
Adegan mimisan itu sukses buat Kris malu kala menatap Fiona. Walau sudah tiga bulan berlalu tetap saja rasa canggung itu masih ada. Sekarang dia merasa tidak keren lagi, malah sebaliknya. Fiona juga sering tersenyum tidak jelas kala mereka bertemu. Seakan mengejek. Gadis itu bahkan sesekali menekan hidung sendiri dan itu buat Kris kikuk setengah mati dan mati-matian menghindarinya.
Namun, hari ini dia terpaksa harus berhadapan dengan Fiona lagi karena Daisy menikah. Teman semasa kuliahnya itu melangsungkan resepsi di sebuah hotel berbintang tidak jauh dari rumahnya.
"Udah, Dad?" tanya Theo dengan kepala yang menyembul lebih dulu. Pertanyaan itu buat Kris menekan dada karena kaget akan kedatangan anaknya yang tiba-tiba.
"Kalau udah ayo kita berangkat," ajak Theo lagi, lalu menutup pintu dan membiarkan Kris mematut diri di depan cermin. Dia menarik napas dan menghelanya lumayan panjang.
Ayo fokus fokus fokus. Kris membatin lalu mengambil kunci mobil.
Sementara itu di hotel Fiona dan Filio kebagian tugas menyambut tamu. Keduanya berdiri berjejer dengan beberapa orang dari pihak Aris.
Mulanya mereka menolak, tapi siapa yang bisa menang dari tantenya yang galak itu. Alhasil keduanya pasrah saat disuruh memakai pakaian yang sama warna. Bedanya Filio memakai kemeja biasa, sedang Fiona harus tahan dengan gamis beserta jilbab dan beberapa hiasan di kepala. Semua berwarna ungu muda.
Sedang yang menemani Daisy bersanding di pelaminan adalah kolega jauh yang didatangkan langsung dari luar pulau. Sepasang pengantin itu terlihat bahagia, senyuman tak henti mengembang saat menyalami para tamu yang datang.
Filio yang menyadari ekspresi tidak mengenakkan Fiona pun menyenggol lengannya. "Ngapain lo mukanya di tekuk begitu?"
Fiona mendesis sebentar lalu pergi begitu saja. Filio tentu tidak membiarkan itu. Dia ikuti sang adik dan terus saja mencolek pinggangnya.
"Lo cemburu takut nggak diperhatikan sama Tante lagi?" terka Filio. Seharian ini dia perhatikan wajah sang adik lebih banyak murung ketimbang tersenyum.
"Lo apa-apaan sih, Bang. Ya enggaklah." Fiona berhenti di meja prasmanan dan mengambil satu puding yang ada di sana. Lalu, duduk di salah satu di kursi sudut ruangan yang jauh dari keramaian. Lio pun ikut juga. Keduanya menatap Daisy dan Aris yang sedang bersalaman dengan para tamu.
__ADS_1
Tiba-tiba Fiona mendesah panjang setelah memasukkan puding cokelat ke dalam mulutnya. Terlihat begitu nelangsa.
"Fi, lo baek-baek aja, 'kan?" tanya Filio lagi.
Fiona pun mengangguk sebagai balasan. "Tante kita cantik banget. Gaunnya buat mata silau. Riasannya juga pas. Tante kita cantik. Nggak nyangka dia bisa secantik ini."
"Tentu aja. Namanya nikah ya harus dandan maksimal. Terus yang buat lo resah apaan? Bukannya bagus Tante kita nikah, kasian kalau kelamaan jomblo. Nanti jadi perawan tua terus gak bisa melahirkan lagi."
Fiona kembali mengembuskan napas panjang. "Gue juga pengen nikah, Bang."
Kontan Filio terbahak-bahak, tapi saat dipelototi Fiona dia langsung terdiam, hanya saja sisa-sisa rasa geli itu susah untuk di tahan. Dia pukul dahi sang adik gemas.
"Elo ya, ngadi-ngadi," cetusnya pelan. Namun sedetik kemudian matanya menyipit sinis. Senyumnya sirna karena memikirkan sesuatu yang gila. "Jangan bilang lo sama cunguk itu udah ...."
"Gue kira." Filio mengembuskan napas lega, lantas menatap lamat mata sang adik yang menyipit tajam. "Fi, tolong jangan macam-macam. Masa depan masih cerah."
"Tapi masalahnya gue juga nggak tau harus ngapain lagi. Yang lain udah milih dan dan semangat buat masuk kuliah. Nah gue, nggak tau mau pilih jurusan apa. Gue cuma mau nikah terus dihidupi laki. Gosah kerja, gosah mikir."
Lagi, Filio mendaratkan sebuah jitakan yang buat Fiona mendesis geram. "Lo pikir berumah tangga semudah itu?"
Fiona dengan enteng menggidikkan bahu lalu kembali menikmati puding. "Ya paling gak nggak nggak perlu mikir keras dan belajar."
"Elo ...."
__ADS_1
"Lagi bahas apaan?" tanya seorang arah depan.
"Eh Theo, Pak Kris?" Fiona berdiri dan menarik kursi buat Theo. Sedang Kris memilih duduk di kursi di depan mereka. Keduanya masing-masing membawa semangkuk bakso.
"Lagi ngomongin apaan?" tanya Theo lagi.
"Ini si Fio katanya nggak mau kuliah, dia mau langsung nikah."
Kontan Kris dan Theo tersedak. Mereka menatap Fiona tajam. Begitu juga Kris yang langsung memutar kepala menatap ke sang anak yang telah terbeku.
"Kita sungguh nggak ngapa-ngapain, Dad," jelas Theo. Panik.
"Iya. Kita nggak ngapa-ngapain, Pak," timpal Fiona. Dia pukul pundak abangnya lagi.
"Tapi beneran. Fiona bilang mau nikah muda. Dan lo Theo, kalo nggak bisa nafkahin adek gue mending putus aja. Nanti gue carikan Fiona om-om yang yang bisa ngasih makan dia. Gimana, Pak Kris. Bapak setuju nggak?"
Kini, Kris kembali tersedak. Dia balik badan dan menyembunyikan pipinya yang sudah hangat dan merah.
"Lo apa-apaan, sih, Bang? Jangan buat malu ngapa," protes Fiona.
"Lah kan lo sendiri yang bilang mau nikah muda. Ya nggak mungkin sama Theo. Cari yang tua aja, yang udah punya kerja. Nanti deh gue nanya Om Aris, kali aja punya temen yang siap nikah. Oiya, juragan cilok depan gang itu kayaknya jomblo."
"Bang Lio!"
__ADS_1