Sugar Teacher

Sugar Teacher
kurma


__ADS_3

"Iya, kita kencan. Aku yakin kita bisa membangun cemistry yang baik jika jalan berdua."


Bibir Theo mengeriting saat mengikuti ocehan Fiona yang tidak masuk akal. Dia benar-benar tak habis pikir, bisa-bisanya cewek itu mengajak kencan lalu mengatakan dengan mereka berkencan Theo bisa melihat keseriusannya untuk menjadi ibu sambung.


Mengingat pembicaraan itu bergidik seluruh bulu Theo dari atas sampai bawah.


"Dia gila, cewek itu gila. Dia pikir gampang apa jadi ibu," oceh Theo lagi. Dia banting tas di sofa ruang tamu lalu menuju dapur.


Namun ada yang aneh, saat melintasi kamar Kris dia mendapati wajah orang yang disayanginya itu tengah tersenyum sembari menatap ponsel.


"Dad?"


Kris yang tengah melamun agak kaget saat melihat Theo menyembulkan kepala. Bergegas dia mendekatinya


"Kenapa?" tanya Kris. Dia buka lebar-lebar pintu lalu menatap Theo. "Kamu baru pulang?"


Theo mengiakan dengan anggukan. Lalu menatap lekat. Kris yang ditatap seperti itu pun jadi jengah sendiri.


"Kenapa ngeliatinnya sampe begitu? Apa ada yang aneh?" tanya Kris salah tingkah.


Theo lagi-lagi mengangguk. Ya, dia menyadari ada yang tidak beres dari Kris semenjak insiden kepura-puraan mereka yang melibatkan Alin tempo hari. Semenjak itu Kris sering melamun, kadang senyum-senyum sendiri saat melihat ponsel


"Dad, coba jujur ke aku. Daddy sebenarnya punya pacar, 'kan? Atau memang beneran jadian sama Tante Alin?" cecar Theo bak peluru.

__ADS_1


"Ngawur kamu."


Kris melibaskan tangan dan menampik habis-habisan. Di hatinya hanya ada Marwa dan kapan pun akan begitu. Terlebih lagi dia dan Alin murni berteman. Yang membuatnya sering tersenyum adalah pesan-pesan yang Fiona kirimkan. Walaupun hampir keseluruhan tidak direspon tetap saja cewek itu terus menggombal dan ya ... sedikit menghibur hati Kris yang sudah lama gersang.


"Daddy sama Alin cuma temenan, Theo."


"Tapi aku berharap Daddy cepat punya pacar, entah Tante Alin atau yang lain. Aku gak peduli. Aku hanya ingin cewek gila itu berhenti gila."


"Siapa?" tanya Kris. Dia ikuti langkah Theo menuju dapur dan melihat sang anak tiri menghabiskan satu botol air dingin hanya dengan beberapa kali tegukan. Saat ini Kris bisa menyimpulkan bahwa Theo sedang benar-benar kesal.


"Siapa lagi kalo bukan Fio," balas Theo, dia genggam erat botol yang sudah kosong hingga suaranya menggema di sana.


"Fiona? Kok bisa?" Kris yang penasaran memilih duduk.


Menegang tubuh Kris. Lamat dia menatap Theo yang masih saja terlihat kesal. "Kamu serius? Terus terus ...."


"Dia ngajak kencan. Katanya dengan kencan berdua dia bisa buktiin kalau dia layak jadi ibu. Kan gila!" dengkus Theo lagi.


Senyum Kris pun tercipta. Dia Agak lega mendengar alasan kenapa Fiona mengajak Theo kencan. Rasa-rasanya ada semut tak kasatmata menjalar di seluruh tubuh dan membuatnya tidak nyaman. Ya, dia tidak nyaman membayangkan Fiona berkencan sama Theo.


Gila, kenapa rasanya kayak gini? Kayak gak terima. Apa aku cemburu? batin Kris. Lekas dia menatap Theo.


Gak, aku gak cemburu. Rasa ini mengganggu karena takut Theo kehilangan minat belajar. Aku hanya takut dia hanya fokus pacaran. Ya, itu masuk akal, lanjut Kris. Dia tarik sedikit ujung bibir.

__ADS_1


"Jangan dipikirin. Nanti dia juga bosan. Ya sudah mandilah."


Theo menyelisik ekspresi Kris dan merasa ada yang mencurigakan di sini.


"Dad, Daddy lagi gak nyembunyiin sesuatu dari aku, 'kan?" selidik Theo.


"Tentu saja enggak. Apalah kamu ini. Sudah lebih baik lekas mandi. Nanti Daddy siapkan makan malam." Setelah mengatakan itu Kris pun memutar tumit menuju kamar.


Apa aku ngomong aja sama Theo kalau aku dan Fio punya kesepakatan, dia akan nyerah setelah kencan keempat, batin Kris, lantas berhenti. Dia balik badan dan kembali menatap Theo. Anaknya itu melongo beberapa detik.


"Kenapa, Dad?"


"Nggak apa-apa. Ya sudah mandi sana!"


Kris akhirnya mengurungkan niatnya itu. Theo adalah jenis laki-laki pendiam yang selalu teratur hidup. Namun ketenangan itu seakan sirna saat bertemu Fuona. Jadilah Theo begini, tidak sabaran, suka mengumpat dan negatif thinking.


"Ya sudah. Jangan ambil pusing. Lebih baik kamu mandi habis itu makan. Jangan pikirkan dia."


Setibanya di kamar Kris kembali mendengar ponsel bergetar dan itu adalah pesan dari Fiona. Pesan-pesan yang tidak pernah dia balas kecuali urgent.


[Pak, Bapak percaya gak kalau ada kurma yang rasanya gak manis sama sekali.]


Ck, teka-teki dari mana itu? batin Kris

__ADS_1


[KURMA-nangis karena Bapak tidak kunjung membalas perasaanku.]


__ADS_2