Sugar Teacher

Sugar Teacher
Resmi pacaran.


__ADS_3

"Kris, kamu di sini?"


Suara lembut dari belakang buat Kris menoleh dan agak kagok saat melihat Alin, sahabatnya itu menatap heran dan berakhir menyeringai kala melihat yang ada di belakang Kris. Sekarang wanita yang mengenakan celana jeans panjang dengan atasan tunik lengan panjang itu paham sesuatu.


"Sudah aku duga, kamu ternyata kemakan omongan sendiri," cibir Alin yang dibalas Kris dengan pelototan.


"Jangan ngasal, Lin. Aku cuma ngawasin Theo."


"Ngawasin atau ngawasin?" sindir Alin. Dia terkekeh geli lalu melihat kebersamaan Theo dan Fiona, lantas kemudian ke wajah Kris yang merah.


"Kalau aku liat keknya nggak gitu. Lebih ke cemburu ini keknya."


"Oh, ya?" Kris terlihat tidak terima. Mukanya makin masam tapi sialnya tidak bisa apa-apa.


"Iya. Kamu lupa, aku psikolog, Kris. Jadi bisa lihat mana yang bicara benar dan enggak."


"Jangan ngasal, aku nggak cemburu. Cuma kebetulan aja liat mereka," balas Kris.


"Beneran?" Tidak mau kalah, Alin pun mencoba mengerjai Kris. Dia sadar kalau temannya itu punya rasa ke Fiona. Bahkan sejak pertemuan mereka yang pertama Kris dinilai terlalu lembut pada Fiona.


"Kalau begitu ayo kita buktikan," lanjut Alin, ujung bibirnya tertarik sedikit dan itu buat Kris mendadak tidak nyaman perasaan.


Dan benar saja, Alin dengan lantang memanggil Theo hingga dua remaja itu menoleh ke arah mereka secara bersamaan.


"Eh, kamu gila, Lin?" bisik Kris, menggeram.


"Cuma mau nyapa, Kris. Apa salahnya coba? Lagian tadi kamu bilang enggak cemburu. Ya udah kita sapa aja mereka sekalian." Alin dengan santai mendekat ke Theo dan Fiona. Jelas saja kedua remaja itu kaget.


"Wah, Daddy sama Tante Alin ke sini juga?" ujar Theo. Dia berdiri begitupun Fiona. Dalam diam, Fiona perhatikan wajah Kris dan detak jantungnya menggila lagi. Dan ketika melihat Alin dia jadi lebih gregetan.


"Iya, kita ke sini. Ada urusan dengan teman di. sekitar sini," jelas Kris.

__ADS_1


Alasan Kris tak pelak buat Alin tersenyum dikulum. Dia baru menyadari sisi lain dari Kris padahal lelaki itu terkenal cuek dan selalu jujur dengan apa pun tanpa peduli perasaan lawan bicara, tapi sekarang lihatlah sekarang, lelaki itu jelas salah tingkah.


"Iya kan, Lin?" Kris mengatakan itu sembari menyenggol lengan Alin, berharap dibantu keluar dari situasi yang menurutnya sangat tidak nyaman.


"Iya, kita ada urusan. Oh iya, kalau boleh tau apa kalian pacaran?"


Ditembak pertanyaan begitu buat Alin merasa jadi alien. sebab, baik Kris, Theo bahkan Fiona mantapnya tidak percaya.


"Hey, aku cuma nanya."


Merasa situasinya tidak memungkinkan Kris pun kembali menyenggol lengan Alin. "Kita pergi, yuk. Katanya mau cari makan," lanjut Kris, sengaja berbohong. Dia takut takut Alin mengoceh yang tidak tidak.


"Makan?" balas Alin. Alisnya naik sebelah.


"Iya. Kamu ini bagaimana sih? Bukannya tadi kamu bilang lapar?"


