Sugar Teacher

Sugar Teacher
Perpisahan.


__ADS_3

Hari ke hari berlalu dengan semestinya dan Kris pun meluapkan rasa kesedihan dengan cara mengalihkan ke pekerjaan. Entah itu membaca buku, atau mengoreksi tugas anak-anak didiknya. Intinya dia mencoba mengusir bayang Fiona dari kepala dan membuang keinginan untuk memiliki.


Lusa adalah pembagian amplop. Hari yang paling dinanti siswa kelas dua belas. Semua tidak sabar termasuk Fiona. Karena pembagian amplop wali yang mengambilnya, maka acara perpisahan di lakukan dua hari sebelumnya. Dan dilaksanakan di sekolah. Bahkan pihak sekolah telah membuat panggung besar di halaman.


Fiona dan beberapa kawan memutuskan untuk tampil. Memberi kesan dan membuat kenangan baik baik untuk diri mereka sendiri maupun orang lain. Kesempatan saat ini tidak akan mereka dapatkan lain kali. Kalaupun bisa bertemu di luar, pasti rasanya akan beda.


Suasana di kelas riuh rendah. Masing-masing murid sibuk dengan persiapan sebelum tampil. Sedang di halaman kepala sekolah sedang berpidato. Sangat bersemangat sampai Fiona dan kawan-kawan bisa mendengar suaranya.


Pelan Theo langkahkan kakinya mencari keberadaan Fiona dan mengerjap spontan saat melihat penampilan gadis itu.


"Kenapa dandanan lo kayak cewek kecebur oli begini?" protes Theo. Cowok berseragam putih abu-abu itu spontan garuk kepalanya saat ditatap tajam oleh Fiona, pacarnya itu tengah duduk dan Aulia yang mendandani.


"Diam dulu bisa nggak? Jangan berkomentar. Nggak liat apa gue lagi sibuk pakein cewek lo lipstik, nanti kalau dia ngomong lipstiknya malah jadi berantakan," omel Aulia yang lagi-lagi dibalas Theo dengan gelengan kepala. Cowok itu edarkan kepala dan melihat ada Filio dan Ali di sudut ruangan. Kedua temannya itu sudah berkostum ala-ala pendekar dengan golok mainan yang terselip di pinggang. Rencananya Ali, Lio dan beberapa teman lain akan menampilkan atraksi pencak silat.


"Oke, finish." Aulia tarik kursi agar Fiona bisa berhadapan dengan Theo.

__ADS_1


"Baru kali ini gue bersyukur bukan jadi murid terpintar," oceh Fiona kala melihat penampilan Theo yang biasa. Pasalnya Theo harus terlihat rapi di acara ini, karena memang ditugaskan membacakan pesan dan kesan nanti saat di podium nanti.


Theo yang gemas menjentikkan jari ke dahi Fiona. "Pinter itu penting."


"Ya enggaklah. Di mana-mana yang penting itu budi pekerti, sopan santun dan kejujuran. Ah iya, bersyukur jangan lupa. Biar bahagia, nggak julid sama orang lain dan nggak itu. Jauh dari penyakit hati," balas Fiona tak mau kalah.


Theo yang gemas berancang-ancang akan menjentikkan lagi jarinya, tapi Fiona telah lebih dulu menutup dahi dan melotot.


"Jangan lagi. Kepala ini diberkati, tau?" sungut Fiona.


"Lo yakin mau nampil begini?" tanya Theo lagi.


"Ya iyalah, yang bakalan gue nyanyikan ini lagu lagu rock. Ya kali pakai kebaya, mirip RA Kartini nanti." Ekor mata Fiona mencuri lihat ke arah Aulia yang ada di sebelahnya, lantas tersenyum kecil.


"Jangan nyindir," sambar Aulia. Dia berdengkus lalu membenarkan sanggul yang agak berat. Hari ini dia kebagian baca puisi dan harus memakai kebaya.

__ADS_1


"Eh gue ke sana dulu ya." Aulia menunjuk Filio dan Ali, lantas pergi meninggalkan Theo dan Fiona.


"Heran, udah ditolak tetap aja perhatian," gumam Fiona lalu menggeleng-geleng kepala. sementaranya Theo yang ada di depannya tetap menatap aneh.


"Ehm, kenapa? Gue cantik, ya?" Fiona mengedip genit. Deretan giginya yang tapi menambah kesan cantik.


Namun, Theo tidak.ingin kalah. Dia pun berkacak pinggang. "Ck, jangan kebiasaan menyimpulkan sesuatu sendirian. Kata orang ketimpa tangga itu lebih baik daripada ketimpa perasaan."


"Jadi menurut lo gue nggak cantik?" Wajah manis Fiona berubah dalam sekejap jadi cemberut, hal itu buat Theo gemas dan sengaja membungkuk mensejajarkan tatapan mereka.


"Elo cantik, kok. Seenggaknya di mata gue lo cantik."


***


Aih, baper Mak. aku baper.

__ADS_1


__ADS_2