Sugar Teacher

Sugar Teacher
Kencan.


__ADS_3

Langkah Lio gontai menyusuri lorong sekolah. Hatinya panas mengingat obrolannya dengan Daisy tadi. Tantenya itu bersikukuh tidak tahu dan mengatakan kalau kelurga Marwa berada di luar negeri.


Heh, keluar negeri apaan. Jelas-jelas orangnya ada di depan mata. Heran gue, apa sebegitu sayangnya Tante sama laki-laki busuk itu? gumamnya dalam jadi hati. Semkin lama dan semakin dipikirkan semakin kesal dia. Dia putuskan bergegas ke kelas dan mendapati sang adik tengah bercengkerama sama Aulia.


"Lo seriusan mau minggat?" ucapnya yang terdengar tidak ramah sama sekali.


Fiona mendelik, melihat Lio dia berdengkus. "Kalo lo jadi gue lo bisa maafin Tante gitu aja?" balas Fio. Tatapannya tampak sengit.


"Tante begitu pasti ada alasan, Fio," balas Lio. Dia lepas ransel dan meletakkan di mejanya, lantas duduk di bangku kosong depan adiknya itu. "Lo pulang ya. Sepi rumah. Gak suka gue sendirian."


"Gak, gua gak mau pulang. Lagian apa alasannya?" Fiona memperlihatkan tangannya yang tertempel plester luka.


"Nih liat, lengan gue jadi luka. Tapi ini gak terlalu sakit. Sakitnya di sini. Sakit banget." Fio menekan dadanya. Matanya mulai mengembun dan Aulia menenangkan. Masih jelas di ingatan Fio berapa murkanya Daisy dan dia tidak suka itu.


"Tapi Fio. Dia Tante kita. Satu-satunya yang kita punya."


"Bodo amat."


Lio yang melototi menyentak napas. Ingin dia mengatakan alasan kenapa Daisy bersiap begitu. Namun, urung melakukan mengingat itu hanya akan membuat sang adik makin kacau. Biarlah, dia akan mempercayai Kris yang bilang akan mengakhiri rasa suka Fio dalam sebulan.

__ADS_1


"Nih, dari Tante." Lio meletakkan beberapa lembar uang di depan Fiona. Mata adiknya itu pun langsung melebar bersamaan dengan senyum yang mengembang.


Melihat itu tak tahan Lio. Dia toyor kepala sang adik yang benar-benar terlihat bahagia melihat uang. "Soal duit lo nomor satu. Heran gue," sungut Lio


"Ya beda dong, Bang. Duit ya duit. Marah ya marah. Gak bisa itu di gabungin."


Lio cuma geleng-geleng kepala, lalu berdiri dengan tangan masuk ke saku celana. "Tante bilang jangan lama-lama ngambeknya."


"Entar, entak kalo gak marah lagi gue pulang," balas Fio. agak melunak suaranya.


-


-


-


"Gak ada yang aneh, 'kan? Coba lo liat mata gue. Ada beleknya gak?" balas Fio yang seketika mendekatkan wajah ke Aulia. Spontan Aulia menoyor kepalanya.


"Gak usah deket-deket juga, Maemunah. Gue rabun jauh bukannya buta. Wajah lo yang sedekat ini bikin gue enek."

__ADS_1


Alih-alih marah Fiona justru terbahak. Pundaknya terguncang, senyumnya begitu merekah bahagia karena akhirnya hari yang ditunggu tiba. Dia akan kencan sama Kris. Kencan pertama.


"Gue cuma deg degan."


"E cieeee ...."


"Apaan si?" Pipi Fio merona bersama dengan itu terdengarlah bunyi bel. Fiona pun dengan semangat empat lima menuruni tangga dan mendapati Kris ada ada di depan pintu. Lelaki itu terbengong beberapa detik.


"Gimana, Pak. Udah cantik belom?"


Kris tak menjawab. Dia masih menatap Fiona. Dadanya dag dig dug memberikan senyar aneh dalam dada. Gara-gara itu juga jakunnya naik turun.


"Pak, aku cantik, 'kan?" lanjut Fiona.


Kris cuma berdeham. Dia balik badan dan Fiona pun mengikuti.


"Hari ini saya yang tentukan tempatnya," ucap Kris.


"Ahsiap!"

__ADS_1


__ADS_2