengan sosok Theo judes dan angkuh, sosok yang dia lihat pertama kali dulu. Dingin dan kejam.


"Iya ngomong aja."


Theo memasukkan kedua belah tangannya ke dalam saku. Satu tangan mengepal geram dan satu tangan yang lain meeeremas kotak kecil yang sudah dipersiapkan dari rumah. Kotak perhiasaan berisi cincin emas yang rencananya akan dia sematkan.


Theo tarik napas panjang-panjang. "Fi, gue mau kita udahan."


Sakit. Hanya kata itu yang Theo rasa saat ini. Tak bisa digambarkan lagi. Meminta putus itu sama saja dia dengan menelan duri yang perlahan merobek kerongkongan hingga sampai ke dada. Tersayat-sayat.


Kendatipun demikian dia harus memutuskan, menahan Fiona hanya akan menyakiti diri sendiri dan gadis itu. Theo sadar kalau Fiona tidak akan pernah bisa move on. Mau sekeras apa dia berusaha, kiblat hati Fiona hanya Kris bahkan tanpa gadis itu sadari sekalipun.


"Fiona, gue mau kita putus," lanjut Theo lagi. Penuh penegasan kali ini.


Fiona tentu tak terima. Kepalanya menggeleng tegas. "Theo, lo kenapa? Kenapa sih kok bisa tiba-tiba minta putus?"


"Gue mau putus. Kayaknya hubungan ini nggak bakalan sukses," jelas Theo lagi. Mukanya masih datar.


"Iya, tapi kenapa?" Fiona masih tidak percaya dan tidak paham, seingatnya dia dan Theo tidak punya masalah. Bahkan belum semenit yang lalu Theo menatapnya dengan penuh nafsu. Lalu, kenapa tiba-tiba minta putus?


"Gue mau kuliah ke Surabaya."


Fiona terbeku. Kesulitan dia menelan ludah.


"Surabaya? Tapi kenapa? Bukannya mau ngelanjutin di Jakarta aja. Kan lo sendiri yang bilang mau ke Jakarta aja. Terus kenapa berubah pikiran?"


Theo menggeleng. "Kita putus."


Setelah mengatakan itu Theo pun pergi, dia tahan gejolak dalam dada lalu memacu kendaraannya pergi dari sana dan meninggalkan Fiona yang shock.

__ADS_1


***


"Jadi gimana, Fi? Lo mau nggak jadi Mommy tiri gue?"


Kalimat itu merupakan kalimat keramat. Dulu, Fiona sangat sering mengatakannya. Hanya saja saat ini seperti ajian gila yang buatnya tak bisa mencerna apa pun.


Kris yang keheranan sampai menyentuh tengkuk. Dia kikuk apalagi saat beradu mata dengan Daisy yang seolah siap menelannya bulat-bulat.


"Kris, apa ini? Kalian mau main-main?" sentak Daisy.


"Enggak, Des. Sumpah. Aku ke sini mau lamar Fiona untuk Theo."


"Kami udah putus, Dad," sela Theo.


"Apa? Putus?" Kris kehabisan kata. Tulang-tulang melemas begitu saja. Tak menyangka dia anak penurut yang selalu jadi kebanggaan mencoreng mukanya sendiri.


"Aku nggak mau jadi anak durhaka yang mentingin kebahagiaan sendiri dan mengabaikan kebahagiaan Daddy."


"Theo ...." Kris memijit pelipis. Bingung harus apa.


"Daddy sayang juga kan sama Fiona?"


"Kris!" Daisy melotot. "Itu benar?"


Kris kembali terpojok. Ingin dia menggeleng dan menampik, tapi dia memang kenyataannya menyukai dan menyayangi Fiona. Bukan sebagai siswi, melainkan wanita. Ya, wanita yang acap kali dia bayangkan menemaninya di ranjang. Memang, seliar itu otaknya.


"Kris, jawab!" Suara Daisy melengking.


"Dad. Ini kesempatan terakhir," kata Theo.


Kris diam, jantungnya jedag-jedug tak karuan. Ditatapnya Fiona yang melotot.


"Dad?"

__ADS_1


Kris memejamkan mata, lalu menatap Daisy yang sudah mengepalkan tangan. Aris bahkan sudah waspada, takut istrinya melompat dan mengamuk.


"Destian, tolong Terima saya menjadi menantumu."


__ADS_2