Sugar Teacher

Sugar Teacher
Promo hati.


__ADS_3

"Theo?"


"Iya, gue. Kenapa? Ganteng, ya?"


Balasan nyeleneh itu buat Fio yang malas mendebat berdecak saja, lalu memutar badan meninggalkan Theo.


"Ngapain lo ke sini? Lo ngintilin gue?" cecar Fiona tanpa menoleh. Dia terus jalan dan Theo mengikutinya di belakang. Senyuman sedikit terpatri di wajah cowok itu. Rasa lega buatnya bisa bernapas santai setelah hampir satu jam berjalan ke sana kemari mencari Fiona.


"Iya, gue ngintilin elo. Gue bahkan dari tadi nyari elo. Dan kayaknya kita emang berjodoh," balas Theo, dia nyengir dan itu buat Fiona makin geregetan, tangannya mengepal.


Akan tetapi rasa malas buatnya bungkam. Dia pun terus berjalan menuju rollercoaster dan mengantre. Ada begitu banyak orang yang ingin mencoba wahana itu.


"Lo pulang aja. Gue nggak mau jadi cewek lo," balas Fiona merengut to the poin.


"Gitu amat, sih. Pikirin dulu kek."


"Gue gak punya otak jadi gak bisa mikir. Justru elo yang berotak cerdas harusnya paham situasi. Udah ditolak juga," balas Fiona makin sengit.


Akan tetapi Theo cuma nyengir, lalu melihat keadaan yang memang sangat ramai.


"Rame banget, ya? Gak tau gue kalo hari Minggu bisa seramai ini," balas Theo yang seakan tidak peduli. Dia sudah bertekad akan meluluhkan hati Fiona apa pun caranya. Dia akan jadi Fiona jilid dua yang menebalkan muka saat mengejar cinta.


Fiona tentulah kesal, lalu menatap sengit Theo. Bahkan rambutnya yang panjang melibas dan itu mengenai wajah Theo.


Hanya saja, alih-alih marah Theo malah tersenyum. Makin terpesona.


"Elo seriusan mau naik ini?" tanya Theo lagi.


Fiona terdiam lalu menatap roller coaster yang jaraknya tidak begitu jauh lagi.


"Iya. Gue mau." Seketika ingatan tentang Kris yang muntah-muntah setelah naik wahana itu buatnya jadi mengembuskan napas panjang.


"Naek yang lain aja, yuk!" ajak Theo.


"Apaan sih? Gue mau naik ini." Lisan Fiona terjeda. Melihat Theo yang hanya diam dia jadi memikirkan sesuatu. Matanya pun terpicing. Dia ingat Kris waktu itu yang terlihat sekarat setelah naik wahana itu


''Kenapa nggak berani?" tanyanya Fiona, lebih condong ke mengejek sih sebenarnya.


Theo yang ditantang seperti itu tentulah tidak terima. "Kalau gue bisa naik itu artinya kita pacaran."

__ADS_1


"Y-ya nggak bisa gitu. Maksa banget sih jadi orang." Muka Fiona memerah. Dia gugup karena hampir saja terjebak.


"Fi, ini bukan maksa, tapi usaha." Theo kembali nyengir. Matanya yang sipit makin tidak kelihatan.


"Elo kayaknya masih tidur. Bangun. Bangun. Asal elo tau aja, usaha yang berbarengan dengan pemaksaan itu namanya kejahatan. Bisa dipidanakan."


Theo yang masih berada di sebelah Fiona kembali berdecak sinis. "Kan gue nggak maksa elo buat jawab sekarang juga. Pelan-pelan aja. Kali aja nanti ada rasa."


''Elo tu ya?"


Fiona yang telah hilang mood untuk naik roller coaster pun mengembuskan napas kesal, lalu berbelok.


"Nggak jadi naik?" tanya Theo.


"Kagak jadi. Nggak mood gue. Mau pulang aja."


Theo yang mendengar tentulah tidak ingin itu terjadi. Masa setelah menghabiskan waktu mencari harus berkahir begitu singkat?


Theo tarik tangan Fiona tanpa peduli kalau dimarahi.


"Ikut aja. Kita jalan-jalan. Belum foto-foto juga kan? Sayang kan kalau udah ke sini tapi kagak jadi foto.


"Fi, elo masih ngarepin bokap gue?" tanya Theo. Keduanya duduk di salah satu kursi panjang.


"Kenapa nanyain itu mulu, sih?" balas Fiona. Moodnya makin berantakan.


"Ya kagak, gue cuma nanya. Tapi gue serius buat jadi cowok lo. Gue rela kok jadi pelampiasan."


"Lo gila?" ketus Fiona.


Theo cuma terkekeh lalu bersandar. Dia tatap langit dengan kedua ujung bibir tertarik. "Gue juga nggak tau. Ini gila apa cinta. Tapi yang jelas gue harus usaha."


