
"Pak, saya mau nanya. Sebenarnya kualifikasi apa yang Bapak punya sampai sepede itu bilang saya milik Bapak?"
Kris terdiam. Serasa di skakmatt dan merasa diremehkan juga. Ingin dia marah, tapi mencoba menahan diri
"Tapi kamu bilang tadi ...."
"Oh itu." Fiona bersedekap lalu berdiri. Kris pun demikian, ikut berdiri.
"Bukannya tadi kamu bilang ke tante kamu kalau kamu milih saya? Kamu bilang mau nikah sama saya, 'kan?"
"Ih, Bapak mah kepedean. Bapak nggak liat tadi saya kedesak banget. Sengaja aja tadi bilang gitu ke Tante biar nggak egois. Lagian capek diatur-atur. Mana bawa-bawa almarhum. Nggak suka aku." Fiona membungkuk sedikit lalu menyesap es tebu yang dia taruh di kursi tadi hingga ke tetes terakhir, setelah itu mendekati si penjual.
"Mas, es aku Om itu yang bayar ya." Setelah mengatakan itu Fiona pun pergi. Kris yang tak menyangka ditinggalkan segera membayar laku mengejar mensejajarkan diri dengan Fiona.
"Fiona, kamu bercanda kan? Ini kamu serius nolak saya? Maksud saya ... maksud saya kasih saya penjelasan. Kenapa saya ditolak? Apa kamu beneran sayang sama Theo?"
Fiona menggeleng cuek. Langkahnya masih terayun. Suasana taman yang agak ramai buatnya senang. Jadi ingin mengerjai Kris lebih lama.
"Lalu?" tanya Kris lagi.
Fiona cuma menggidikkan bahu. Kris yang kesal karena merasa dipermainkan pun menarik pundak Fiona. Dia kunci pandangan gadis itu.
"Fiona, tolong serius. Bagaimana sebenarnya perasaan kamu ke saya?" tanya Kris. Rahangnya mengatup.
"Kalau Bapak sendiri?"
"Ya apa harus saya katakan lantang? Apa kemaren-kemaren kurang jelas?"
"Ya. Semua itu cuma tersirat aja. Nggak tersurat. Enggak keliatan di mata aku."
Kris mengusap wajahnya kasar. Mukanya merah padam dan Fiona tahu kalau lelaki itu sedang menahan marah berserta malu.
"Fiona, saya nggak pernah bercanda. Sejak saya ngaku di halaman rumah kamu itu saya udah ngerasa gila. Perasaan saya mentok di kamu. Saya bahkan ngelakuin hal lebih gila yang enggak pernah saya lakuin seumur hidup, saya jadi penguntit. Itu semua lantaran saya takut kamu sama Theo macam-macam."
Fiona melotot dengan penuturan itu. "Bukannya Bapak bilang itu karena Theo? Bapak bilang kalau saya bisa kasih Theo pengaruh buruk makanya mau jagain Theo."
"Bukan. Itu karena saya terlalu suka sama kamu jadi enggak ikhlas kamu jalan sama Theo. Saya yang gelisah sendiri. Saya takut kalian khilaf."
"Tapi waktu di mall bapak bilang saya enggak seistimewa itu." Fiona menyelidiki raut muka Kris. Sejujurnya dia merasa berbunga, hanya saja tetap bingung.
"Itu saya minta maaf. Saya bohong. Kamu istimewa makanya saya hampir gila. Saya itu lebih tua dari kamu, terlebih lagi saya itu guru. Jadi nggak mungkin saya ngelakuin hal memalukan dengan cara merebut pacar anak saya sendiri. Puas!" jelas Kris panjang lebar. Persetan dengan harga diri karena sudah kadung emosi. Fiona menguji terlalu sadis.
"Berati Bapak cemburu?" Fiona menggoda. Matanya mengedip.
"Ya, saya cemburu dan hampir gila. Kau tau?" Kris mengatakan itu bernada geram. Tentu saja Fiona merasakan bulu kuduknya meremang. Baru kali ini dia melihat keseriusan dan mendadak ngeri sendiri.
"Saya bahkan mengutuk diri sendiri karena picik. Dan sekarang kamu mau bercanda? Apa saya bahan bercandaan? Theo bahkan mundur. Kamu juga mau permainkan perasan dia?"
Fiona terbeku, tadinya yang ingin bercanda malah jadi mati kata.
__ADS_1
"Sekarang giliran kamu. Sebenarnya kamu itu maunya apa? Kamu suka saya apa enggak? Mau nikah sama saya apa enggak?"
Fiona terdiam.
"Suka saya artinya kita nikah. Saya nggak mau nunggu lagi. Mungkin egois, tapi saya ingin kita nikah segera. Saya akan jaga kamu. Saya akan bertanggung jawab penuh," jelas Kris lagi, nadanya masih sama. Sama-sama terdengar menggeram
"Ok, saya paham kamu bingung dan nggak percaya. Saya banyak salah sama kamu selama ini. Saya nyakitin kamu dengan banyak hal. Nolak kamu dan lain-lain. Tapi percayalah, saya juga tersiksa. Nyimpen rasa sendirian itu enggak enak. Saya hampir gila. Jadi jangan uji kesabaran saya. Saya orangnya selalu menahan, tapi kalau diuji terus saya enggak tau kegilaan apa yang bisa saya lakukan," lanjut Kris. Tangannya yang berada di sisi celana mengepal.
