Sugar Teacher

Sugar Teacher
Kencan ketiga.


__ADS_3

"Kalian ngapain?"


Alih-alih menjawab Fiona justru mendekati Kris, lantas memutar tubuh lelaki itu beberapa kali. Mukanya terlihat sangat panik.


"Bapak gak apa-apa, 'kan? Aku dengar Bapak ke rumah sakit. Bapak gak sakit, 'kan? Jantung bapak sehat, 'kan? Astaga Pak, aku minta maaf. Aku janji gak bakalan ajak Bapak ke sana lagi di kencan kita selanjutnya," kata Fiona yang buat Kris terbelalak besar, begitu pun Theo. Cowok itu menatap tajam ke sang ayah tiri lalu ke Fio secara bergantian.


"Dad, apa ini maksudnya, Dad? Daddy sama dia berkencan?" tanya Theo sembari menuding Fiona. Rahangnya mengeras saat bertanya dan itu buat Kris gugup bukan kepalang. Bagaimana tidak, selama ini dia terus saja menyembunyikan kenyataan kalau dia dan Fiona punya perjanjian kencan.


"Dad?" desak Theo. Tangannya mengepal minta penjelasan.


Kris tetap diam, bungkam seribu bahasa, maka dari itu Theo melirik Fiona yang nyengir di belakang Kris. Cewek itu sadar kalau situasinya berubah drastis.


Mampus gue, mampus! batinnya.


"Fio, jawab! Apa kalian beneran pacaran!" sentak Theo.


"Hmm, aku ... aku .... aku pergi dulu ya. Udah sore. Nanti dicariin Tante. Assalamualaikum."


Setelah mengatakan itu dia bergegas keluar rumah dan menghentikan kang ojek yang kebetulan lewat.


Astaga ini mulut kenapa bisa keceplosan? Begoo begoo begoo. Kok gue bisa sebegoo ini sih? gerutunya dalam hati sembari menampar bibir sendiri hingga kang ojek yang sedang mengemudi tersenyum dikulum tapi tidak berani berkomentar.


-


-


-


Malam makin larut tapi tak juga bisa membuat Theo terlelap. Berbagai macam gaya dicoba agar bisa sampai di peraduan.


Nihil, semua sia-sia karena isi kepalanya yang semrawut. Dia pun memilih keluar kamar dan menuju balkon lantai dua rumah. Baju kaus oblong yang melekat di badan tak jadi penghalang. Dia terus berdiri membiarkan angin malam menerpa tubuh sembari menatap jauh ke depan.


Kecewa, itu yang dia rasa. Kecewa karena Kris tidak memberitahu pasal kencan itu padanya. Dia juga marah karena merasa tidak dianggap keluarga, bukankah selama ini dia dan sang ayah selalu kompak?


Merasa ada perbedaan besar yang tercipta diantara keduanya, Theo pun nelangsa, merasa diabaikan dan merasa dibuang. Dia tidak suka perasaan itu.

__ADS_1


"Belum tidur?" tanya Kris. Dia yang datang dari belakang langsung mensejajarkan diri dengan Theo. Dia berdiri dan memegang pembatas balkon yang terbuat dari stainless dan kembali berkata, "Maaf. Daddy gak maksud bohong."


"Tapi tetap aja Daddy bohong," balas Theo tanpa mau memandang.


"Daddy hanya ingin kamu fokus belajar."


"Aku selalu fokus dalam belajar, Dad. Tapi kenapa ini yang aku terima? Aku merasa dikhianati."


"Maafkan Daddy. Daddy hanya ingin menyelesaikan ini dengan tenang." Ada helaan napas putus asa yang terdengar dari mulut Kris dan itu memantik sesuatu yang lain di benak Theo.


"Apa enggak ada rasa sama sekali ke dia?" tanya Theo serius dan lagi-lagi tanpa menoleh sama sekali.


Kris mengiakan. "Hanya Mommy kamu yang Daddy cinta sampai sekarang."


