
"Jadi itu rencananya?" tanya Fio. Nada suaranya naik lebih dari satu oktaf. Tidak hanya itu, matanya yang belo sampai membulat. Murid yang ada di sekitar dibuat berjengket kaget karena teriakan itu.
"Iya, gimana? Pinter kan abang lo ini?" balas Lio. Senyum jemawa terukir jelas di wajahnya yang rupawan.
"I-iya, sih. Tapi ...." Fio menelan ludah. Antara yakin dan tidak sebenarnya.
"Kenapa? Lo meragukan keahlian gue? Gini-gini gue tim basket, Fi. Disegani. Selama ini gak ada yang bisa nolak permintaan gue. Kalo cuma nyuruh Ali buat rayu tu murid songong sih bukan hal berat. Kacang itu .... kacang! You know kacang?"
"Ya elah, bahasa Inggris dapet nyontek aja belagu," cibir Fio lantas berdiri. Dia rapikan seragam serta poni lalu melihat di lorong ada Theo yang sedang berjalan beriringan dengan Ali. Dari posisinya kini dia dan Lio bisa melihat kalau Ali memberinya kode.
"Nah kan, apa gue bilang," tutur Lio. Dia ikut berdiri dan memberikan senyum jahat. "Anak belagu itu masuk jebakan."
Meski tidak yakin Fio anggukkan juga kepalanya. Biar bagaimanapun rencana Lio termasuk brilian. "Ya udah, deh. Kita tunggu pas jam pulang sekolah. Kita eksekusi tu Si Beo belagu."
-
-
-
Akhirnya bel berbunyi lagi, bahkan lebih panjang dari tadi. Menandakan jam pelajaran telah usai untuk hari ini. Tentulah para murid menuju satu tempat, yaitu parkiran.
Namun, berbeda halnya dengan Fio. Dia terus saja membuntuti Theo yang sedang bejalan sendirian menuju toilet. Persis apa yang dikatakan Lio.
Kata Lio, dia sengaja menyuruh Ali dan kawan satu tim lain untuk membujuk Theo agar mau ikut main basket. Mereka bahkan meminjamkan baju tim agar Theo mau ikut bergabung. Dilaksanakannya setelah jam pelajaran selesai, dengan alasan perkenalan dan mencari teman baru.
Nyatanya, itu hanyalah kedok untuk balas dendam. Saat Theo berganti baju, saat itulah Fio beraksi dengan cara membawa lari pakaian cowok itu.
__ADS_1
Sekarang, Fio sedang berusaha melancarkan niat jahatnya. Bak penjahat ulung, dia pun dengan lekat mengawasi Theo dan membuntuti tanpa berkedip. Dia mengendap-endap sembari menengok kanan kiri. Jika Theo berhenti, cepat-cepat dia sembunyi.
Dup-dup-dup!
Fio menekan dada dan bisa dengan jelas merasakan detak jantungnya menggila. Bagaimana tidak, tiba-tiba saja Theo menghentikan langkah dan menoleh ke belakang. Tentulah dia sembunyi di sela tanaman hias.
"Pokoknya gue harus bisa ngerjain dia. Enak aja ngehina gue," gumam Fio yang kembali naik pitam. Dia lirik Theo, senyum jahatnya terukir ketika mendapati cowok itu sudah masuk ke toilet.
Nekat. Fio pun nyelonong begitu saja. Dia juga mengabaikan keterkejutan siswa yang malu-malu menyembunyikan onderdil mereka.
"Heh! Ngapain ma ...."
Lisan salah satu cowok di sana langsung menggantung. Fio dengan berani melototi mereka dan mengacungkan tinju. Bibirnya juga komat-kamit memperingati agar tidak berisik.
Sementara itu, Theo yang tidak tahu menahu menghentikan kegiatannya di dalam situ. Dia mencoba mencuri dengar keributan di luar. Namun, tak ada suara lagi. Dia pikir itu hanyalah gurauan siswa dan kembali melanjutkan kegiatannya membuka celana.
"Woi! Kembalikan baju gue!" teriaknya lantang.
Hanya saja Fio tak menghiraukan. Dengan senyum jemawa dia terus berlari menuju lapangan. Bahkan tanpa canggung membalik badan dan mengejek Theo dengan cara menjulurkan lidah. Dia serasa di atas awan sekarang. Cowok songong yang menghinanya tengah malu tanpa baju.
"Heh, cewek gila! Kembaliin kagak baju gue!" teriak Theo lagi. Memanas hati, kepala juga tubuhnya karena tingkah Fio. Bisa-bisanya membuatnya setengah telanjangg seperti itu.
"Rasain! Makanya idup itu jangan belagu. Tau sendiri akibatnya. Gue Fio. Dan gue gak pernah mau kalah!" balas Fio dengan berteriak pula.
"Lo! Tunggu di situ. Jangan lari!"
Theo kembali mengejar. Tentulah Fio kembali membalik badan hendak berlari. Hanya saja sebuah benturan membuatnya limbung dan mundur beberapa langkah.
__ADS_1
"P-pak Kris?" Lisan Fio tercekat.
Namun keterkejutannya tak hanya sampai di situ. Kris yang sudah memberinya wajah datar langsung mengambil baju yang dia pegang.
"Pak, ini ... ini gak seperti yang Bapak pikirin. Ini ... ini ...."
Tak lama kemudian Theo pun datang. Dengan napas terengah-engah dia tatap Fio yang mematung.
"Heh cewek gila! Lo mau gue tuntut karena mencuri?" sentaknya.
Fio cuma diam, dia menautkan kedua belah tangan. Otaknya bingung mencari alasan agar Kris tidak berpikir yang buruk-buruk tentangnya.
"Hmm, itu ... itu ...."
"Ya sudah, jangan dibesar-besarkan. Sekarang pakai baju kamu," sela Kris. Dia menyerahkan baju dan Theo dengan cepat meraihnya.
"Makasih, Dad."
"Dad?" ulang Fio dengan lantang. Membulat matanya. Dia pun melihat Kris dan Theo secara bergantian.
"Iya. Dia daddy! Dia bokap gue, puas lo!" balas Theo gregetan. Setelahnya pergi begitu saja meninggalkan Fio yang masih shock mematung.
Mata cewek itu begitu nanar menatap Kris tanpa memedulikan Theo yang sudah berlari menuju toilet.
"P-pak, d-dia becanda, 'kan? Gak mungkin dia anak Bapak. Itu ...."
"Dia memang anak saya."
__ADS_1