
"Nyerah aja, deh," lanjut Theo.
Fiona yang masih shock dan belum bisa mencerna semuanya menyalangkan mata pada Theo, lantas mengemas semua barang-barang dan bergegas mendekati Kris dan Alin. Tak bisa dia berpikir apa pun sekarang. Juga, tak bisa menerima begitu saja meski yang dikatakan Theo itu adalah benar, kalau Kris itu tak level dengannya. Kalau Kris itu lebih cocok bersama Alin.
Lekas Fiona mendekat dan dengan dada membusung berdiri di depan dua orang dewasa itu.
"Mas Kris, siapa dia?" tuding Fiona dengan telunjuk. Tak segan dia memperlihatkan ketidaksukaan pada Alin.
Kris yang memang tahu keberadaan Fiona di rumahnya tampak tak terlalu terkejut. Ini memang rencana Theo. Mereka berencana akan membuat Fiona menyerah dengan obsesi cinta sepihak itu.
"Fio, kamu di sini?" tanya Kris balik.
Akan tetapi, Fiona tak menyahut, dia hanya diam dan menatap sengit Alin yang tersenyum miring. Tampak sekali mencari gara-gara dan Fiona sudah terpancing karenanya. Ingin dia mencakar gusi Alin yang sok cantik di matanya itu.
"Heh Tante genit, jangan deket sama Mas Kris."
"Hah! Apa kamu bilang. Tante genit?" Alin kelabakan sendiri. Niat hati ingin mengintimidasi tapi justru dia yang gerah hati sendiri.
"Heh denger ya bocil." Alin tepis pundak Fiona, lalu sengaja berdiri di tengah-tengah mereka—Fiona dan Kris. "Jaga jarak aman. Ingat itu."
Fiona makin geram, ingin dia maju dan memberi pelajaran pada Alin, tapi keburu Kris menengahi.
"Sudah jangan buat keributan," ucap lelaki berwajah tampan itu. Jakunnya naik turun. Takut kedua wanita di depannya ini membuat keributan.
Alin dan Fiona sama-sama terdiam. Keduanya saling tatap seakan tengah melakukan pertarungan yang tak kasatmata. Kris yang ada di tegah mereka jadi kagok sendiri. Dia tarik lengan Fiona dan menariknya agak menjauh dari Alin.
"Ya, sudah kalau begitu sekalian saja saya perkenalkan kalian. Fiona dia ini Alin, dia ini calon ...."
Lisan Kris tergantung karena Fiona dengan cepat—melebihi kecepatan cahaya—menarik kerah bajunya, lantas berjengket dan mendaratkan sesuatu dengan cepat.
"Fiona! Lo gila!" teriak Theo yang berada di teras.
Akan tetapi Fiona tampak tak menyesal sama sekali. Dia bahkan mengedip satu kali pada Kris, lantas berbisik, "Mas ini ciuman pertamaku. Jadi kamu harus jadi suami aku."
Kris tentulah terbelalak. Sementara Fio, setelah melakukan apa yang di mau dan mengatakan apa yang diinginkan dia pun berlari meninggalkan semua orang yang terbeku.
"Wah wah wah. Dia gila! Dia benar-benar gila!" umpat Theo. Dia mendekati Kris yang terheran dan terbengong-bengong.
"Wah, Dad. Ini gak bisa dibiarin, Dad. Ini pelecehan!"
__ADS_1
Kris yang menyadari ledakan emosi Theo pun melihat sekitar, lalu menariknya.
"Sudahlah, kamu tenang. Gak ada gunanya juga teriak-teriak. Gak enak sama tetangga," balas Kris mencoba menenangkan sang anak tiri, yang sebenarnya dia itu juga butuh ditenangkan. Sebab, setelah sekian tahun bibirnya kembali merasakan sesuatu yang kenyal dan itu membuatnya kalang-kabut menahan debaran di dada. Matanya pun kembali melihat punggung belakang Fiona yang terus berlari hingga hilang di telan belokan komplek.
"Kris, itu gadis yang kamu maksud?" tanya Alin. Dia yang sempat shock hanya bisa terkekeh garing. Melihat seorang remaja seberani itu di depan mata membuat harga dirinya sebagai senior sesama wanita jadi terluka. Fiona terlalu nekat di usia semuda itu.
"Iya, namanya Fiona. Entah apa isi kepalanya itu, tapi aku minta tolong bantu aku, Lin." Kris menatap harap dan dibalas Alin dengan anggukan. Mereka memang teman. Murni teman.
"Oke, telfon aja aku kalau kamu butuh. Ya sudah aku pulang dulu."
Sebelum masuk mobil, Alin sempat menyipitkan matanya. "Oiya, Kris, aku cuma mau bilang pipimu merah."
Spontan Kris memegang pipi, lantas mendesis ke arah Alin yang terbahak-bahak.
"Ngaco! Pulanglah. Nanti aku hubungi lagi."
Sepeninggal Alin, Theo dan Kris pun masuk. Kedua lelaki itu memperlihatkan respon yang berbeda. Theo penuh semangat mengumpat sedangkan Kris hanya diam saja.
