
"Hey, lo ngapain ngelamun?" tanya Aulia sesuai menyenggol lengan Fiona. Fiona yang sedang berdiri memanggang jagung pun tersentak, lalu menyenggol balik Aulia yang nyengir.
"Kebiasaan, jangan gitu ngapa. Kalo jantung gue melorot ke lambung gimana? Bisa lo tanggung jawab?" ketus Fiona dengan wajah masam kecut.
Aulia cume cekikikan lalu membantu Fiona membalik jagung. "Habisnya gue heran, dari tadi lo melamun terus. Nggak happy padahal di sini semuanya pada seneng."
Fiona pun mengedarkan mata ke sekitar dan melihat semua orang tertawa menikmati kebersamaan. Semuanya berkumpul di halaman dam teras. Buat acara kecil-kecilan, karena kelulusan dirinya dan sang abang. Inisiatif, Daisy pun membuat acara untuk merayakan. Mereka bakar jagung, sosis dan lain-lain.
Untuk kali ini Fiona bagian bakar jagung dan sosis, sedang Filio dan Ali mengecek soundsystem. Daisy dan Jean menata meja makan yang meraka letak di teras.
"Lo jadi kuliah ke Amerika?" tanya Fiona, mengalihkan pertanyaan.
"Jadi, nyokap bokap lagi semangatnya ngurusin itu."
Fiona menolah dan melihat wajah kusut Aulia. Sahabatnya itu juga terdengar mengeluarkan napas berat berulang kali. Dia kalungkan lengannya ke pundak Aulia, lalu menepuk berkali-kali.
"Lo sabar, ya. Mungkin ini yang terbaik." Fiona nyengir, lalu Aulia bala dengan cubitan.
"Gue itu galau. Lo itu harusnya nangis leher karena gue tinggal jauh. Lah ini malah ngusir. Temen macam apa ini?"
Dan lagi, Fiona balas nyengir. "Yabkan demi masa depan elo. Emang apa yang buat lo galau. Ortu lonpsgi udah nyiapin segalanya. Kagak mungkin juga dia buat anaknya jadi gembel ke luar negeri sono."
Aulia mendesis dan Fiona makin mengeratkan pelukan. "Jadi kalo selesai kuliah lo bakalan di kawinin sama itu om-om?"
Aulia mengangguk lesu. "Gini amat jadi anak tunggal. Mana itu orang kek bisu. Dingin, kayak kulkas tiga pintu. Tatapannya sinis beud. Mana tajem lagi. Deketan ama dia gue kek deketan ama psikopat. Jedag jeduk ini jantung," balas Aulia. Bibirnya menye-menye tidak karuan. Tak ayal itu buat Fiona cekikikan makin nyaring.
"Ketawa lagi gue tabok pake jagung ni." Aulia melotot kesal, bukannya dihibur malah diledek.
"Iya iya. kagak lagi."
__ADS_1
Keduanya pun menyimpan jagung yang sudah matang ke piring. Setelah itu mengganti jagung baru. Aulia kebagian mengipas bara.
"Ayo ayo minum dulu." Aris keluar dari rumah sembari menenteng termos es. Sedang tangan satunya membawa teko perasan air jeruk."
"Fio, Lio, Aulia sama Ali, ayo ke sini. Kita minum dulu!" seru Aris lagi.
Semua orang naik ke teras dan menikmati. Malam ini kentara sekali kebersamaan mereka dan kebahagiaan begitu nyata di wajah Daisy.
"Lio, tolong keluarin motor Om dari garasi. Om mau pergi."
Tanpa banyak kata Lio pun bergegas ke garasi dan agak kaget saat melihat motor berbodi ramping seperti belalang ada di sana. Hanya motor itu, tidak ada yang lain.
"Motor ini apa ya?" gumam Lio. Walau bingung dia seret juga motor itu keluar.
"Om, Om Aris beli motor baru?" tanya Lio. Dia naik ke teras dan refleks menangkap saat Aris melemparkan sesuatu padanya.