Mata Theo yang sipit menatap Fiona lekat. "Dan elo juga harus usaha, dong. Bokap gue aja bisa jalanin hidup setelah nolak elo. Lalu elo kenapa milih tetep nyimpan rasa. Begoo jangan dipelihara. Maju, dong. Buktikan kalo elo baik-baik aja. Balas dia."


Sejujurnya bukan niat Theo menjelekkan Kris. Dia hanya ingin Fiona bangkit, dengan begitu Kris tidak akan merasa bersalah. Tanpa ada yang tahu sebenarnya Theo sering memergoki Kris menatap Fiona dari kejauhan. Dan itu mengganjal. Theo pikir Kris punya banyak penyesalan. Lagian dia juga sadar kalau Kris sekarang sedang jatuh cinta tapi malu mengakui, mungkin karena takut menyakiti Fiona karena remaja itu pernah menyukainya begitu dalam.


"Jadiin gue pelampiasan aja, deh. Gak apa-apa. Dalam prosesnya gue bakalan usaha maksimal buat elo lupa sama cinta bertepuk sebelah tangan elo ke bokap gue. Lagian ya, Fi, perempuan itu wajarnya dikejar. Bukan ngejar."


Fiona yang malas pun berdiri, matanya menyipit. Otaknya terus berpikir keras apakah Theo ini sedang menggodanya atau apa.

__ADS_1


Sedang untuk masalah hati, dia masih belum bisa move on seutuhnya dari Kris. Sialnya saat sedang berusaha lelaki itu datang lagi dengan pengakuan cinta. Fiona hampir gila dan Theo memperkeruh keadaan walaupun dia sadar, perkataan Theo benar semua.


"Mau ya jadi pacar gue? Kita bisa belajar bareng. Gue bantuin deh elo belajar. Gimana?"


"Dih, otak lo geser? Mana bisa serius balajar kalo lagi pacaran?"


Theo menarik sebelah bibir lalu mengedipkan mata sekali. ''Bisa. Kan belom dicoba. Bentar lagi kita ujian, loh. Lo nggak mau lulus?"


Fiona terdiam.


"Gue nggak mau besar omong. Tapi otak gue emang encer. Almarhum nyokap gue dulunya sering dapat penghargaan waktu sekolah dulu. Dan bokap gue ini selalu memfasilitasi apa pun yang sekiranya bisa menunjang gue dalam belajar."


Mata Fiona menyipit tidak senang.


"Jangan salah paham dulu. Gue itu bukan mau pamer. Cuma berusaha yakinin elo. Gue selalu dapat juara satu karena punya pendukung dari Daddy dan gen pintar dari turunan nyokap. Jadi elo gak usah takut gue bikin sesat dalam pelajaran. Percaya gue. Kita bisa lulus bareng asal lo punya tutor kayak gue. Gue pinter, gue juga tampan. Kan mayan."


Fiona masih diam. Di matanya ini Theo memang sempurna. Nilai maksudnya. Mau pelajaran apa pun selalu dapat seratus. Kadang Fio berpikir apa Theo main belakang? Secara Kris kaya dan juga guru. Kali saja bocorkan soal. Tapi setelah Fiona berpikir keras Kris bukanlah tipe orang seperti itu.


"Belajar bareng gue aja. Gratis. Siapin aja teh es sama bala-bala," lanjut Theo yang masih menatap santai Fiona yang berdiri depannya.


"Jiah malah request."


"Gue serius. Coba dulu, yok. Karyawan aja ada masa magang kok sebelum jadi pegawai tetap."


"Serah lo, deh."


Kesal tak berlawanan buat Fiona tidak bisa fokus. Kakinya tersandung saat melangkah hingga akhirnya terherambab dengan posisi kedua belah tangan membentur semen. Suara ringisan pun terdengar lirih.


"Nah tu kan, lo kualat," omel Theo. Dia tarik Fiona dan menuntunnya ke kursi. Cowok itu juga bersihkan tangan Fiona yang terkena debu dan pasir. "Lo tunggu sini. Gue cari air mineral sama obat."


Tanpa menunggu jawaban Theo pun bergegas berlari. Fiona yang terduduk di bangku cuma terbengong menatap punggung Theo. Untuk sesaat kedua ujung bibir Fiona tertarik. "Dia perhatian juga ternyata."


Tidak berapa lama Theo pun berlari menghampiri Fiona dan membantunya membersihkan luka. Sedangkan tak jauh dari mereka ada Kris sedang menatap tanpa berkedip kebersamaan dan keakraban antara Theo dan Fiona. Hatinya bagai diremas-remasss.


"Jadi dia gadis yang Theo suka?" gumamnya.


***


Jiah Pak Kris nelangsa.

__ADS_1


"Emang sih penyesalan datangnya belakangan. Kalau datangnya awal namanya pendaftaran," kata sesereader. heheh


__ADS_2