Sugar Teacher

Sugar Teacher
Kris nyerah.


__ADS_3

"Fiona, kamu kenapa? Kenapa mukanya canggung begitu? Dan kamu Theo, kenapa mukamu jadi merah? Kamu sakit?" cecar Kris saat tiba di depan Fiona dan Theo.


"Enggak kok, Dad. Cuma lagi ...."


"Aku lagi nggak enak badan, Pak," sela Fiona dan itu buat Theo paham kalau cewek yang sudah resmi jadi pacarnya itu sedang tidak nyaman dengan keadaan saat ini.


"Lo anterin gue pulang, ya," lanjut Fiona, dia menatap tanpa berkedip ke arah Theo dan Theo pun balas dengan anggukan.


"Ya sudah. Ayo naik. Gue anterin."


Kris yang menyadari ada yang aneh segera menahan lengan Fiona. "Kamu beneran nggak apa-apa? Kalo enggak biar saya aja yang antar."


Tentu saja ajakan itu dibalas Fiona dengan gelengan kepala, lalu melepas tangan Kris dari lengannya. "Gak usah, Pak. Aku sama Theo aja. Bapak lanjutin aja makannya."


Sekarang Fiona telah duduk di belakang Theo dengan posisi yang buat Kris merasakan hatinya nyeri. Tidak nyaman dan agak menyesal membelikan Theo motor itu. Motor yang jok penumpang lebih tinggi dari pengemudi. Motor yang kata cewek-cewek bikin encok pinggang.


"Iya, Dad. Aku aja yang anterin Fiona. Daddy sama Tante Alin lanjutin aja," timpal Theo.


"Jadi ceritanya kalian nggak ikutan makan?" Kini Alin yang bertanya. Basa basi saja sebenarnya, sebab dia tahu alasan Fiona itu hanyalah kebohongan belaka. Lagian siapa yang tahan melihat orang yang disuka berdekatan dengan perempuan lain?


"Nanti aja, Tan. Lain kali. Kasihan Fiona lagi nggak enak badan."


"Ya sudah kalau begitu hati-hati."

__ADS_1


"Oiya, Tan." Ucapan Fiona terjeda, dia tatap Alin lekat lalu ke Kris sekejap, setelah itu kembali ke Alin. "Aku mau minta maaf soal tempo hari. Tolong jangan ambil hati. Anggap aja waktu itu aku lagi kesurupan jin genit yang gak dapet sajen."


Sekarang Kris dan Alin bertatapan, mereka paham kejadian mana yang Fiona bahas.


"Aku bakalan doain kalian. Semoga langgeng. Kalian cocok," lanjut Fiona lagi.


Kris tentulah kaget, dia terdiam merasakan hati bagai diremas dan sialnya tidak bisa apa-apa. Dia perhatian punggung Fiona yang menjauh, setelah itu mengembuskan napas panjang dan berat.


"Kris, kamu yakin mau ngelakuin ini? Nggak tega aku liatnya. Dengan begini kamu itu secara nggak langsung nyakitin dia dan nyakitin diri sendiri," tutur Alin. Ini mengarah ke kesepakatan mereka berdua saat di mobil tadi. Kris memintanya menjadi pacar bohongan.


Kris yang masih melihat depan lagi-lagi mengembuskan napas panjang. "Ini pilihan terbaik, Lin. Aku nggak mau buat Theo sedih. Lagian aku sama gadis itu gak bakalan bisa sama-sama."


"Kenapa? Apa usia?" cecar Alin. Alisnya naik sebelah, setelah itu terkekeh hambar. "Ayolah Kris, jangan kolot. Usia kalian cuma beda sepuluh tahun. Gak apa-apa kali. Lagi trend juga cinta beda usia."


"Kamu serius?" teriak Alin. Keterkejutan kentara di mukanya itu.


Kris balas dengan kekehan, lantas menatap Alin yang terbengong-bengong. "Iya, dan aku sempat lupa kenyataan. Bagaimana orang kayak aku bermimpi bisa dapetin dia."


"Nasibmu tragis amat, Kris. Tuhan kasih kamu segalanya tapi apes dibagian asmara. Menyukai Marwa, tapi baru aja bahagia dia udah pergi ninggalin kamu selamanya. Mana ninggalin anak pula. Coba bilang, apa yang sekiranya bisa aku bantu."


Kris balas dengan kekehan lagi, kekehan yang terdengar penuh ironi. Dia membenarkan perkataan Alin tentang ketampanan, otak yang cerdas dan keluarga yang kaya tak membuatnya beruntung dalam hal asmara.


"Aku juga nggak tau kenapa bisa begini."

__ADS_1


"Dia tahu kejadian itu?" lanjut Alin yang semakin penasaran. Gadis itu kembali tidak percaya saat Kris memberikan anggukan kepala.


"Kasihan banget sih kamu." Alin menepuk pundak Kris. "Ya sudah, traktir aku makan. Aku sekarang beneran lapar setelah mikirin hubungan kalian."


Sementara itu di lain tempat ada Fiona yang terus diam. Sepanjangan perjalanan dia terus memikirkan kedekatan antara Kris dan Alin. Benarkah terjadi seperti itu—Kris dan Alin berkencan—atau mungkin hanya pura-pura saja.


Akan tetapi Fiona kembali segera menyadarkan diri, mau itu hanya pura-pura atau sungguhan pun dia tidak akan ambil peduli. Yang jelas dirinya tidaklah pernah ada di hati pria itu.


Fiona hapus air matanya, lalu menepuk pundak Theo. "Gue haus!"


Theo pun memperlambat laju kendaraan dan berhenti tepat di sebelah gerobak es tebu. Keduanya duduk bersebelahan.


"Sakit banget, ya?" tutur Theo sembari menyerahkan gelas besar berisi es tebu ke Fiona.


"Tentu aja sakit. Gue hampir gak bisa napas tadi," balas Fiona, mukanya murung dan itu buat Theo tidak enak hati.


"Coba bilang, gue harus apa biar bisa hibur elo."


"Menghibur?" Fiona mendesis, lalu mengembuskan napa panjang setelah itu menatap langit yang sudah mulai berubah warna jadi jingga. "Elo diam aja terus habisin itu minum. Habis itu kita lanjut pulang. Gue udah janji sama Tante Daisy mau pulang sebelum jam lima sore."


Hening. Keduanya sibuk menatap jalanan yang ramai dan padat. Dan entah kenapa Theo jadi kasihan pada Fiona, tapi juga bersyukur kalau cewek itu sadar posisi kalau tidak akan bisa bersanding dengan ayah tirinya.


"Fi, gue tahu ini agak kejam buat lo terima. Tapi percayalah usaha nggak pernah menghianati hasil. Sabar itu kunci. Jadi lupakan dia dan ukir kenangan indah bareng gue."

__ADS_1


"Dan gue tahu, itu adalah kata-kata buaya yang lagi puasa," desis Fiona yang buat Theo terbahak.


__ADS_2