Theo membalik badan dan menatap sang ayah tiri dengan sorot mata heran. "Kalau begitu kenapa tadi aku lihat ada yang cemburu?"


"Siapa?" Kris jadi salah tingkah.


"Daddy, tadi mata Daddy menyeramkan."


"Apa Daddy nggak percaya aku?"


Lagi, Kris terjebak omongan sendiri. "Maaf. Daddy salah."


"Tapi yang aku tangkap buka itu. Aku jelas melihat sorot cemburu."


Kris kembali gelagapan. Dia telan ludah yang terasa kelat. Lidahnya juga sulit untuk digerakkan.


"Itu gak bener," kilah Kris lagi.


"Baiklah. Untuk ini aku bakalan percaya Daddy. Pokoknya Daddy harus selesaikan ini. Aku gak mau Daddy punya hubungan apa-apa sama dia. Titik."


-


-

__ADS_1


-


Hari berganti hari begitu juga minggu dan tidak terasa akhirnya kencan ketiga mereka tiba. Rencananya mereka akan pergi ke kebun binatang dan menghabiskan akhir Minggu di sana.


[Kris, aku mohon. Jaga Fiona. Jaga dia kayak kamu jaga anaknya Marwa. Tolong jaga dia seperti anak kamu sendiri. Tolong]


Kris terus memikirkan permintaan Daisy. Teman lamanya itu terlihat sangat memohon dan dia tidak bisa apa-apa selain mengiakan.


"Pak, foto bareng dong!"


Tanpa banyak kata Kris pin melakukan apa yang Fiona mau. Dia terus menuruti permintaan tanpa menyanggah. Mereka terus berkeliling kebun binatang.


"Pak fotokan aku."


"Pak, kita ke sana yuk."


"Pak, i love you!"


Kris merasa sudah menjelma menjadi babby sitter saat ini. Bagaimana tidak? Dia terus mengiakan apa yang Fio minta. Seharian bersama hampir tidak ada yang dia katakan sebab memang terlalu banyak beban yang dirasa. Dari mulai Daisy, Theo hingga almarhum ayahnya Fiona. Dia merasa berat tapi tidak punya pilihan selain menjalani.


"Pak, kita ke sana, yuk!" Jari telunjuk Fiona terarah ke penjual arum manis dan lagi-lagi Kris tidak menolak. Dia buntuti Fiona yang berjalan setengah berjingkrak.


"Pak satu, ya," pinta gadis itu dengan girang karena merasa kencan saat ini lebih baik dari kencan yang lalu, terlebih lagi Kris melakukan apa yang diinginkannya. Dia bahkan semakin percaya diri bisa menaklukkan hati gurunya itu.


Proses pembuatan kembang gula itu pun menjadi titik fokus Fiona. Dan Kris yang ada di sebelah gadis itu tak sengaja menatap ekspresinya dan terbeku saat melihat Fiona tersenyum. Senyum familier yang sudah lama tidak pernah dia lihat selama tujuh tahun belakangan ini. Senyum yang entah kenapa memantik sesuatu dalam dada dan menciptakan gelenyar aneh yang sulit diredakan.


Kris terbeku, jantung bertalu dan seperti ada batu tak kasatmata menghantam dada.


"Marwa?" gumamnya lirih. Air pun tergenang di pelupuk mata yang sekuat hati dia tahan.


Dia bukan lebhai, tidak pula mengada-ada. Dengan lantang dia mengatakan dalam hati kalau senyum Fiona persis seperti Marwa dan dia baru menyadarinya hari ini.


Namun, bergegas Kris menampik. Dia menggeleng cepat lalu meyakinkan diri sendiri.


Dia bukan Marwa. Dia hanya remaja yang belum tau apa-apa tentang dunia. Aku sebagai orang yang lebih tua harus bisa menuntunnya ke jalan yang benar, batin Kris. Tangannya mengepal. Tekat juga sudah dia bulatkan. Dia berjanji harus bisa membuat Fiona melupakan perasaan suka yang ada untuknya.

__ADS_1


Dia Fiona, bukan Marwa. Bukan!


__ADS_2