
Theo pacu motornya membelah jalanan ibu kota menuju kafe tempat janjian antara dirinya dan Fiona. Semalam gadis itu menghubungi berpuluh kali. Bahkan ada banyak pesan yang isinya berisikan kekecewaan. Namun, sepertinya tak habis lagi karena setelah mengirim banyak spam dia malah mengajak bertemu. Katanya, kalau ingin putus, maka putus baik-baik.
Kini keduanya duduk di rooftop sebuah kafe dengan posisi berhadapan. Keduanya saling diam dengan isi kepala masing-masing.
"Theo, lo seriusan mau putusin gue?" tanya Fiona setelah hampir sepuluh menit mereka diam-diaman. Cewek mungil itu mendesahkann napas panjang. Mukanya murung tampak tak semangat.
Theo pun demikian sebenarnya. Hanya saja di sini dialah sang pemberi keputusan maka harus bersikap sebagaimana mestinya. Dia akan berusaha tegar walau nyatanya patah hati mematahkan semangat hidup.
"Ya, harus berapa kali sih baru ngerti," balas Theo setengah ketus.
Mata Fiona memerah. Dia alihkan pandangan ke arah lain. Jujur saja, semalaman dia berpikir dan rasanya untuk putus terlalu sulit. Rasa yang dia rasa antara Kris dan Theo itu berbeda. Rasa sukanya ke Kris lebih dominan. Tapi jika memikirkan tak berhubungan lagi dengan Theo membuatnya merasa takut dan hampa. Selain Filio dan Aulia, Theo adalah sosok yang membuatnya nyaman. Dia merasa senang karena Theo seperti mengerti dia luar dalam.
Andai hati bisa dibolak-balik, Fiona ingin jatuh cinta pada Theo. Hanya saja rasa yang ada untuk cowok muda bermata sipit itu tidak sampai ke taraf cinta, hanya suka dan nyaman saja. Bahkan sekali pun Fiona tak pernah mengkhawatirkan Theo. Dia juga tak pernah merindukannya. Jadi sudah jelas, rasa yang ada antara dirinya dan Theo hanya sebatas suka, bukan cinta. Seperti nyaman karena satu frekuensi saja.
Maka dari itu Fiona pikir mengikhlaskan Theo lebih baik daripada memaksakan. Lagian untuk apa memberi harapan kalau tak ada kepastian. Kasian Theo, pengorbanannya pasti akan lebih berat dan lama. Tentu saja luka pun tak akan tanggung-tanggung. Takutnya jika berlanjut malah akan menimbulkan efek trauma yang mendalam.
"Theo, kok gue nggak rela ya diputusin elo," lanjut Fiona.
"Jangan kasih statement yang nggak bisa lo pertanggung jawabkan, Fi. Gue nggak mau sakit dua kali. Ikhlaskan orang yang disayang itu nggak mudah. Lo pasti tau rasanya saat mutusin move on dari bokap gue."
Fiona mendesah makin panjang. Rasa kecewa merayap dalam dada. Sesak, ingin nangis tapi malu.
"Maaf." Theo membuang napas.
"Untuk apa? Karena udah mutusin gue atau karena udah buat gue diomelin Tante Daisy semalaman? Gara-gara lo gue harus mendapat ceramah semalam suntuk." Cewek itu mendelik, menyembunyikan kesedihannya.
Theo yang mendengar omelan itu pun terkekeh ironi. "Ya, untuk semua. Setelah gue pikir ternyata gue itu egois."
Fiona menatap nanar ke arah cowok itu.
"Gue terlalu maksain kehendak. Udah lama gue nyadar kalau lo itu nggak ada rasa ke gue, tapi guenya terlalu pengecut buat ngaku. Sejak awal harusnya sadar diri dan nyerah aja kalau emang nggak bisa gantiin dia. Sejak awal hati elo itu buat bokap gue. Guenya aja yang kepedean."
__ADS_1
"Maaf." Kali ini Fiona yang berucap. Raut penyesalan makin kentara.
"Maaf untuk?"
"Maaf untuk manfaatin elo. Gue pikir bisa ngatur perasaan sendiri sesuka hati."
Theo kembali terkekeh ironi. "Elo nggak salah, kan gue sendiri yang ngajuin diri."
"Makasih," balas Fiona, dia menunduk.
"Untuk apa?" tanya Theo lagi.
"Karena udah bantu gue selama ini. Jujur, gue ngerasa nyaman deket lo. Sama Bang Lio aja gue nggak senyaman saat sama elo."
