
"Theo, kamu nggak makan malam?"
Suara Kris diluar buat Theo yang tadinya menatap ponsel kontan menoleh, lalu mendekati pintu dan membukanya. Sang ayah tiri sudah berdiri dengan piama warna cokelat tua.
"Aku nggak laper, Dad."
"Kenapa? Kamu sakit?" Kris menelisik. Lelaki itu perhatian seperti biasa.
"Enggak, lagi nggak nafsu makan aja."
Kris diam. Lamat menatap Theo. "Apa ada masalah? lagi berantem sama Fio?"
Theo pun menampik dengan gerakan kepala. "Enggak, enggak ada hubungannya sama Fio. Aku cuma lagi nggak nafsu makan. Daddy makan aja. Nanti kalau udah lapar aku pasti makan, kok."
Kris diam sekejap, tapi berakhir mengangguk juga. Lantas, meninggalkan kamar Theo dan menuju meja makan. Namun, sebelum tiba di sna langkah lelaki itu terhenti saat tak sengaja melihat beberapa barang yang tersusun rapi di atas bufet jati sepinggang orang dewasa. Di sana tertata hantaran yang rencananya akan dia bawa untuk melamar Fiona. Melamar Fiona untuk Theo.
Kris mengusap wajah dengan kasar, lalu menarik rambut kuat-kuat. Setelah itu lanjut melangkah. Tanpa Kris tau ternyata Theo melihat itu semua.
"Kenapa Daddy bisa setega ini? Kenapa harus Fiona? Kenapa, Dad?" Theo lalu menutup pintu dan menuju meja belajar. Dia raih lagi ponselnya setelah itu melihat layar. Di sana terpampang potretnya bersama Fio.
Theo tersenyum penuh ironi. Setelah itu matanya menatap dinding, dinding yang tertempel beberapa foto dirinya dan Fiona kala mereka ada di salah satu mall.
"Theo, senyum, dong. Ya kali tegang gitu mukanya. Kita mau foto couple, bukan foto KTP,"di oceh Fiona kala itu. Tepat sebulan mereka jadian Fiona mengajak Theo masuk ke salah satu photo booth dan mengambil foto di sana.
Hanya saja Theo yang kaku tidak bisa diajak bekerja sama. Dia terlalu tegang. Alhasil Fiona yang gemas sampai menarik pipinya. Beberapa pose absurd pun terekam dan tentu saja dia di sana terlihat jadi bulan-bulanan Fiona. Namun meski begitu Theo tidak marah, dia malah mengambil foto itu dan menyimpannya.
__ADS_1
Mengingat itu Theo pun terkekeh ironi sekali lagi. "Gue nggak bisa nyerah. Nggak bisa."
****
Hari kelulusan pun tiba. Semua murid memasang wajah tegang. Termasuk wali mereka. Semuanya duduk rapi di kursi yang telah disediakan panitia. Wali di bagian depan sedang para siswa duduk tenang di bagian belakang.
"Theo, muka loh kok tegang begitu. Yakin, lo pasti lulus," bisik Fiona, tubuh sengaja dia miringkan ke sebelah kiri di mana ada Theo. Sedang mata tetap terarah ke depan menatap kepala sekolah yang sedang berpidato menyampaikan banyak hal.
"Nasib nggak ada yang tau, Fio."
Fiona manggut-manggut. "Iya, sih. Tapi semoga kita lulus. Kalo enggak pasti hari ini terakhir kita ketemu."
Theo kontan menoleh dan mengernyit heran. Apalagi saat Fiona menyentuh lehernya dari ujung ke ujung.
"Gue pasti mati di sembelih Tante Daisy," lanjut gadis itu mendramatisir keadaan.
"Beuh, lo nggak tau aja kalo lagi kesal dia bisa berubah jadi Hulk."
Keduanya pun terkekeh bersama dan itu buat Theo mengepalkan tangan. Tawa Fiona melenakan, debaran di dadanya berdentam dentum tidak karuan. Dia cinta mati sama cewe bermata belo yang kelakuannya tidak pernah bisa ditebak. Cewek barbar yang buat hari-hari seorang Theo berwarna.
Di depan semua wali telah bergantian mengambil amplop. Mereka segera membukanya tanpa terkecuali. Daisy juga demikian. Dia dekati Filio, Fiona dan Theo.
"Tan, gimana?" tanya Filio dan Fiona serempak.
Daisy tidak menjawab dan itu buat dua kembar itu penasaran bukan main, mereka merampas amplop dari tenaga Daisy, lalu menatap satu sama lain. Setelah itu menghambur ke pelukan tantenya itu. Kebahagiaan begitu kentara di wajah Daisy, dia merasa bahagia, haru dan juga bangga.
__ADS_1
"Aku luluh, Tan. Kita Lulus," oceh Fiona Dia terus mengeratkan pelukan. Saking bahagia ada air yang tertumpu di pelupuk mata.
"Theo." Dari depan datang Kris. Seperti biasa dia akan memberi senyum. Senyum teduh yang buat siapa saja terlena. Theo dekati sang ayah sambung yang mendekat.
"Gimana, Dad?" tanya Theo yang juga harap-harap cemas.
Dengan gaya cool Kris raih pundak Theo. Lalu memeluknya dan memberi beberapa tepukan di belakang. "Kamu hebat. Daddy bangga dengan kamu. Selamat karena bisa mempertahankan prestasi."
Senyum Theo merekah tak ubahnya bunga di musim semi. "Ini semua karena Daddy. Terima kasih karena Daddy aku bisa seperti ini."
Keduanya mengurai pelukan, lalu berpelukan lagi. Kebahagiaan kentara di wajah keduanya. Namun, ekspresi itu perlahan reda saat melihat Fiona dan Filio. Dia kembar itu saling jitak dan tentu saja Fiona yang kalah. Dia jadi bulan-bulanan abangnya dan Daisy kewalahan melerai.
Untuk sesaat Theo termenung begitu juga Kris.
Gue nggak bisa lepasin dia. Nggak bakalan bisa, batin Theo. Dia terus tatap Fiona yang tertawa lepas.
"Dad?"
"Ya."
"Daddy nggak lupa janji Daddy ke aku, 'kan?" Theo menatap lamat.
"Ya, Daddy ingat." Kris mengembuskan napas pelan.
"Terima kasih, Dad." Theo pun mendekati Fiona, Filio dan Daisy.
__ADS_1
"Fio, bisa kita bicara bentar?"