"Bagus kan? Kamu suka? Kalau iya ambil aja."
"Om serius kasih aku motor?" Filio bertanya memastikan dan langsung melompat kegirangan saat mendapat anggukan. Dia langsung turun ke motor itu dan menciuminya berkali-kali.
"Om makasih, Om. Maksih banyak!" seru cowok berbadan kurus tinggi itu. Dia bahkan menjepret sana sini dan mengabadikannya dalam story WA. Ali bahan membantunya memfoto beberapa bagian.
Melihat itu Fiona mulai manyun. Dia dekati Daisy.
"Ih, Om Aris sama Tante nggak adil, masa Bang Lio dibelikan motor aku enggak," protes Fiona. Dia bergelayut manja ke lengan Daisy dan mengusap perut tantenya yang mulai membuncit.
"Sama aja, Fi. Kalian kan kampusnya sama. Kan bisa bareng-bareng," sahut Daisy.
"Ih, Tante mah."
__ADS_1
Filio yang merasa diatasi angin pun mendekati adiknya, setelah itu seperti biasa akan mengejak menggoda. Situasi menjadi riuh rendah karena dua beradik itu saling kejar.
Daisy yang melihat itu hanya bisa geleng-geleng kepala, lantas mendekati Jean yang duduk di kursi. Kali ini dia tidak protes atas keributan itu, tidak pula berteriak untuk melerai. Sudah biasa, baik Filio maupun Fiona emang akurnya tidak pernah awet. Namun meski begitu Daisy yakin dua bersaudara itu saling menyayangi.
"Nggak kerasa mereka udah gede, ya," tutur Jean. Tatapannya tetap melihat Lio dan Fiona yang terus saling jitak. Wanita seusia Daisi itu tersenyum kecil dan memperhatikan lengkungan di pipinya, terlihat menawan.
"Iya, nggak nyangka mereka udah sebesar ini."
"Dan sekarang kamu udah bisa tenang. Mereka udah besar, kamu juga dapat suami yang baik. Aku turut bahagia."
Mareka saling tatap dan kenangan lama terputar lagi dalam memori. Dulu, saat ayah Fiona meninggal Jean lah yang tahu bagaimana sibuknya Daisy. Bahkan dia ikut membantu mengurus sarapan dan berbagai keperluan Filio dan Fiona jika Daisy punya urusan. Bisa dibilang, Jean ibu pengganti, sama seperti Daisy.
"Eh, aku balik dulu ya. Udah jam setengah lapan." Jean meletak minuman soda ke meja, lalu merapikan blouse putih yang melekat di badan.
"Udah mau cabut?" Daisy beranjak dari kursi dan berdiri. "Cepat amat, Jean. Masih awal ini."
Jean lagi-lagi membalas dengan ulasan bibir.
"Aku ada janji sama orang. Ya udah ya. Aku pamit." Jean melambaikan tangan, lalu turun. Filio yang masih memiting kepala adiknya segera melepaskan dan menghampiri Jean.
"Lah, Mrs Jean mau ke mana?" tanyanya sembari menatap lamat wanita dewasa yang sudah lama dia sukai itu.
"Mau pulang. Ada janji soalnya."
"Aku anter, ya."
Jean segera melibaskan tangan. "Gosah, Lio. Udah malam. Saya bisa nyetop taksi di depan."
Namun, bukan Lio namanya jika tidak memaksa. Dia tatap sang tante yang berdiri di teras. "Tan, aku anter Mrs Jean, ya? Nggak aman kalau pulang sendiri. Takutnya di culik preman."
__ADS_1
Tak lama setelah Filio dan Jean pergi, Ali pun ikut pamit. Sekarang tinggal empat orang saja di sana.
"Eh, Fio itu bukannya mobil Pak Kris?" tegur Aulia. Fiona yang hendak memasukkan sosis ke mulut kontan menariknya lagi, lalu menatap Daisy yang juga ikut keheranan akan kedatangan tamu dadakan itu.