
"Maafin gue ya, Au. Gue beneran nggak maksud gantung perasaan lo. Tapi ...."
"Nggak apa-apa, kok," sela Aulia. Dia hapus jejak kesedihan dari pipi. Hari ini gadis berkacamata itu memberanikan diri mengatakan perasaannya pada Filio tapi ditolak. Lagi pun Aulia tidak berharap diterima. Dia hanya ingin mengatakan perasaan saja sebelum pindah ke luar negeri. Dia akan kuliah ke Amerika.
"Jadi cowok yang kemaren nganter elo itu bakal jadi suami elo nanti?" tanya Filio lagi, lalu menoleh menatap Aulia yang masih menghapus air mata.
"Iya, ternyata kita udah dijodohkan sejak kecil dan katanya akan nikah setelah lulus kuliah." Aulia memperlihatkan cincin berlian di tangannya. "Gue mau bangga, tapi kok rasanya sakit, ya."
Filio menepuk pundak Aulia. "Sabar. Kali aja dia memang jodoh lo. Jangan berharap banyak dengan perasan sendiri. Kadang perasaan sendiri itu menyesatkan. Percaya aja sama nyokap bokap lo. Mereka nggak bakalan buat anaknya menderita."
Aulia menatap Filio lamat.
"Sayangi mereka, Au. Lo beruntung masih bisa merasakan kasih sayang mereka. Nggak semua anak bisa ngedapetin itu."
Aulia manggut-manggut. Tidak mengerti harus berkata apa. Orang yang disukaianya luar dalam seperti merongrongnya untuk menjauh. Namun, Aulia juga sadar kalau Filio ada benarnya. Tidak akan ada orang tua yang menjerumuskan anak mereka ke penderitaan. Walau orang tuanya jarang pulang tapi tetap dia lebih beruntung daripada Lio dan Fio. Mereka tidak akan pernah lagi bertemu orang tua.
"Lo dah kasih tau Fiona?" tanya Lio lagi. Dia memutar-mutar basket lalu memantulkannya. Tangannya tak bisa diam.
__ADS_1
"Belum." Aulia menyahut pelan.
"Cepet cerita. Beberapa hari ini dia khawatir sama lo. Jelasin aja semuanya."
Aulia mengembuskan ingus ke tisu. Lalu membuangnya ke tong sampah yang kebetulan ada di belakang mereka duduk.
"Lio." Aulia berdiri dan mengulurkan tangan ke Filio yang masih duduk. "Makasih untuk kenangan selama ini. Gue nggak bakalan bisa lupain kebaikan elo sama Fiona. Dari kalian berdua hari gue yang sepi jadi berwarna. Dari Fiona gue ikut ngerasa punya abang yang perhatian dan peduli."
Filio mengerjap, lalu ikut berdiri dan menyambut uluran tangan Aulia. "Sehat selalu di sana."
***
"Sudah sampai, Pak?" Fiona merapikan baju. Namun saat hendak membuka pintu mobil tiba-tiba Kris menahan dan itu kontan saja buat jantung Fiona hampir copot. Ternyata tak hanya mencekal, Kris juga mendekat, makin lama makin dekat. Fiona yang ketakutan mulai gemetar sampai menahan napas.
"Pak, Bapak mau ngapain? Jangan, Pak. Istighfar. Tobat, Pak. Aku masih tujuh belas tahun. Aku mau ciumannya sama suami aku bukan sama Bapak. Walaupun aku naksir Bapak tetap aja ini salah, Pak. Tolong jangan nekat. Jangan cium aku," oceh Fiona tak henti-hentinya hingga Kris yang gemas menjentikkan jari ke dahi gadis itu.
"Otakmu bermasalah. Siapa yang mau cium? Saya cuma mau lepas ini."
__ADS_1
Klek! Seat belt terlepas dan itu buat Fiona merasakan malu luar biasa. seperti ada semut sekecamatan yang menjalar. Wajahnya berdenyut kembang kempis.
"Gimana bisa turun kalau ini aja nggak kamu buka?" lanjut Kris lagi.
Gleg! Fiona telan ludahnya. Posisi sekarang sangat dekat. Bahkan hanya beberapa sentimeter saja. Dia yakin bahwa Kris bisa mendengar detak jantungnya yang berdegup kencang. Wajar jika dia berpikir yang hiya-hiya jika posisinya begitu dekat.
"Sudahlah, turun. Istirahat yang banyak dan jangan lupa oles obatnya." Kris memundurkan wajah dan kesempatan itu dipakai Fiona dengan baik. Gadis itu membuka pintu mobil lalu membenahi wajah. Salah tingkah dia ketahuan berpikir yang macam-macam padahal Kris hanya ingin melepas sabuk pengaman.
"Ya sudah, Pak. Makasih." Fiona ngacir. Namun kembali berhenti saat mendengar seruan dari belakang. Guru yang pernah sangat disukainya itu keluar dari mobil dan menatapnya lamat.
"Kenapa, Pak?" tanya Fiona. Alisnya mengerut. Dia takut, takut Kris meledeknya.
Namun, setelah sekian detik menunggu Kris tak juga berbicara. Lelaki itu justru mengusap wajah gusar dengan sebelah tangan.
"Pak, Bapak mau ngomong apa?"
"Nggak jadi. Masuk sana!" Kris lalu kembali ke belakang kemudi dan mengendarai mobilnya melewati jalan gang. Dia terus memukul setir mobil dan mengutuk diri. Bisa-bisanya tadi berpikir untuk mengungkapkan perasaan lagi.
__ADS_1
Ya, tadi sebenarnya saat di mobil dia sangat ingin mencium Fiona. Hasrat itu membuncah naik ubun-ubun. Bersama Fiona membuatnya lupa bahwa ada batasan yang tidak boleh dilanggar.