
"Fi, Fiona! Tolong buka pintunya, Sayang. Kita harus bicara!" teriak Daisy. Tangannya terus mengetuk daun pintu kamar Fiona yang tertutup. Sayangnya, sesenti saja pintu itu tidak terbuka dan itu buat Daisy makin ketar-ketir. Dia tahu bagaimana tabiat Fiona dan tahu betul cinta monyet yang dirasakan Fiona saat ini begitu menggebu. Dia takut Fiona yang patah hati berbuat nekat.
"Fi, tolong buka pintu! Kita harus bicara!" lanjut Daisy, suaranya bahkan lebih meninggi.
Hening, tidak ada jawaban.
"Fi, tolong jangan nekat. Pikirin Tante sama abang kamu. Kita cuma bisa bergantung satu sama lain. Tolong jangan turuti bisikan jahat dalam otak kamu. Mau bagaimanapun Tante sama Lio sayang kamu, Fi."
Lagi, tidak ada jawaban dari dalam dan itu buat Daisy lemah. Saat sudah tidak bisa melakukan apa-apa, Daisy pun memutar tumit berjalan dengan langkah panjang. Di halaman masih dia melihat Kris berdiri mematung seperti orang kesambet. Bagaimana tidak, tatapan pria itu begitu kosong.
"Kris?" panggil Daisy, tapi yang dipanggil tidak menyahut. Mau tidak mau Daisy harus menyentuh pundaknya barulah Kris terlonjak dan menyadari ada Daisy sedang berdiri menatap heran.
"Bagaimana dengannya? Apa dia mau bicara?" cecar Kris. Mukanya gusar dan gelengan kepala Daisy menambah level kegusaran lelaki itu.
"Izinkan aku ngomong sama dia Des. Aku harus minta maaf. Aku harus ...."
Daisy menyentuh lengan Kris saat lelaki itu hendak melewatinya.
"Tapi aku harus minta maaf," lanjut Kris yang masih bersikukuh.
Daisy kembali menggelengkan kepalanya, lantas mengusap air mata. "Enggak sekarang, Kris."
__ADS_1
"Des!"
Daisy kembali menyeka air matanya, lalu menatap lekat Kris yang tampak tidak terima.
"Kita kasih aja dia waktu. Aku hapal tabiat anak itu. Dia keras kepala dan gak bakalan mau dengar apa pun saat sedang kesal. Jadi kita biarkan aja dulu."
Kris terdiam. Dia menatap kosong ke pintu rumah Daisy yang terbuka. Beberapa detik kemudian terdengar jelas helaan napas panjang dan itu buat Daisy semakin sesak. Dihapusnya lagi air mata yang terus keluar.
"Maaf. Karena aku kamu jadi terseret. Karena ngikutin apa mauku kamu jadi di cap jelek sama anak-anak," tutur Daisy.
Kris diam dan memilih menatap lekat Daisy yang menunduk. Sebenarnya itu juga yang buatnya heran selama ini. Saat kecelakaan itu terjadi dia berencana menemui Fiona dan Filio secara pribadi. Dia bahkan berencana mengadopsi anak yatim itu.
"Aku nyesal. Dulu aku terlalu picik. Hatiku sempit. Aku gak terima kamu pilih wanita itu ketimbang aku yang beneran tulus sama kamu," lanjut Daisy lagi.
"Destian ...."
"Maafin aku, Kris. Marahlah sesuka hati. Aku terima. Aku salah," balas Daisy yang makin terdengar lirih. Pundaknya terguncang hebat dan itu buat Kris tidak tega. Dia rengkuh pundak Daisy dan menuntunnya merebah ke dada. Dia usap pelan rambut Daisy yang tergerai.
"Kamu nggak salah, Des. Akulah yang salah, akulah yang pengecut, aku udah membunuh orang tua mereka tapi gak berani meminta maaf. Aku pengecut."
"Enggak Kris, kamu bukan pembunuh. Itu hanya kecelakaan," balas Daisy, air matanya menganak sungai dan buat kemeja Kris basah.
__ADS_1
"Tapi tetap aja, andai waktu itu aku nggak ngotot masuk ke dalam. Andai Waktu itu aku tahan ayah mereka untuk menyelamatkan Marwa, mungkin mereka masih punya ayah sampai saat ini. Waktu itu aku gak berpikir jauh. Kebakaran sudah melahap hampir delapan puluh persen gedung tapi aku masih beranggapan kalau Marwa selamat. Aku salah, akulah pembunuh. Nggak salah Lio bilang aku pembunuh."
"Dad, apa yang ini maksudnya?"
Teriakan dari samping buat Kris dan Desi menjaga jarak.
"Theo?" Daisy menghapus air matanya lalu menatap iba ke Theo. Dia tahu kecelakaan itu juga membuat Theo menjadi yatim piatu.
"Dad, apaan ini maksudnya? Bisa tolong jelaskan? Pembunuh? Siapa yang pembunuh dan siapa yang telah terbunuh?" cecar Theo saat matanya berserobok dengan Kris.
Alih-alih menyahut, Kris justru mengusap muka, dia dekati Theo yang shock, lantas menyentuh pundak Theo satu kali. "Di rumah, Daddy akan dijelaskan semuanya."
Tanpa menjelaskan lebih lanjut Kris melewati Theo. Di depan dia melihat Lio yang mengepalkan tangan dan menatap tajam ke arahnya tanpa sungkan sama sekali.
"Lio, saya ...."
Sayangnya Lio sama sekali tidak memberi kesempatan pada Kris untuk melanjutkan perkataan. Dia melengos begitu saja, sengaja memperlihatkan ketidakseimbangan dan berhenti tepat di sebelah Theo yang mematung.
"Sekarang lo udah tau kan siapa di sini orang yang gak tau malu? Siapa di sini orang yang punya banyak belang?" sindir Lio lalu mendesis saat Theo menatap dengan sorot mata berani.
"Kenapa? Lo mau marah? Marah aja, silakan. nyatanya orang yang buat gue sama Fio jadi begini adalah orang yang lo kenal baik. Jadi terimalah kenyataan kalau dia." Lio menunjuk tanpa sungkan ke Kris. "Terima kenyataan kalau orang yang elo anggap suci ternyata seorang pengecut. Pengecut."
__ADS_1