"Lapar? Sekuat tenaga Alin menahan tawanya agar tidak terdengar dan kala dipelototi Kris dia jadi tenang. Namun meski begitu dia tetap melihat muka merah Fiona yang menahan kesal. Tangan gadis itu juga terlihat mengepal, dan Alin tahu bahwa gadis muda itu tengah cemburu.


Kris Kris kamu pintar tapi begoo kalau urusan begini, batin Alin.


"Ya, sudah ayo kita cari makan. Kalian mau bareng?" balas Alin menawarkan pada Theo dan Fiona.


Tentu saja Kris tidak setuju, matanya melotot tapi lagi-lagi dibalas Alin dengan seringai tidak peduli. Menggoda Kris merupakan hiburan tersendiri untuknya.


Fiona awalnya menolak ajakan itu. Tapi karena Theo memaksa dia pun akhirnya tidak punya alasan. Keduanya keluar dari sana dan mengikuti mobil Kris. Setelah menempuh perjalanan beberapa menit tibalah mereka di sebuah restoran seafood.


"Mereka cocok, 'kan?" ucap Theo setelah mematikan mesin motor. Dia juga melepaskan helm, setelah itu membantu Fiona melepaskan helm juga.


"Tapi bukannya mereka nggak ada hubungan apa-apa, ya?" balas Fiona. Matanya masih saja terarah ke mobil Kris karena baik Alin maupun Kris belum keluar dari sana.


"Hubungan?" balas Theo yang dibalas Fiona dengan mendesis.

__ADS_1


"Gue udah tahu dulu itu cuma sandiwara kalian buat ngusir gue."


Theo cuma nyengir. "Tapi itu dulu, kayaknya sekarang Daddy ...."


Theo menjeda kata. "Maaf nih, Fi, gue harus jujur karena kejujuran itu walaupun sakit tetap harus dikatakan. Daripada manis tapi penuh kebohongan."


"Please jangan berbelit, otak gue kagak sampai," sungut Fiona, lalu bersedekap.


"Kayaknya Daddy gue emang jatuh cinta sama Tante Alin."


Fiona melongo, hatinya bagai diremas-reeemas. Tapi dia berusaha maksimal agar tidak ketahuan masih memiliki rasa.


"Masa, sih? Elo jangan ngarang. Bukannya bokap lo itu cinta mati sama almarhum nyokap lo?"


"Ya itu dulu, Kan orang bisa berubah seiring waktu. Lagian kalau gue perhatikan bokap gue sekarang memang agak berbeda. Dia sering tersenyum, sering melamun. Gue udah bisa tebak kalau dia itu emang lagi jatuh cinta. Buktinya dia ke sini bareng Tante Alin."


Sekarang tidak hanya jantung yang dirasa diremas-remasss. Fiona bahkan bisa merasakan usus, ginjal, serta organ lain ikut remuk.


Jadi, dia itu kemaren cuma iseng. Dia iseng bilang naksir gue padahal nyatanya pacaran sama tante itu, batin Fiona bergejolak. Giginya bergemeletuk menahan geram.


"Hey, lo kenapa bengong?"


Fiona menggeleng, lalu menatap ke arah mobil Kris. Kedua manusia di sana telah keluar dengan cara bergandengan.


"Theo, gue sakit liat mereka," tutur Fiona tanpa berkedip.


"Fi?"


Fiona pun menatap lekat Theo yang menatapnya sendu. "Bisa lo sembuhin gue? Lo bilang mau jadi pelampiasan kan? Kalo gitu buktikan. Sembuhin luka gue. Sekarang gue sadar, kalau bokap lo itu emang gak pernah nganggep gue."


"Fi, lo serius?" tanya Theo. Matanya membeliak seakan mampu keluar dari tempatnya.

__ADS_1


"Fiona pun mengangguk mantap. "Iya, bantuin gue agar bisa move on. Gue terima elo jadi cowok gue."


__ADS_2