Theo kembali terkekeh ironi lalu menyeruput es cappucino yang ada di gelasnya. "Makasih udah bilang gitu. Seenggaknya gue nggak ngenes amat. Lo nyaman deket gue itu artinya usaha gue nggak sia-sia."
"Maaf karena udah mainin elo."
Hening. Keduanya membuang muka ke arah lain. Menatap langit yang mulai terang.
"Tapi lo beneran mau ke Surabaya?" tanya Fiona.
Theo mengangguk. "Gue udah lama bimbang. Gue pengen ke sana tapi berat ninggalin elo. Makanya mutusin di sini. Tapi gue pikir lebih baik ke sana, sekalian nenangin hati."
"Bokap lo tau?" Fiona menatap lamat.
Theo menggeleng. "Nanti, gue bakalan bilang ke dia. Satu satu. Takutnya dia nyalahin diri sendiri. Gue tau watak bokap gue. Dia itu terlalu baik. Terlalu nggak enakan sama orang. Heran, ada gitu manusia sebaik dia. Bayangin aja, dia kasih perhatian dan sayang ke gue yang nggak ada sangkut pautnya sama dia. Dia juga keluar banyak uang hanya untuk ngurusin gue yang jelas anak orang. Di dunia ini hanya dia yang begitu. Naif."
"Dan elo juga sangat baik. Lo ketularan dia."
Kali ini Theo menatap Fiona. Mereka berserobok pandang. Dulu, akan ada nyinyiran, jitakan atau apalah. Sekarang hanya ada kecanggungan yang kian terasa dari menit ke menit.
__ADS_1
"Jangan puji gue, nanti gue malah susah move on. Jangan kejem amat jadi cewek."
Kali ini Fiona terkekeh kecil "Apa yakin bisa move on? Kalo gue beneran jadi mommy tiri elo gimana? Nanti kan ketemu terus."
"Ya bagus. Bokap gue seneng dan gue juga seneng. Gue lebih ikhlas lo sama bokap gue ketimbang orang lain."
Fiona cemberut. "Kok gue ngeras jadi barang ya. Lo oper gue ke sana sini tapi anehnya gue nggak marah. Keknya saraf di otak gue ada yang konslet, deh."
Tak ayal Theo terkekeh-kekeh, dia jentik dahi Fiona. "Bukan, elo bukan barang. Elo istimewa makanya lebih baik di tangan orang yang tepat. Bokap gue dewasa dan gue yakin dia bisa ngimbangin elo yang kek bocah ini. Lagian ya, dioper juga gak apa-apa. Nggak pernah gue apa-apain ini. Bibir lo aja masih perawan."
"Theo!" Fiona berdecak. Lalu memercikkan es jeruknya ke muka Theo. Wajah cemberut Fiona buat Theo tersenyum kecil. Walau perih, tetap berusaha menikmati momen kebersamaan ini. Dia mundur, dan mundurnya itu sebagai lelaki terhormat.
"Jadi elo nerima lamaran bokap gue?"
Fiona mendesah makin panjang. "Gue galau. Nggak tau mau ngapain. Lulus sekolah malah bingung mau ngapain. Gue pengen kuliah, pengen seneng seneng, pengen jalan, tapi gue juga pengen nikah. Kayaknya saraf di otak gue ada yang kejepit."
***
Setelah pertemuan itu Fiona dan Theo resmi putus. Awal hubungan yang rumit maka akhirnya juga rumit. Hanya mereka yang paham.
Setelah pagi tadi Fiona jadi uring-uringan. Satu sisi dia sedih, tapi satu sisi juga lega. Putus artinya dia tak menyakiti Theo lagi.
Akan tetapi, setelah lega terbitlah galau. Sekarang hatinya malah bimbang. Haruskah berlari ke dalam pelukan lelaki pengecut itu atau malah jual mahal. Sekarang saja dia bingung. Lelaki yang semalam melamarnya malah tak ada kabar berita. Jangankan datang menjelaskan, mengirim pesan saja tidak. Mendadak dia ragu, Kris itu benarkah masih menyukainya?
"Dasar pengecut. Pengecut sialan. Nggak tanggung jawab karena udah buat jantung anak perawan orang cenat cenut nggak karuan."
Fiona lepas ponselnya lalu menatap dinding kamar dengan posisi terbalik. Saat ini dia tengah terbaring dengan kepala yang menjuntai di sisi ranjang. Rambutnya yang panjang bahkan menyentuh lantai. Dia terus mendesah hingga akhirnya suara ribut-ribut dari luar mengusik.
"Pergi nggak! Atau aku panggil polisi!"
"Sayang, sabar! Jangan teriak-teriak!"
__ADS_1
"Iya, sabar Des. Aku ke sini cuma mau bicara."