Sugar Teacher

Sugar Teacher
Perkelahian.


__ADS_3

"Dad, Daddy!" Theo berteriak semau hati tanpa memedulikan tetangga atau Mun yang terlonjak kaget karenanya. Dia terus berteriak menyeru Kris berkali-kali.


Kris yang baru selesai mandi tentulah bergegas menghampiri sang anak tiri meski handuk masih membelit pinggangnya.


"Kenapa?" tanyanya pada Theo yang posisinya sedang memunggungi. Sedetik kemudian terlonjak kaget saat mendapati wajah Theo penuh memar, bahkan ada jejak darah yang mengering di kedua sudut bibir.


"Loh, ini wajah kamu kenapa?" tanya Kris lagi, dia mendekat dan mencoba memeriksa keadaan wajah Theo tapi ditepis secara kasar. Dengan keterkejutan yang kentara dia pun berkata dan menanyakan alasannya.


Alih-alih mendapat jawaban dari pertanyaan, Kris justru diberi tatapan kesal dan itu semakin buatnya tidak tentram.


"Theo, kenapa? Ngomong dong. Sebenarnya ada apa? Siapa yang ngelakuin ini sama kamu."


"Lio!" balas Theo akhirnya dan itu menambahkan kebingungan Kris.


Kenapa? Dan apa sebabnya?


Pertanyaan itu berkelindan dalam kepalanya.


"Dia yang mukulin aku sampai kayak begini."


"Ya, tapi alasannya kenapa?"


Lagi, alih-alih menjawab Theo justru diam, menatap makin lekat wajah sang ayah tiri dengan saksama dan benar-benar tidak paham dengan statement Lio, dia tidak terima ada yang dikatakan Lio.


Bagi Theo Kris adalah sosok malaikat tidak bersayap. Orang baik yang sudah dia anggap berbudi luhur, sebab tidak akan ada yang sebaik Kris. Lelaki itu rela merawatnya sampai besar padahal mereka tidak ada ikatan darah.


Sebenarnya bisa saja Kris menyerahkan dirinya ke nenek dari pihak ibu. Nyatanya, Kris bersikukuh ingin menjaganya. Kris juga memberinya kemudahan dan kemewahan. Karena itu juga dia berjanji akan berbakti pada Kris, menganggap Kris adalah orang tua kandung yang wajib disayangi. Dan perkataan Lio membuatnya berang. Mereka saling hantam hingga Jean dan beberapa guru yang kebetulan belum pulang melerai mereka dengan paksa.


"Theo!" sentak Kris yang terdengar tidak sabar.

__ADS_1


"Aku nggak terima karena cunguk itu bilang kalau Daddy pembunuh."


Sekonyong-konyongnya Kris terdiam. Dia limbung beberapa detik setelahnya. Namun, bisa menguasai diri dan tetap menatap Theo nanar.


"Dia juga bilang kalau aku juga seorang pembunuh. Aku gak terima, Dad. Aku gak terima dia bilang omong kosong kayak gitu makanya aku pukulin dia. Dia layak. Terlebih lagi dia bilang kalau Daddy adalah dalang kenapa dia dan adiknya melarat. Aku gak terima dia bilang kebohongan kayak gitu. Aku gak percaya," lanjut Theo. Tangannya mengepal saat bercerita dan itu buat Kris bingung harus apa.


"Daddy, itu bohong kan? Itu gak bener kan? Daddy harus sewa pengacara. Biar dia dipenjara karena ngoceh yang gak bener. Daddy harus ...."


Lisan Theo terjeda karena Kris meninggalkan dia begitu saja, lantas masuk ke kamar.


"Daddy!" Theo pun menyusul dan melihat sang ayah tiri tengah bergegas memasang baju, wajahnya panik.


"Daddy mau ke mana?" tanyanya keheranan.


"Daddy harus ketemu Lio," balas Kris sekenanya lantas menyambar kunci motor yang ada di nakas. "Kamu istirahatlah dan minta Bik Mun buat obati luka kamu. Daddy pergi sebentar."


Mendengar itu sebelah ujung sudut Theo terangkat karena berpikir Kris akan membuat perhitungan.


Kris mengangguk, lantas pergi begitu saja meninggalkan Theo yang mematung di kamarnya sembari mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang.


"Hati-hati, Dad! Kasih dia pelajaran yang setimpal!" teriak Theo yang tidak direspon Kris sama sekali.


Nyatanya, setelah mengadu seperti bukannya lega Theo justru merasa ada yang janggal. Awalnya percaya diri tapi mendadak berubah penuh keraguan dalam sekejap mata. Dia merasa wajah Kris itu tidak ada semburat kebencian sama sekali dan itu membuatnya resah juga.


Apa gue ikut aja? batinnya.


-


-

__ADS_1


-


Di toko.


Fio yang baru saja tiba di toko dikejutkan dengan bunyian dari belakang. Keterkejutannya makin berlipat saat melihat siapa ada di sana.


"Bang Lio!" serunya dengan lantang. Dia ingin menghambur ke saudaranya itu tapi terjeda karena Daisy lebih dulu melewatinya. Tantenya itu tampak panik.


"Loh, muka kamu kenapa, Lio? Kamu berantem?" sambar Daisy, matanya melotot geram. Dia dekati Lio yang mematung di ambang pintu toko dan melihat lekat wajah keponakannya yang membiru, ada luka lebam di beberapa bagian.


"Ya Allah, udah Tante bilang kan, jangan berantem. Jangan cari gara-gara. Kamu itu mau ujian. Kamu itu bukan preman, kenapa doyan berantem, ha! Apa kamu gak kasian sama Tante? Nggak kasian sama Fio? Kami cuma punya kamu di keluarga kita, Lio. Cuma kamu laki-laki yang kami punya. Harusnya lebih dewasa."


Kendatipun dimarah sedemikian rupa tak pelak membuat Lio menjawab. Matanya yang merah hanya menatap fokus ke sang adik yang juga terlihat shock dibelakang tantenya itu.


"Lio, bilang sama Tante, kamu berantem sama siapa?"


Lio masih tidak menjawab, matanya hanya tertuju ke meja kasir tempat di mana ada kunci motor milik Daisy.


"Cepat katakan Lio!" sentak Daisy kemudian.


Lagi, bukannya menjawab Lio justru menarik tangan Fiona dan menyambar kunci motor. Daisy tentulah kaget dan mengejar, tapi Lio tidak mempedulikan kata-katanya dan terus mengendarai motor bak orang kesetanan.


Dalam kepanikan dan kekacauan seperti itu ponsel Daisy pun bergetar dan itu adalah panggilan dari Kris. Alangkah terkejutnya dia setelah mendengar apa yang Kris katakan.


'Kamu serius?"


****


Btw selamat hari raya buat yang menjalankan.

__ADS_1


Maaf lahir batin. Selamat lebaran.


__ADS_2