"Sudahlah, Theo. Jangan memaki terus. Gak baik," tutur Kris seraya membuka jaket. Dia duduk di sofa dan memperhatikan sang anak tiri yang terus saja mondar-mandir sembari menggerutu.
"Bagaimana bisa tenang, Dad? Dia kurang ajar!" balas Theo dengan nada semakin tinggi.
"Maksud Daddy?" Theo yang penasaran mendekati Kris dan duduk di depannya. "Daddy punya rencana lain?"
Kris menggeleng pelan. "Tapi kayaknya Daddy harus bicara empat mata sama dia. Barangkali dia paham."
"Aku gak setuju!" Theo tiba-tiba berdiri. "Modelan kayak dia itu gak bisa dibaikin, Dad. Nanti ngelunjak."
Alis Kris naik sebelah. "Dari mana kamu tau? Kita kan baru pindah. Belum seminggu."
Dicecar pertanyaan seperti itu membuat Theo gugup sendiri. Dia juga bingung kenapa bisa seemosi itu.
"Daddy liat kamu juga aneh. Selama ini kamu jarang ngomong. Kalau ngomong juga irit. Tapi semenjak kita pindah kamu terus saja mengomel. Apa kamu mulai punya rasa ke dia?"
Telak, pertanyaan yang membuat Theo juga balik bertanya pada diri sendiri. Ada apa gerangan? Kenapa dia bisa semarah itu?
"Ya enggaklah!" Theo kembali berdengkus, dia duduk dan bersedekap. "Aku hanya gak suka. Dia menyebalkan."
"Menyebalkan apa menyebalkan?" goda Kris. Matanya menyipit menyelidik dan itu membuat Theo makin gugup.
__ADS_1
"Dad, itu gak bener, ya. Enggak. Aku gak suka sama cewek gila kayak dia. Ngapain?"
Kini mata Theo justru menyelidik ke Kris. Sebab, gelagatnya terlihat sangat tenang. Bukankah seharusnya marah karena telah dilecehkan? Namun, lihatlah. Kris terlihat biasa saja dan itu mencurigakan menurut Theo.
Bukan tanpa sebab Theo begitu. Selama ini dia tahu betul kalau Kris selalu menjaga jarak dari wanita tanpa terkecuali. Ayah tirinya itu selalu memberi batasan yang jelas dan tak jarang memberi penolakan tegas pada wanita yang mencoba mendekat.
Kini, sang ayah tiri terlihat melunak pada Fio. Dan itu menyisakan tanda tanya besar dalam hati, apakah sang ayah tiri telah tanpa sadar terpesona pada Fiona?
"Kenapa matamu begitu?" tanya Kris. Agak tidak nyaman dia ditatap seperti itu. Tatapan Theo seolah sedang menudingnya telah melakukan hal hina.
"Daddy juga aneh."
"Aneh kenapa?" Alis Kris naik turun.
"Aku lihat Daddy tenang banget. Gak kayak dulu. Apa Daddy juga suka sama dia?"
"Theo! Jangan ngarang."
"Ya habis Daddy terlalu tenang. Gak kayak dulu. Harusnya Daddy tolak mentah-mentah," sungut Theo lagi.
"Ya memang kita harus tenang. Kita gak bisa gegabah. Dan juga, ngadepin Fiona gak bisa disamakan dengan ngadepin orang dewasa. Gak bisa, Theo. Yang ada malah makin runyam nanti masalahnya. Kamu lihat sendiri kan kelakuannya? Dia terlalu percaya diri dan suka berspekulasi. Daddy gak punya kesempatan buat jelasin."
Theo cemberut dan itu membuat Kris menghela napas berat.
"Theo, dengerin Daddy. Daddy begini bukan karena suka. Enggak. Daddy begini karena memang berpikir ini yang terbaik. Kita gak mungkin ngindarin dia terus. Gak bisa."
"Kenapa gak bisa?"
"Kita baru pindah, Theo. Dan Daddy gak mau pindah lagi. Daddy nyaman di sini. Di sini Daddy bisa lebih sering jenguk mommy kamu."
"Dad, come on! Move on! Di luaran masih banyak wanita lain."
"Ya, Daddy tau. Tapi mau move on atau enggak tetap aja Daddy mau tetep tinggal di sini. Maka dari itu kita gak bisa gegabah. Lebih baik selesaikan masalah ini. Intinya Daddy gak mau buat dia sakit hati yang nantinya bakalan buruk ke dia. Kalian gak lama lagi ujian."
"Terserah Daddy. Aku pusing." Setelah mengatakan itu Theo pun berdiri. Dia pergi meninggalkan Kris yang masih setia duduk di sofa ruang tamu.
Saat sedang sendiri tiba-tiba Kris terusik dengan bunyian dari teras. Dia pun beranjak dan mencoba mencari tahu dengan cara mengintip dari balik tirai. Setelah tahu, matanya pun melebar. Bergegas dia membuka pintu dan melihat Fiona sedang mengendap-endap tak ubahnya seperti maling.
"Fiona?"
__ADS_1
Fiona yang ketahuan hanya pasrah. Dia garuk tengkuknya sembari nyengir. "Maaf, Mas. Aku balik lagi ke sini karena Hp ketinggalan."