"Kamu dengar saya bicara apa enggak?" tanya Kris lagi.
Fiona yang masih terdiam pun mengangguk pelan. Bola matanya pun terbuka tutup.
"Kalau begitu jawab, kamu mau jadi istri saya apa enggak? Jangan permainkan saya, bisa?" lanjut Kris. Gregetan.
Fiona telan ludahnya yang sudah terasa kelat.
"Kalau saya jadi istri Bapak, apa Bapak sanggup?" tanya Fiona, hati-hati.
Kini Kris yang diam. Dia menelisik.
"Saya muda, otomatis kita beda frekuensi."
"Enggak masalah. Saya akan coba mengerti. Bila perlu berubah jadi satu frekuensi."
Fiona terdiam dan mendadak geli sendiri membayangkan nongkrong sama Kris. Dia pun menggelengkan kepalanya. Merasa aneh jika itu beneran terjadi.
"Kalau saya kuliah?" Fiona menarikturunkan alis.
"Kenapa harus nikah? Bisa aja pacaran dulu."
Untuk hal ini Kris memberinya gelengan kepala tegas. "Saya nggak mau pacaran. Saya sayang kamu dan nggak mau khilaf dikemudian hari. Jadi lebih baik kita nikah. Saya enggak mau berbuat dosa."
Dengan kata lain Kris bilang kebelet nikah. Sayangnya Fiona tak menyadari kode keras tapi halus itu.
"Tapi aku pernah pacaran sama anak Bapak. Apa Bapak bisa nerima itu? Enggak cemburu kalau kami tiba-tiba berduaan."
Kris terdiam. Kali ini mati kata. Tapi sudah kepalang tanggung. Dia yakin Theo nggak akan menusuknya dari belakang. Berbeda halnya dengan Fiona. Gadis ini selalu diluar perkiraan. Jadi jika dia membiarkan Fiona dan tidak mengikatnya, dia takut Fiona malah kepincut mahasiswa lain. Brabe.
"Nggak masalah. Saya percaya Theo. Dia laki-laki sejati," balas Kris mantap. Mata mereka masih bersitatap.
"Sekarang giliran saya yang nanya lagi. Dan kamu harus jawab cepat." Kris melanjutkan kata dan Fiona mengangguk paham.
"Kamu suka Theo?"
"Ya."
"Sudah ke arah cinta?"
"Enggak."
__ADS_1
"Saya tampan?"
"Iya."
"Kamu sudah bisa move on dari saya?"
"Belum."
"Tekan dada kamu."
Bak tengah dihipnotis, Fiona pun menekan dadanya sendiri.
"Apa berdebar kencang?" tanya Kris lagi.
Fiona pun mengangguk.
"Apa kamu ngerasain itu saat saja Theo?"
"Enggak. Tapi aku nyaman dekat dia."
Kris mendekat. Tatapannya mengintimidasi.
"Apa saya tipe suami yang kamu mau?" tanyanya lagi.
Fiona pun mengangguk. "Iya."
"Apa kamu bisa setia?"
"Enggak yakin."
"Ya sudah." Kris keluarkan kotak cincin berbentuk hati. "Terima saya jadi suami atau tidak."
Fiona mengerjap sembari meremas jari tangan. Bingung.
Kris yang melihat kebingungan itu segera membuka kotak cincin dan terpampanglah satu cincin berlian berkilau. Mata Fiona hampir buta karena silau.
"Terima saya ambil cincinnya. Kalau tolak tutup."
Fiona mengerjap lagi. Bibir bahkan dia gigit kecil.
"Saya hitung sampai tiga. Kalau sampai tiga enggak diambil itu artinya kita selesai. Satu dua ...."
Fiona yang tak sempat berpikir segera mengambil cincin dan menyematkan ke jari sendiri. Dia juga bingung kenapa seperti itu. Mendadak takut ditinggal Kris.
Melihat itu bibir Kris pun membentuk seringai licik. Dia acak-acak rambut Fiona.
"Ya sudah kamu milik saya sekarang, kalau begitu kita pulang, kita bicara lagi sama Tante kamu. Saya nggak mau buang waktu."
Fiona yang ada di depan Kris mendadak gondok. Dia pikir akan dilamar bak drama-drama Korea, yang romantis. Lah sekarang dia dilamar seperti ini. Jangankan berlutut, ngomong saja pakai pelototan, sudah gitu ada ancaman.
__ADS_1
"Sialan, gue kalah telak," sungut Fiona. Dia bersungut-sungut di belakang Kris.
Sementara Kris, tersenyum senang. "Dia pikir siapa yang mau dia lawan? Dasar bocah," batin Kris